Kamis, 23 Desember 2010

CINTA yang membuat aku LUPA....

Pertama. CINTA DUNIA LUPA AKHIRAT



Mari kita sedikit mengingat dan merenung. Seberapa besar cinta kita pada dunia yang fana ini. Tanyakan hal itu pada hati nurani anda. Kebanyakan kita akan menemukan jwaban, bahwa kita lebih mencintai dunia dari pada akhirat. Bukanlah hal yang rahasia lagi, bahwa kehidupan dunia hanya bersifat sementara. Dunia hanyalah temapt persinggahan. Dunia adalah ladang untuk menanam 'pohon amal' untuk dipanen di akhirat. Dunia ini hanyalah panggung sendiwara yang akal berakhir jika Sang Sutradara ingin mengakhirinya.



وما حياة الدنيا الا لهو و لعب ,



"tidaklah dunia ini malainkan sendiwara dan permainan".





Kenapa saya katakan kita lebih mencintai dunia dari pada akhirat?.



Merenunglah….



Berapa banyak uang yang kita habiskan untuk membeli makan dan minuman guna mengisi perut kita yang sejengkal ini?. Berapa banyak waktu yang kita korbankan untuk merawat dan menghias tubuh kita ini. Berapa banyak pakaian yang kita siapkan untuk mempercantik tubuh kita ini?.



Bandingkan…..



Berapa banyak uang yang kita sedekahkan untuk fakir miskin, untuk anak yatim, untuk saudara-saudara kita yang tertindas di Palestina, di Iraq, di Sudan, di Somalia, di seluruh penjuru dunia. Pernah kah kita berdoa untuk mereka?. Agar Allah Swt. meringankan beban yang mereka tanggung. Mereka mengerang kesakitan, sementara kita tertawa girang menikmati suguhan dunia yang menipu. Kita hapal, "Muslim yang satu dengan yanglainnya adalah bersaudara". Tapi hapalan hanya ada dimulut, tapi tak kita amalkan. Kita terlalu egois. Kita terlalu mementingkan kehidupan kita sendiri.





Manusia bukanlah sekedar jasad belaka. Manusia dijadikan sempurna, yang dilengkapi dengan perangkat lain; Ruh dan Akal. Kita telah disibukkan oleh jasad kita. Padalah jasad ini tidak akan dibawa ke akhirat. Kita lupa merawat akal kita. Padahal akallah yang membedakan manusia dan hewan. Kita lupa, bahwa ruh kita yang akan mempertanggung jawabkan seluruh perbuatan jasad ini di akhirat kelak. Wajah yang cantik akan menjadi tanah. Tubuh yang indah akan dimakan cacing. Harta yang banyak tak akan dibawa mati. Anak istri hanya bisa mengantar kita ke depan liang kubur. Tak ada yang kan ikut bersama kita di dalam kubur kecuali amal. Tapi kita selalu lalai. Kita terlalu mencintai dunia, dan lupa pada kehidupan akhirat. Firman Allah Swt



وللآخرةخير لك من الأولى



"Dan sesungguhnya kehidupan akhirat itu lebih baik bagimu dari pada permulaan" (surat Adh-Dhuha; ayat 4)



Imam al-Hafizh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya "Tafsirul Qur'anul 'Azhim" menyebutkan penjelasan ayat ini. "kehidupan akhirat lebih baik dari pada kehidupan sekarang ini, dunia ini". Sekaligus Ibnu Katsir menyebutkan bahwa tauladan kita, Qudwah kita, nabi Muhammad Saw. adalah manusia yang paling zuhud di dunia.



Semoga yang bershalwat pada nabi ketika saya sebut namanya mendapat syafaat di akhirat nanti……… Amiiiiiiiiin!!!



Kemudian dalam lanjutan ayat ini Allah Swt. berfirman:



ولسوف يعطيك ربك فترضى



"Dan kelak tuhanmu pasti akan memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati)mu akan puas". (surat Adh-Dhuha; ayat 5)





Jika akhirat lebih baik dari pada dunia, kenapa kita harus berlomba mengejarnya. "Jika ada yang lebih baik, buat apa yanglain"



Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, dunia ini tak lebih daripada bangkai. Bangkai yang selalu menebarkan bau busuk. Bangkai yang selalu mengganggu pernapasan orang lain. Hanya anjing yang akan berebut untuk memakan bangkai. Jika kita berebut dalam urusan dunia, maka seola-olah kita sedang berebut bangkai. Jika kita ikut berebut bangkai, maka kita adalah ………… (titik-titik).



Anda cari sendiri sambungannya



Yang kedua. CINTA KEHIDUPAN DUNIA LUPA KEMATIAN



Sudah saya sebutkan tadi, hidup di dunia hanya sementara. Usia tidak akan panjang. dari detik menjadi menit. Dari menit menjadi jam. Dari jam terus merangkak menjadi hari. hari pun berganti manjadi minggu. Terus berputar, minggu mnjadi bulan, dan bulan menjadi tahun. Jangan sangka kehidupan yang sedetik itu tidak berharga. Dari detik demi detik lah usia kita semakin berkurang. Jika Allah mentakdirkan usia kita 60 tahun, hitunglah berapa lagi usia yang masih tersisa. Jika saat ini usia anda 19 tahun menjelang 20, dan ternyata Allah memberikan usia bagi anda 19 tahun 11 bulan 29 hari 23 jam 59 menit, 59 detik , hanya tinggal satu detik lagi usia anda akan berakhir. Selanjutnya terserah Allah…..



Berapa banyak orang yang sakit bertahun-tahun tapi masih hidup hingga kini



Berapa banyak orang yang sehat tetapi meninggal di waktu pagi



Tak ada yang bisa menjamin usia kita sampai hingga besok. Bisa jadi nanti malam anda akan mati. Bisa jadi anda tidak akan bisa melihat mata hari terbit besok pagi. Bisa jadi hari ini adalah hari terakhir bagi saya untuk berjumpa dengan anda. Bisa jadi hari ini adalah hari yang paling akhir bagi anda untuk bertemu saya. Saya bukan mankut-nakuti, tapi bisa saja hal itu terjadi, tentunya atas kehendak Allah Swt.



Anak-anak bisa mati



Remaja bisa mati



Dewasa bisa mati



Orang tua apa lagi



Ajal tidak akan pernah membedakan yang tua dan muda. Yang cantik dan yang jelek



Jangan pernah berkata; "nanti jika sudah tua aku akan mulai beribadah". Karena tak ada jaminan usia kita akan sampai tua. Allah berfirman dalah surat al-A'raaf ayat 34:



ولكل أمة أجل فاذا جآء أجلهم لا يستأخرون ساعة ولا يستقدمون



"dan setiap umat ada ajalnya, maka apabila telah datang ajal mereka, tidak dapat dimundurkan walau sesaat, dan tidak dapat pula dimajukan".



Ibnu Abbas menjelaskan ayat ini di dalam tafsir Imam Fakhrurrazy, bahwa maksud ajal disini adalah waktu yang ditentukan oleh Allah untuk memberikan azab bagi kaum yang mendustakan Rasulullah Saw. Kemuadian, sebagian Ulama tafsir ada yang berpendapat bahwa ajal disini adalah umur.



Kemudian, kita dapat melihat kalimat ساعة " " yang berarti saat, atau waktu. Karena sesaat adalah hitungan waktu yang paling kecil, karena itu lah Allah menyebutkan satuan waktu yang paling kecil. Jika dipamahi, maka seolah-olah Allah mengatakan, "Sedikit, atau sedetik atau semili detik pun tidak dapat dimundurkan dan dimajukan".



Jika mati adalah satu ketentuan yang harus kita hadapi, kenap kita tidak memepersipkannya. Jika mati adalah akhir dari kehidupan dunia, kenapa kita tidak bersiap-siap untuk mengakhiri hidup di dunia ini dengan amal.



Abdul Aziz Rantisy, pemimpin perlawanan rakyat Palestina (HAMAS) yang menjadi pengganti Seikh Yasin setelah wafat diterjang rudal Israel hingga berkeping pernah berpidato dalam satu kesempatan. Dalam pidatonya ia mengatakan; "Semua kita akan mati. Baik mati karena penyakit kangker, atau mati karena ditembak rudal dari helikopter apachee. Akan tetapi saya lebih memilih mati ditembak rudal dari apachee", katanya dalam pidatonya. Benar saja, berapa hari setelah pidatonya itu sebuah rudal dari apachee Yahudi menghantam tubuhnya hingga hancur berkeping-keping. Beliau wafat (syahid) menyusul pimpinan sebelumnya sebagai manusia mulia yang dijanjikan sorga bagi mereka.



Saudaraku…!



Jika Rantisy telah bercita-cita dengan memilih cara wafatnya dan ia mendapatkannya, lalu bagaimana kita?. Apakah kita telah bercita-cita mati syahid seperti mereka?. Apakah kita menyangka ajal tidak akan datang menjemput kita?. Atau kita berencana akan berubah besok, lusa, nanti, atau setelah kita tua, padahal kita tidak tahu kapan ajal akan datang. Pilihlah cara mati yang paling baik menurut anda, dan yang anda sukai. Setidaknya kita tidak mati sia-sia seperti mati kodok.



Saudaraku…!



Kebanyakan manusia telah mati dalam keadaan yang sering ia lakukan. Rantisy sebagai pejuang wafat dalam perjuangan. Pemabuk telah mati di pakter tuak. Tentara telah mati di medan juang. Nelayan telah mati di laut. Petani telah mati di sawah. Pebisnis telah mati di kantor. Ahli ibadah telah mati di atas sejadah. Semuanya mati sesuai dengan apa yang sering mereka kerjakan. Semakin sering kita berbuat baik, maka akan banyak kesempatan kita untuk mati dalam keadaan baik, dan sebaliknya



yang ketiga. CINTA RUMAH MEWAH LUPA PADA KUBUR



Lihatlah disekitar kita. Berapa banyak rumah mewah yang bewrdiri angkuh seolah-olah tak ada kekuatan yang bisa menghancurkannya. Beberapa tahun yang lalu di Aceh, berapa banyak ruymah mewah yang hancur hanya dalam hitungan menit. Di Yogjakarta, berapa banguanan kuat dan kokoh runtuh bak sarang semut. Gedung WTC dan gedung pentagon di Amerika, hancur berkeping dalam hitungan jam.





Lalu, apakah para penghuni rumah atau pun gedung mewah itu tetap tinggal disana selamanya?, TIDAK!!!. Rumah mewah telah berubah menjadi kuburan yang gelap tanpa cahaya. Rumah luas itu menjelma menjadi kamar sempit yang menyeramkan. Gedung kokoh yang bersih itu telah menjadi sarang cacing tanah yang kan menggerogoti daging penghuninya.





Allah Swt. menceritakan pada kita dalah surah al-Fajr ayat 6-7, tentang keperkasaan kaum 'Aad; mereka itu adalah penduduk 'Iram yang mampu mendirikan bangunan-banguna tinggi. Yang ketika itu tak ada yang bisa manandingi keperkasaan mereka. Namun di ayat 13 Allah Swt. memberitakan pada kita tentang kehancuran mereka dengan memberikan azab-Nya yang lebih dahsyat.





Rumah kita yang sesungguhnya bukanlah di dunia ini. Masih ada rumah kita yang pasti akan kita datangi, yaitu kuburan. Keburan yang penuh siksa bagi mereka yang tidak beriman dan tidak pula beramal. Rumah yang kita banggakan akan menjadi rebutan. Rumah yang kita impikan akan musnah. Rumah kita yang hakiki adalah akhirat; surga atau neraka.





Dalam kitab "al-Arba'in an-Nawawiyah", hadis nomor 31, dari Abi Abbas, Sahal bin Sa'di as-Saa'idy r.a. berkata: "datang seorang laki pada nabi Saw. lalu berkata; "Wahai rasulullah, tunjukkanlah aku satu amal yang apabila aku mengerjakannya, maka Allah mencintaiku dan manusia pun mencintaiku. Maka Nabi Saw. bersabda; "Zuhudlah kau didunia, maka Allah akan mencintaimu. Dan Zuhudlah kau dalam kehidupan bersama manusia, maka manusia akan mencinatimu". H.R. Ibnu Majah, dan yang lainnya.





Nah, bukan rumah mewah yang menjadikan cinta Allah pada manusia. Akan tetapi zuhudlah yang akan menjadikan cinta itu datang menghampiri kita. Manusia pun akan mencinati kita yang zuhud. Kita berusaha menggapai kecintaan Allah dengan zuhud di dunia, dan kita juga akan menemukan kecintaan manusia disekeliling kita. Zuhud bukan berarti melepaskan kehidupan dunia seluruhnya, akan tetapi zuhud adalah sikap yang tidak menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Hiduplah dengan wajar, seimbang dan setara. Allah Swt. berfirman yang maknanya; "Carilah apa yang telah dikaruniakan Allah padamu dari kehidupan akhirat, tapi jangan lupakan kehidupanmu di dunia".





Yang keempat. CINTA HARTA LUPA HARI PERHITUNGAN



Salah satu bentuk keadilan Allah Swt. adalah hari perhitungan atau yang biasa disebut dengan "yaumul hidab". Allah tidak akan menzhalimi siapa pun dari makhluk-Nya. Jika Allah tidak menghisab amal manusia, maka Dia telah berbuat zhalim, Maha Suci Allah dari perbuatan zhalim. Tidak mungkin sama tempat orang yang berbuat jahat dengan orang yang berjihad. Tidak akan sama penghuni neraka dan penghuni surga. Tidak akan sama derajat orang yang beramal dengan orang yang kafir. Maha Adil Allah dengan semua keputusannya. Semua amal yang telah kita lakukan akan kita pertangung jawabkan di hadapan Ilahi yang Maha Adil. Tak ada hakim yang lebih adil dari pada Dia. Tak ada keputusan yang lebih adil dari pada keputusan-Nya.





Jika seseorang tidak beriman pada hari pembalasan, maka dia akan berbuat sesuka hatinya, karena ia merasa perbuatan yang telah ia kerjakan tidak akan dihitung lagi. Nah, apakah kita termasuk orang yang beriman atau tidak?. Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni setiap hambanya yang bertaubat. Kalaulah bukan karena kasih dan sayang-Nya, maka tak seorangpu yang berhak masuk surga-Nya. Karena tak akan ada amal seorang makhluk pun yang bisa mengimbangi nikmat-nikamt yang telah diberika-Nya. Jika orang yang bermal saja tidak bisa dijaminmasuk surga-Nya, lalu bagaimana orang yang lupa akan hari perhitungan????.





Yang kelima. CINTA MAKHLUK LUPA SANG KHALIK



Jika ada makhluk, pasti ada khalik. Jika ada benda, pasti ada yang menjadikan. Demikian juga dunia dans egala isinya ini. Tidak ada satupun yang terjadi dengan kebetulan. Teori Evolusi Charles Darwin yang mengatakan kehidupan ini tidaklah hasil ciptaan tuhan, tetapi hasil proses yang cukup lama. Sedikit demi sedikit makhluk yang pernah ada berubah bentuk atau berevolusi ke bentuk yang lain. Dari ikan, misal menjadi kadal, dsb. Teori yang bertahun-tahun dipertahankan oleh ilmuan Barat ini telah runtuh oleh keangkuhannya sendiri. Harun Yahya, ilmuan islam yang mengungkap rahasia penciptaan Allah membantah teori Darwin ini. Dalam buku maupun VCD yang telah kita baca dan saksikan mengungkapkan adanya kekuatan yang luar biasa yang mengatur seluruh kehidupan ini. Beliau mencontohkan DNA yang ada dalam darah manusia yang cukup komplit. Mustahil seklai jika kekomplitan itu tidak ada yang mangaturnya. Beliau menegaskan tak ada satuhal pun dalam dunia ini yang terjadi dengan kebetulan. Dimulai dari ledankan dahsyat atau yang dikenal dengan "BIG BANG" sebagai awal bermulanya kehidupan di bumi ini, hingga gambaran-gambaran perjalan sejarah manusia, terekam jelas dalam pemaparan Harun yahya.



Jika secara sains telah dibuktikan bahwa ada satu zat yang Maha Kuasa mengatur dunia ini, kenapa masih saja kita tidak percaya. Dalam al-Qur'an pun Allah banyak berfirman tentang kekuasaan-Nya. Namun orang-orang kafir tidak mengambil pelajaran dari ayat-ayat atau tanda-tanda kekuasaan Allah ini, sehingga mereka masih tetap dalam kekafirannya.





Jika makhluk telah lupa pada Sang Khalik, maka Allah pun akan melupakan makhluk itu. "Ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingatmu. Bersukurlah padaku dan janganlah kamu kufur….", Firman Allah dalam surat Al-baqarah.

Minggu, 19 Desember 2010

NABI MUHAMMAD DALAM INJIL

MUHAMMAD DALAM INJIL

(taken from ahmad deedat's "the choice")



PERTEMUAN BESAR PERTAMAKU

"Katakanlah, 'Terangkanlah kepadaku, bagaimana-kah pendapatmu jika Al-Qur'an itu datang dari sisi Allah, padahal kamu mengingkarinya dan seorang saksi dari Bani lsrail mengakui (kebenaran) yang seru-pa dengan (yang disebut dalam) Al-Qur'an…' "(QS. Al-Ahqaaf: 10)

. Saudara ketua, ibu-ibu dan bapak-bapak, Tema pembicaraan sore ini "Apa Yang Dikatakan In-jil Tentang Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam-tiada keraguan hal ini tentu mengejutkan kebanyakan Anda kare-na pembicara adalah seorang Muslim. Bagaimana bisa ter-jadi seorang Muslim menjelaskan secara terperinci ramalan kitab orang Yahudi dan Kristen?



Sebagai anak muda, sekitar 30 tahun yang lalu, saya menghadiri serangkaian ceramah keagamaan oleh seorang ahli ilmu agama kristen, yang terhormat Pendeta Hiten, pada "Theatre Royal", Durban.

Paus atau Kissinger?

Pendeta yang terhormat ini, menjelaskan secara terpe-rinci ramalan-ramalan Injil. Ia terus membuktikan bahwa kitab Injil meramalkan kebangkitan Sovyet Rusia dan hari akhir. Pada satu tahap ia melanjutkan pembuktian lebih luas bahwa kitab sucinya tidak menghilangkan Paus dari ramalan-nya. Dengan penuh semangat ia berbicara panjang lebar untuk meyakinkan pendengarnya bahwa "Beast 666" yang disebutkan dalam kitab wahyu tersebut -kitab terakhir dari Perjanjian Baru- adalah Paus, pendeta Kristus dibumi. Tidak pantas bagi kita umat Islam untuk ikut dalam pertentangan anfara Katholik Roma dan Protestan ini. Tetapi, penjelasan terakhir orang Kristen mengatakan bahwa "Beast 666" pada kitab Injil adalah Dr. Henry Kissinger.



Sarjana-sarjana Kristen berlakujujur dan tak kenal le-lah dalam usahanya membuktikan kasus mereka. Ceramah Pendeta Hiten membuat saya bertanya jika kitab Injil meramalkan banyak hal -bahkan termasuk "Paus" dan "Israel"- maka tentunya harus ada sesuatu yang menga-takan tentang kedermawanan terbesar dari umat manusia-Nabi suci Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam-. Sebagai pemuda saya mulai mencari jawabannya: Saya menemui banyak pendeta, menghadiri ceramah dan membaca segala sesuatu yang dapat saya hubungkan dengan ramalan Injil. Malam ini saya akan menceritakan kepada Anda satu dari tanya jawab-tanya jawab ini dengan seorang dominee dari Gereja Reformasi Belanda.



Angka Keberuntungan 13

Saya diundang ke Transvaal untuk berbicara pada pe-ringatan Maulid Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saya mengetahui bahwa di propinsi tersebut bahasa Afrika digunakan secara umum, bahkan oleh bangsa saya sendiri, saya merasa harus sedikit belajar bahasa ini, sehingga dapat merasa sedikit seperti di rumah sendiri dengan masya-rakat tersebut. Saya membuka buku petunjuk telepon dan mulai menelpon para pembicara gereja Afrika. Saya menya-takan maksud saya kepada para pendeta bahwa saya tertarik berdialog dengan mereka, tetapi mereka semua menolak per-mintaan saya dengan permohonan maaf yang dapat diteri-ma. Angka 13 adalah angka keberuntungan saya. Telepon ke 13 membuat saya merasa senang dan lega. Van Heerden, seorang dominee, setuju untuk bertemu saya di rumahnya pada Sabtu siang, sehingga saya harus pergi ke Transvaal.



Dominee menerima saya di Beranda dengan sambutan yang bersahabat, dan berkata jika saya tidak keberatan, ia akan senang jika ayah mertuanya yang berasal dari Free State (seorang pria tua berumur 70-an) bergabung dengan kami dalam diskusi. Saya tidak keberatan. Kami bertiga duduk di perpustakaannya. .

Mengapa Tidak Ada?

Saya mengajukan pertanyaan, "Apakah yang dikata-kan Injil tentang Muhammad?" Tanpa ragu-ragu ia menjawab, "Tidak ada!" Saya bertanya, "Mengapa tidak ada? Berdasarkan penafsiran Anda Injil mengatakan banyak hal tentang ke-bangkitan Soviet Rusia dan tentang hari akhir, bahkan ten-tang Paus dari Katholik Roma?"



Dia berkata, "Ya, tetapi tidak ada tentang Muham-mad!" Saya bertanya lagi, "Mengapa tidak ada? Muhammad seorang yang bertanggungjawab membawa jutaan pengikut-nya menjadi sebuah komunitas yang mendunia, yang dengan pengaruhnya, percaya pada: 1. Keajaiban kelahiran Yesus, 2. Bahwa Yesus adalah Mesias, 3. Bahwa dengan izin Tuhan, Ia dapat menghidupkan orang mati, menyembuhkan orang buta sejak lahir dan penderita kusta. Tentunya kitab tersebut (Injil) mengatakan sesuatu ten-tang pemimpin besar manusia ini, yang berkata sangat baik tentang Yesus dan ibunya Maryam?" (Kesejahteraan untuk mereka berdua).



Orang tua dari Free State menjawab, "Anakku, saya telah membaca Injil selama 50 tahun lebih dan jika terdapat sesuatu yang menyinggung tentang Muhammad, saya akan mengetahuinya." 

Tidak Ada Nama Itu

  Saya bertanya, "Menurut Anda, bukankah di dalam Perjanjian Lama terdapat ratusan ramalan sehubungan de-ngan kedatangan Yesus". Dominee menyela, "Bukan ratusan, bahkan ribuan!" Saya berkata, "Saya tidak akan memperdebatkan 1001 ramalan di Perjanjian Lama sehubungan dengan kedatangan Yesus Kristus, karena umat Islam di seluruh dunia telah me-nerimanya tanpa perlu pembuktian dari ramalan Injil mana pun. Kami umat Islam secara defacto telah menerima Yesus dengan pengaruh Muhammad saja, dan saat ini di dunia ter-dapat tidak kurang dari 1000.000.000 pengikut Muhammad yang mencintai, memuliakan dan menghormati utusan Tu-han yang besar ini -Yesus Kristus-tanpa perlu diyakinkan oleh umat Kristen melalui arti Injil dalam dialek bahasa mereka. Dari ribuan ramalan tersebut, dapatkah Anda menunjukkan satu saja ramaian yang menyebutkan nama Yesus? Istilah Mesias yang diterjemahkan Kristus adalah bukan nama teta-pi sebuah sebutan. Adakah sebuah ramalan yang mengata-kan bahwa nama Mesias akan menjadi Yesus dan nama ibunya akan menjadi Maria; bahwa yang seharusnya menjadi ayahnya adalah Yusuf si tukang kayu; bahwa ia akan lahir pada masa pemerintahan raja Hero dan lain-lain?



"Tidak! Tidak ada perincian seperti itu!" jawab Do-minee. Saya bertanya, "Lalu bagaimana Anda menyimpulkan bahwa ribuan ramalan tersebut mengacu kepada Yesus?" 

Apakah Ramalan Tersebut?

Dominee menjawab, "Perhatikan, ramalan adalah ka-ta-kata yang menggambarkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Ketika hal itu terjadi, kita lihat secara nyata pemenuhan atas apa yang telah diperkirakan di masa lalu dalam ramalan-ramalan tersebut." Saya berkata, "Apa yang sebenarnya Anda lakukan adalah bahwa Anda menyimpulkan, mencari alasan, me-nempatkan dua dan dua bersama-sama."



Dia berkata, "Ya." Saya berkata, "Jika ini yang Anda lakukan dengan ribuan ramalan untuk membenarkan pendapat Anda tentang keaslian Yesus, mengapa kita tidak melakukan sistem yang sama untuk Muhammad? Dominee setuju hal tersebut adalah argumen yang adil, alasan yang dapat diterima dalam memperlakukan masalah tersebut. Saya memintanya untuk membuka Ulangan, pasal 18, ayat 18 (kitab kelima dari kitab Yahudi dan Kristen). Saya membaca ayat tersebut berdasarkan ingatan dalam versi Afrika, dengan tujuan sedikit berlatih bahasa yang digunakan bangsa di Afrika Selatan tersebut.



'N Profeet Sal Ek Vir Hulle Verwek Uit Die Midde Van Hulle Broers, Soos Jy Is, En Ek Sal My Woorde In Sy Mond Le, En Hy Sal Aan Hulle Se Alles Wat Ek Hom Beveel Deut. 18:18  

Terjemahannya sebagai berikut:

"Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan mena-ruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya." (In-jil-Ulangan 18: 18)



Nabi Seperti Musa

Saya meminta maaf karena pelafalan yang tidak jelas dalam membacakan versi tersebut dalam bahasa Afrika. Do-minee meyakinkan saya bahwa saya melakukannya dengan baik. Saya bertanya, "Kepada siapa ramalan tersebut dituju-kan?"



Tanpa keraguan sedikit pun dia menjawab, "Yesus!" Saya bertanya, "Mengapa Yesus, namanya tidak dise-but di sini?" Dominee menjawab, "Karena ramalan adalah kata-ka-ta yang menggambarkan sesuatu yang akan terjadi pada masa yang akan datang, kita temukan kata-kata dalam ayat ini cukup melukiskannya. Anda lihat, kata yang paling pen-ting dari ramalan ini adalah Soos Jy Is (like unto thee), -seperti kamu- seperti Musa, dan Yesus seperti Musa. Saya bertanya, "Dalam hal apa Yesus seperti Musa?"



Jawabannya adalah; "Pertama, Musa adalah seorang Yahudi dan Yesus juga seorang Yahudi; Kedua, Musa adalah seorang nabi dan Yesus juga seorang nabi -karena itu Yesus seperti Musa dan itu tepat sekali seperti yang dikatakan Tu-han kepada Musa- Soos Jy Is. "Dapatkah Anda pikirkan persamaan-persamaan lain antara Musa dan Yesus?" tanya saya. Dominee mengatakan ia tidak dapat memikirkan yang lain. Saya membalas, "Jika hanya dua kriteria ini saja untuk menentukan calon dalam ramalan pada Ulangan 18: 18, ma-ka untuk kasus ini kriteria dapat dipenuhi oleh setiap tokoh setelah Musa pada kitab Injil: -Solomon, Yesaya, Ezekiel, Daniel, Hosea, Yoel, Malachi, Yohanes Pembaptis dan lain--lain, karena mereka semua juga seorang "Yahudi" dan "Na-bi". Mengapa tidak menerapkan ramalan tersebut kepada salah satu nabi-nabi ini, dan mengapa harus Yesus? Mengapa kita harus menganggap yang satu ikan sementara yang lainnya unggas?" Dominee tidak menjawab. Saya meneruskan, "Perhatikan, kesimpulan saya adalah Yesus hampir tidak seperti Musa, dan jika salah, saya akan senang jika Anda meluruskan saya."



Tiga Ketidaksamaan

Sambil berkata, saya memberi alasan kepadanya: Pertama, Yesus tidak seperti Musa, karena, menurut Anda "Yesus adalah Tuhan", tetapi Musa bukanlah Tuhan. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee. Dominee menjawab, "Ya." Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa!" Kedua, menurut Anda "Yesus Mati Untuk Dosa-dosa Dunia", tetapi Musa tidak mati untuk hal tersebut. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.



Dia menjawab lagi, "Ya." Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa!" Ketiga, menurut Anda "Yesus Pergi Ke Neraka Selama Tiga Hari", tetapi Musa tidak masuk ke sana. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee. Dia menjawab tanpa perlawanan, "Ya." Saya menyimpulkan, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa" "Tetapi.:.," kata Dominee menyela. Saya lanjutkan dulu, kataku, "ini semua bukanlah fakta yang sukar, kokoh dan nyata. Hal ini adalah persoalan keyakinan belaka di mana seorang awam dapat tersandung dan jatuh. Marilah kita diskusikan sesuatu yang sangat seder-hana, sangat mudah, yang jika orang awam diundang untuk mendengar diskusi tersebut mereka tidak akan kesulitan mengikutinya, bagaimana?" Dominee sangat senang dengan usulan tersebut.



DELAPAN ARGUMEN YANG TAK TERBANTAH



1. Ayah dan Ibu

Musa mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Mu-hammad juga mempunyai seorang ayah dan seorang ibu. Tetapi Yesus hanya mempunyai seorang ibu, dan ayahnya bukan seorang manusia. Apakah hal ini benar?" Dia berkata, "Ya." Saya berkata, "Daarom is Jesus nie soos moses nie, maar Muhummed is soos moses!" artinya: "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa!" (Sejak saat ini pembaca akan menyadari bahwa saya menggunakan bahasa Afika hanya bertujuan untuk latihan. Saya harus menghentikan penggunaannya dalam penjelasan ini).



2. Kelahiran Ajaib

Musa dan Muhammad lahir secara normal dan alami-ah, yaitu melalui percampuran fisik antara seorang pria dan wanita, tetapi Yesus diciptakan dengan sebuah keajaiban isti-mewa. Dalam Kitab Matius 1: 18 "... sebelum mereka (Yusuf dan Maria) hidup sebagai suami istri, ternyata Maria mengandung dari Roh Kudus ..." Dan, Lukas mengatakan bahwa ketika berita gembira atas kelahiran anak suci tersebut diberitahukan kepada Maria, dia memberi alasan: "... bagai-mana hal itu mungkin terjadi, sedangkan aku belum bersuami? Jawab malaikat itu kepadanya, "Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha Tinnggi akan me-naungi engkau...." (Lukas l: 34-35).



Kitab Suci Al-Qur'an menegaskan kelahiran Yesus yang ajaib tersebut dalam istilah yang mulia dan luhur dalam menjawab pertanyaan yang logis dari Maria: "Ya Rabbku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-kipun?"Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah mencipta-kan apa yang dikehendaki Nya. Apabila Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepa-danya: "Jadilah" lalu jadilah dia."(QS. Ali Imran: 47). Bukanlah menjadi keharusan bagi Allah untuk menanam benih pada seseorang atau binatang. Jika Dia menghendaki-nya itu pasti akan terjadi. Ini adalah konsep umat Islam pada kelahiran Yesus. (Ketika saya rnembandingkan versi Al--Qur'an dan Injil tentang kelahiran Yesus kepada pendeta Dunkers, pemimpin masyarakat penginjil, di kota terbesar kami ini, dan ketika saya bertanya, "Versi mana yang lebih Anda sukai untuk diberikan kepada anak perempuan Anda, Al-Qur'an atau Injil?"



Pria tersebut menundukkan kepalanya dan menj awab, "Versi Al-Qur'an." Dengan cepat saya berkata kepada Doominee, "Apakah benar kelahiran Yesus yang ajaib berlawanan dengan kelahiran Musa dan Muhammad yang alami?" Dia menjawab dengan bangga, "Ya!" Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa tetapi Muhammad seperti Musa". Dan, Tuhan berkata kepada Musa pada Ulangan 18: 18 "Like unto thee" (Seperti kamu, seperti Musa) dan Mu-hammad seperti Musa.

3. Ikatan Perkawinan

Musa dan Muhammad menikah dan mempunyai anak, tetapi Yesus tetap menjadi seorang bujangan selama hidupnya. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

 Dominee menjawab: "Ya." Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa"



4.Yesus Ditolak Oleh Kaumnya

Musa dan Muhammad diterima sebagai nabi oleh kaumnya dalam kehidupan mereka. Tidak ada keraguan bahwa orang-orang Yahudi terus menerus memberi kesulitan kepada Musa, tetapi sebagai bangsa secara keseluruhan, mereka mengetahui bahwa Musa adalah utusan Allah yang dikirim untuk mereka. Orang-orang Arab juga membuat kehidupan Muhammad menjadi menderita. Beliau sangat menderita akibat ulah mereka. Setelah 13 tahun berda'wah di Makkah, beliau harus pindah dari kota kelahirannya.



Tetapi sebelum kematiannya, bangsa Arab secara kese-luruhan telah menerimanya sebagai utusan Allah. Tetapi berdasarkan Injil - "Dia (Yesus) datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerimanya." (Yohanes 1: 11). Dan bahkan sampai hari ini, setelah 2000 tahun, kaumnya -orang-orang Yahudi, secara keseluruhan telah menolaknya. "Apakah hal ini be-nar?" saya bertanya kepada Dominee. Dominee berkata, "Ya." Saya berkata; "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa."



5. Kerajaan "Dunia Lain"

Musa dan Muhammad adalah nabi dan juga raja. Nabi berarti seorang manusia yang menerima wahyu untuk me-nunjuki manusia dan menyampaikan petunjuk ini kepada ciptaan Allah seperti yang diterimanya tanpa ada penambah-an atau pengurangan. Raja adalah seorang manusia yang mempunyai kekuasaan atas hidup dan mati rakyatnya. Tidaklah penting apakah orang tersebut mengenakan mah-kota atau tidak, atau apakah dia mengenakan pakaian raja; Jika seseorang mempunyai hak untuk memberikan hukuman mati -Dia adalah raja-. Musa memiliki kekuasaan tersebut. Ingatkah Anda orang Israel yang pada hari Sabbath ditemu-kan sedang mengumpulkan kayu bakar, dan Musa menghu-kum mati orang tersebut dengan dilontari batu? (Bilangan 15: 36). Terdapat tindakan kejahatan lainnya yang disebutkan dalam Injil yang karenanya Musa memberikan hukuman mati pada orang-orang Yahudi tersebut. Begitu juga Muham-mad, beliau memiliki kekuasaan atas hidup dan mati kaum-nya.

Pada Injil terdapat beberapa contoh orang-orang yang hanya diberi kenabian, tetapi tidak dalam posisi untuk mene-rapkan petunjuk mereka. Beberapa orang suci Tuhan yang tidak berdaya menghadapi penolakan yang keras atas pesan yang disampaikan mereka ini adalah nabi Lot, Jonah, Daniel, Ezra dan Yohanes Pembaptis. Mereka hanya dapat menyampaikan pesan, tetapi tidak dapat memaksakan hukuman. Sayangnya nabi suci Yesus juga termasuk kategori ini. Para penginjil Kristen dengan jelas membenarkan hal ini: Ketika Yesus diseret sebelum Gubernur Roma (Pontius Pilate) menuduhnya sebagai pendusta, Yesus membuat sebuah pernyataan meyakinkan dalam pembelaannya untuk menyangkal tuduhan yang salah:



"Jawab Yesus, 'Kerajaanku bukan dari dunia ini; Jika kerajaanku dari dunia ini, pasti hamba-hambaku telah melawan, supaya aku jangan diserahkan kepada orang orang Yahudi, akan tetapi kerajaanku bukan dari sini. " (Yohanes 18: 36). Hal ini meyakinkan Pilatus (seorang penyembah berhala) dengan pemikiran bahwa Yesus tidak sepenuhnya berkuasa atas kemampuan ruhaninya, dia tidak menganggapnya orang yang membahayakan pemerintahan-nya. Yesus hanya menuntut sebuah kerajaan spiritual, dengan kata lain dia hanya menyatakan sebagai seorang nabi. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee.

 Dominee menjawab, "Ya." Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa."



6. Tak Ada Hukum Baru

"Musa dan Muhammad membawa hukum dan aturan baru untuk kaumnya. Musa tidak hanya memberi 10 perintah Allah kepada orang-orang Israel, tetapi hukum-hukum per-ibadatan yang sangat luas sebagai petunjuk kaumnya. Mu-hammad datang kepada sebuah kaum yang sangat bodoh dan biadab. Mereka menikahi ibu tirinya, menguburkan anak perempuannya hidup-hidup, mabuk-mabukan, berzina, menyembah berhala dan berjudi dari hari ke hari. Gibbon melukiskan orang-orang Arab sebelum Islam dalam Decline and Fal1 of the Roman Empire (artinya: Kemunduran dan Keruntuhan Kekaisaran Romawi.), "Kebrutalan manusia, hampir tanpa perasaan, sulit dibedakan keburukannya dari sisa-sisa penciptaan hewan." Sukar mendapatkan sesuatu yang membedakan antara manusia dan hewan pada saat itu. Mereka adalah hewan dalam wujud manusia. Dari kebiadaban yang hina ini, Muhammad meng-angkat mereka, dalam kata-kata Thomas Carlysle, "Menjadi pembawa obor penerangan dan pelajaran. Bagi bangsa Arab ini adalah kelahiran dari kegelapan menjadi cahaya. Untuk pertama kalinya Arab menjadi hidup karenanya. Masyarakat penggembala yang miskin, mengembara tidak dikenal di padang pasir sejak penciptaan dunia. Perhatikan, tidak dikenal menjadi terkemuka di dunia, yang kecil telah tumbuh menjadi dunia besar. Dalam satu abad kemudian Granada telah berada di tangan bangsa Arab dan Delhi di tangannya yang lain. Pandangan sekilas dalam keberanian, kemegahan, dan cahaya kecerdasan, Arab menyinari bagian yang besar dari dunia... " Kenyataannya adalah Muhammad memberi-kan kaumnya sebuah hukum dan peraturan yang belum pernah dimiliki mereka sebelumnya.



Mengenai Yesus, ketika orang-orang Yahudi merasa curiga terhadapnya bahwa ia mungkin seorang penipu de-ngan tujuan menyesatkan ajaran mereka, Yesus mengambil penderitaan untuk meyakinkan mereka bahwa dia tidak datang dengan agama baru. Tidak ada hukum baru dan tidak ada peraturan baru. Saya kutip kata-katanya: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau meniadakan kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu, 'Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi'. "(Matius 5: 17-18).



Dengan kata lain, dia tidak datang dengan hukum atau aturan baru. Dia datang hanya untuk menggenapi hukum lama. Hal inilah yang diberikannya kepada orang-orang Yahudi untuk dimengerti. Kecuali jika ia sedang mencoba menggertak orang-orang Yahudi, agar menerimanya sebagai utusan Allah dan dengan dalih mencoba memasukkan aga-ma baru kepada mereka. Tidak! Utusan Tuhan ini tidak akan pernah berusaha dengan curang untuk menumbangkan aga-ma Tuhan. Dia dengan sendirinya mematuhi hukum. Dia mematuhi perintah-perintah Musa, dan menghormati hari Sabbath. Tidak ada kesempatan seorang Yahudi menunjukkan jari padanya dan berkata, "Mengapa kamu tidak puasa" atau "Mengapa kamu tidak mencuci tanganmu sebelum membelah roti". Yesus menuduh mereka selalu mengatakan bertentangan dengan muridnya, tetapi tidak pernah berten-tangan dengannya. Hal ini karena sebagai seorang Yahudi yang baik, ia menghormati hukum-hukum nabi yang men-dahuluinya. Singkatnya, ia tidak menciptakan agama baru dan tidak membawa hukum baru seperti Musa dan Muham-mad. "Apakah hal ini benar?" Saya bertanya kepada Domi-nee.

 Dan, ia menjawab, "Ya." Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa."



7. Bagaimana Mereka Pergi Musa dan Muhammad meninggal dalam kematian yang wajar, tetapi menurut agama Kristen, Yesus dengan kejam dibunuh di tiang salib. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee. Dominee menjawab, "Ya." Saya menegaskan, "Karena itu Yesus tidak seperti Mu-sa, tetapi Muhammad seperti Musa." .



8. Surga Sebagai Tempat Kediaman Musa dan Muhammad terbaring dikubur dalam bumi, tetapi menurut Anda, Yesus beristirahat di surga. "Apakah hal ini benar?" saya bertanya kepada Dominee. Dominee setuju. Saya berkata, "Karena itu Yesus tidak seperti Musa , tetapi Muhammad seperti Musa."



BUKTI LEBIH LANJUT



Ismail Anak Pertama

Sejak Dominee tanpa daya menyetujui setiap permasa-lahan, saya berkata, "Dominee, sejauh ini yang saya lakukan hanya membuktikan satu point (masalah) dari keseluruhan ramalan. Membuktikan rangkaian kata Like Unto Thee (Seperti kamu - Seperti Musa). RamaIan tersebut lebih ba-nyak dari sebuah ungkapan berikut: "Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperli engkau ini..." Penekanannya pada kata-kata "Dari antara saudara mereka." Musa dan kaumnya, orang-orang Yahudi, di sini ditujukan sebagai satu kesatuan ras, dan sebagai 'saudara' mereka tanpa ragu-ragu adalah bangsa Arab. Perhatikanlah, kitab suci Injil menyata-kan Ibrahim (Abraham) sebagai "Sahabat Tuhan". Ibrahim mempunyai 2 orang istri, Sarah dan Hajar. Hajar melahirkan seorang anak Ibrahim, putra pertamanya. "... dan Ibrahim menamai anak yang dilahirkan Hajar itu Ismail. "(Kejadian 16:15). "Dan, Ibrahrim memanggil Ismail, anaknya.... " (Ke-jadian 17: 23). "Dan, Ismail, anaknya, berumur 13 tahun ketika dikerat kulit khatannya. "(Kejadian 17: 25). Sampai usia 13 tahun Ismail adalah satu-satunya anak dan benih Ibra-him, ketika perjanjian disahkan antara Tuhan dan Ibrahim. Tuhan memberi Ibrahim anak laki-laki melalui Sarah, yang dinamakan Ishak, yang sangat muda dibandingkan Ismail.



bangsa arab dan yahudi

Jika Ismail dan Ishak adalah anak dari ayah yang sama (Ibrahim), maka mereka adalah kakak beradik. Karena itu, anak dari salah seorang mereka adalah saudara dari anak yang lain. Keturunan Ishak adalah bangsa Yahudi dan ketu-runan Ismail adalah bangsa Arab jadi mereka bersaudara satu sama lain. Injil menegaskan "...Dan, dia (Ismail) akan menentang semua saudaranya." (Kejadian 16: 12). "Dan, dia (Ismail) wafat dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya." (Kejadian 25: 17). Anak-anak Ishak adalah saudara dari keturunan Ismail. Dengan cara yang sama Muhammad ber-asal dari saudara bangsa Israel, karena dia adalah keturunan anak Ismail putra Ibrahim. Hal ini tepat sekali dengan ra-malan tersebut: "... dari antara saudaramu" (Ulangan 18: 18). Ramalan itu dengan jelas menyebutkan nabi yang akan datang yang seperti Musa, harus tidak berasal dari anak-anak Ismail atau di antara mereka sendiri, tetapi berasal dari antara saudara mereka. Karena itu Muhammad berasal dari saudara mereka.



Firman dalam Mulut

Lebih jauh ramalan mengatakan, "... dan Aku akan menaruh fuman-Ku dalam mulutnya..." Apakah artinya jika dikatakan, "Saya akan menaruh firman saya dalam mulut Anda?" Perhatikan, ketika mula-mula saya meminta Anda (Dominee) untuk membuka Ulangan 18: 18 dan jika saya meminta Anda untuk membacanya, lalu Anda telah mem-bacanya, apakah itu berarti saya telah menaruh firman saya dalam mulut Anda?" Dominee menjawab, "Tidak." Tetapi, saya melanjutkan, "Jika saya mengajari Anda sebuah bahasa yang Anda tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, seperti bahasa Arab, dan bila saya meminta An-da untuk membaca atau mengulangi sesudah saya, apa yang saya ucapkan; yaitu:



"Katakanlah, 'Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula dlperanak- kan. Dan, tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.' (QS. Al-Ikhlas: 1-4).



Tidakkah saya sedang menaruh kata-kata asing yang belum pernah didengar dan telah kamu ucapkan, ke dalam mulut Anda?" Dominee tentu saja setuju. Dengan cara yang sama, saya berkata; "Kata-kata kitab suci Al-Qur' an, wahyu yang diberikan oleh Tuhan Yang Ma-ha Kuasa kepada Muhammad diungkapkan."



Sejarah menyatakan bahwa Muhammad ketika itu ber-usia 40 tahun. Ia berada dalam sebuah gua kira-kira 3 mil ke utara dari kota Makkah. Hari itu adalah malam ke 17 bulan Ramadhan . Dalam gua malaikat Jibril memerintahkannya dalam bahasa daerahnya: "`Baca!" atau 'nyatakan!' atau 'bawakan!"' Muham-mad ketakutan dan dalam keadaan kebingungan menjawab: "Saya tak dapat membaca!" Malaikat memerintahkan untuk kedua kalinya dengan hasil yang sama. Pada yang ke-tiga kalinya malaikat melanjutkan:



Barulah Muhammad mengerti apa yang harus dilakukannya hanyalah mengulangi untuk berlatih. Dan dia mengulangi kata-kata yang ditaruh dalam mulutnya: "Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari se-gumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah YangMaba Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketabuin,ya." (QS. Al-'Alaq: 1-5). Ini semua adalah ayat pertama yang diwahyukan kepa-da Muhammad, yang sekarang merupakan permulaan surat ke 96 (Al-'Alaq) dari Al-Qur'an.



Kesaksian Orang-orang Yang Beriman

Segera setelah malaikat pergi, Muhammad berlari ke rumahnya. Dengan ketakutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, beliau meminta istri tercintanya, Khadijah, untuk menyelimutinya. Beliau berbaring, dan istrinya meman-danginya. Ketika telah tenang kembali, Muhammad menje-laskan kepada istrinya apa yang telah dilihat dan didengar-nya. Khadijah meyakinkannya bahwa ia percaya kepada Muhammad dan bahwa Allah tidak akan membiarkan hal mengerikan seperti itu terjadi padanya. Apakah ini semua adalah pengakuan seorang penipu? Apakah penipu mengaku bahwa ketika seorang malaikat mendatangi mereka dengan pesan dari Yang Maha Tinggi, mereka menjadi kuatir, keta-kutan dan berkeringat seluruh tubuhnya, lari ke rumah menu-ju istrinya? Setiap kritikus dapat melihat bahwa reaksi dan pengakuannya ini adalah dari seorang yang jujur dan tulus, manusia kebenaran -Al Amin- yang jujur, yang tulus dan yang dapat dipercaya.



Selama 23 tahun berikut dalam hidup kenabiannya, kata-kata tersebut 'ditaruh dalam mulutnya' dan beliau mengucapkannya. Kata-kata tersebut memberi pengaruh yang tak terhapuskan dalam hati dan pikirannya; dan ketika jumlahnya bertambah, kata-kata suci tersebut dicatatnya pa-da daun, kulit dan tulang belikat hewan, serta di dalam hati murid-murid yang tekun. Sebelum kematiannya, kata-kata ini disusun dalam urutan seperti yang dapat kita temukan saat ini dalam Kitab Suci Al-Qur'an. Kata-kata wahyu tersebut benar-benar ditaruh di dalam mulutnya; tepat seperti dikatakan dalam ramalan pada diskusi, "Dan Aku akan menaruh Firman-Ku dalam mulutnya." (Injil - Ulangan 18: 18)

Nabi Yang Ummi

Pengalaman Muhammad di dalam gua Hira, kemudi-an dikenal sebagai Jabal Nur, dan reaksinya terhadap wahyu pertama benar-benar memenuhi ramalan Injil yang lain. Pada kitab Yesaya 29:12, kita baca: "Dan apabila kitab itu" (Al-kitab, Al-Qur'an - 'pembacaan', 'pembawaan') "diberi-kan kepada seorang yang tidak dapat membaca" Nabi yang ummi, Al Qur'an surat Al-A'raf ayat 158, dengan mengatakan, "Baiklah baca ini, Saya berdo'a untuk kamu" (Kalimat: "Saya berdo'a untuk kamu" tidak ada dalam nas-kah Yahudi, bandingkan dengan Katholik Roma "versi Douay" dan juga dengan "versi standar yang sudah direvisi", Revised Standard Version) "Dan ia akan menjawab, 'Aku tidak dapat membaca'. " "Aku tidak dapat membaca!" adalah terjemahan yang tepat dari kata-kata yang di-ucapkan 2 kali oleh Muhammad kepada Roh Kudus, Malaikat Jibril, ketika dia memerintahkan ("Baca!").



Izinkan saya mengutip ayat tersebut secara lengkap tan-pa terpotong seperti pada "versi King James" atau "versi yang telah disahkan" yang lebih terkenal:

and the book is delivered to him that is not learned, saying, read this, i pray thee: and he saith, i'm not learned (yesaya 29: 12)

"Dan, apabila kitab itu diberikan kepada seorang yang tidak dapat membaca dengan mengatakan, 'Baiklah baca ini, saya berdo'a untuk kamu', maka ia akan menjawab, 'Aku tidak dapat membaca'." (Injil - Yesaya 29: 12)

Yang perlu diperhatikan adalah belum ada Injil berba-hasa Arab pada abad 6 Masehi, ketika Muhammad hidup dan berda'wah. Disamping itu beliau benar-benar tidak dapat membaca dan menulis. Tak ada seorang manusia pun yang pernah mengajarinya sebuah kata. Gurunya adalah pencipta-nya :



"Dan, tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Qur'an) me-nurut kemauan hawa nafsunya. Ucapan itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. " (QS. An-Najm: 3-5)



Tanpa pengajaran dari seorang manusia pun, ia mem-buat malu orang-orang yang berpengetahuan.



Peringatan Penting

"Perhatikan!" Saya berkata kepada Dominee, "Bagai-mana ramalan tersebut cocok sekali dengan Muhammad. Kami tak perlu menjabarkan ramalan agar terpenuhi dalam diri Muhammad."



Dominee membalas, "Semua penjelasan Anda terde-ngar sangat baik, tetapi itu semua tidak mempunyai konse-kuensi yang nyata, karena kami umat Kristen memiliki Yesus Kristus sebagai reinkarnasi Tuhan, yang menyelamatkan kami dari perbudakan dosa!" Saya bertanya, "Tidak penting?" Tuhan tidak menganggap demikian! Dia mengalami banyak kesulitan agar peringatannya diingat. Tuhan tahu bahwa akan ada orang-orang seperti Anda yang dengan ke-pandaian berbicara, dengan senang akan mengurangi kata--katanya, sehingga dia melanjutkan Ulangan 18:18 dengan peringatan yang menakutkan: ayat terdekat berikutnya, "Dan, hal tersebut akan terjadi". "Orang yang tidak mende-ngarkan segala Firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, daripadanya akan Kutuntut pertanggungja-waban." (Pada Injil Katholik kata-kata terakhirnya adalah --"Aku akan menjadi pembalas dendam"- Aku akan memba-las untuknya - Aku akan membalasnya!) "Apakah hal ini tidak menakutkanmu? Tuhan Yang Maha Kuasa sedang, mengancam pembalasan dendam! Nafas kita terengah-engah jika beberapa penjahat mengancam, tidakkah kamu takut pada peringatan Tuhan?"



"Ajaib dari keajaiban-keajaiban!" Pada Ulangan 18:19 kita mendapatkan pemenuhan lebih jauh pada diri Muhammad! Perhatikan kata-kata, "... firman-Ku yang akan diucapkan Nabi itu dengan nama-Ku," "Atas nama siapa Muhammad berbicara?" Saya membuka Kitab Suci Al-Qur-'an -terjemahan Ustadz Yusuf Ali, pada surat 114, Surat An-Naas, atau 'Manusia'- surat terakhir, dan menunjukkan pada Dominee formula di atas, surat tersebut: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." Dan di atas surat 113: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." Dan setiap surat sebelumnya 112, 111, 110, . . . . . formula dan artinya sama untuk setiap halaman, karena akhir surat-surat akhir adalah pendek dan masing--masingnya kira-kira hanya satu halaman. "Dan apa yang diinginkan ramalan tersebut?'... yang akan diucapkan dia (nabi itu) dengan nama-Ku' dan atas nama siapa Muhammad berbicara? 'Dengan nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.' Isi ramalan tersebut terpenuhi dalam diri Muhammad.



"Setiap surat dalam Al-Qur'an kecuali surat ke 9 (At-Taubah) dimulai dengan formula: "De-ngan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang." Umat Islam memulai setiap kegiatan yang sah menurut hukum dengan formula suci. Tetapi umat Kristen memulai: "Dengan nama Bapak, Anak dan Roh Kudus." Memperhatikan Ulangan bab 18; saya telah memberi-kan kepada Anda lebih dari 15 alasan bagaimana ramalan tersebut ditujukan kepada Muhammad bukan Yesus.



PERJANJIAN BARU JUGA MEMBENARKAN



Baptis Bertentangan Dengan Yesus Pada Perjanjian Baru, kita temukan bahwa orang--orang Yahudi masih mengharapkan terpenuhinya ramalan "Seorang seperti Musa", lihat Yohanes 1:19-25. Ketika Ye-sus menyatakan sebagai Mesias dari orang-orang Yahudi, mereka mulai bertanya dimana Elia? Orang-orang Yahudi mempunyai sebuah ramalan paralel bahwa sebelum keda-tangan Mesias, Elia harus datang terlebih dahulu pada keda-tangannya yang kedua. Yesus menyatakan kepercayaan Yahudi ini:



"... Memang Elia akan datang dan memulihkan segala sesuatu dan Aku berkata kepadamu, 'Elia sudah datang, tetapi orang tidak mengenal dia',… Pada waktu itu mengertilah murid-murid Yesus bahwa Ia berbicara tentang Yohanes Pembaptis." (Injil - Matius 17: 11-13) Menurut Perjanjian Baru, bangsa Yahudi bukanlah orang-orang yang menerima begitu saja kata-kata siapa pun yang akan menjadi Mesias. Dalam penyelidikannya mereka mengalami kesulitan yang hebat dalam menemukan Mesias yang benar. Dan, kitab Yohanes menyatakan, "Dan inilah kesaksian Yohanes," (pembaptis) "Ketika orang Yahudi dari Yerusalem mengutus beberapa imam dan orang orang Lewi kepadanya untuk menanyakan dia, 'Siapakah engkau?' Ia mengaku dan tidak berdusta, katanya, Aku bukan Mesias'." (Hal ini wajar karena tidak mungkin ada 2 Mesias pada saat bersamaan. Jika Yesus adalah Mesias maka Yohanes tidak mungkin Mesias!)



Dan, mereka bertanya kepadanya, "Kalau begitu, sia-pakah engkau? Elia?" Dia menjawab, "Bukan!" Di sini Yohanes Pembaptis bertentangan dengan Yes-us! Yesus menyatakan bahwa Yohanes adalah Elia dan Yohanes menyangkal bahwa dia adalah yang dimaksud oleh Yesus. Satu dari dua (Yesus atau Yohanes) dilarang Tuhan! Benar-benar tidak berbicara kebenaran. Pada kesaksian Yesus sendiri, Yohanes Pembaptis adalah nabi terbesar bangsa Israel: Aku berkata kepadamu, "Sesungguhnya di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis...." (Injil - Matius 11: 11)



Kita umat Islam mengetahui bahwa Yohanes Pembap-tis adalah Nabi Yahya Alaihis-salam. Kita memuliakannya sebagai nabi yang benar dari Allah. Nabi Suci Yesus, kita kenal sebagai Isa Alaihis-salam, dia juga dimuliakan sebagai utusan yang hebat dari Yang Maha Kuasa. Bagaimana kami umat Islam menyatakan salah satu dari mereka berbohong? Kita tinggalkan masalah antara Yesus dan Yohanes agar dipe-cahkan oleh umat Kristen, karena kitab suci mereka me-ngandung banyak ketidak sesuaian yang telah mereka sembunyikan sebagai "pernyataan gelap tentang Yesus". Kami umat Islam sangat tertarik dengan pertanyaan terakhir yang ditujukan kepada Yohanes Pembaptis oleh orang-or-ang Yahudi, "Engkaukan Nabi itu? Dia menjawab, "Bukan!" (Injil - Yohanes 1: 21)

Tiga Pertanyaan

Silahkan perhatikan bahwa terdapat 3 pertanyaan yang jelas dan berbeda, ditujukan kepada Yohanes Pembaptis dan 3 buah jawaban "tidak" yang tegas dari Yohanes. Sebagai ikhtisar: l. Apakah engkau Mesias? 2. Apakah engkau Elia? 3. Apakah engkau nabi itu? Tetapi umat Kristen yang berpengetahuan, entah ba-gaimana hanya melihat 2 pertanyaan diterapkan di sini.Un-tuk menjelaskan keragu-raguan bahwa orang-orang Yahudi benar-benar mempunyai tiga ramalan terpisah dalam fikiran mereka ketika mereka menanyai Yohanes Pembaptis. Mari kita baca bantahan orang-orang Yahudi, pada ayat-ayat berikut: .



"Mereka bertanya kepadanya, katanya, 'Mengapa engkau membaptis, jika engkau bukan Mesias, bukan Elia dan bukan nabi itu?" (Injil - Yohanes 1: 25) Orang-orang Yahudi sedang menunggu terpenuhinya 3 ramalan yang jelas: Pertama, kedatangan Mesias. Kedua, kedatangan Elia dan ketiga, kedatangan nabi itu.

"Nabi Itu"

Jika kita lihat Injil manapun yang mempunyai indeks atau referensi silang, maka kita akan menemukan dalam catatan pinggir pada halaman dimana kata-kata "Nabi Ter-sebut" atau "Nabi Itu" dalam Yohanes 1: 25 bahwa kata-ka-ta ini mengacu pada ramalan di ulangan 18:15 dan 18. Dan, bahwa "Nabi Itu" - "Nabi Seperti Musa" - 'Like unto Thee' telah dibuktikan dengan bukti yang berlimpah bahwa Ia itu adalah Muhammad dan bukan Yesus!



Kami umat Islam tidak menyangkal bahwa Yesus ada-lah "Mesias", yang diterjemahkan sebagai "Kristus". Kami tidak mempertentangkan "ribuan dan satu ramalan" yang banyak dikatakan umat Kristen pada Perjanjian Lama yang meramalkan kedatangan Mesias. Apa yang kami katakan adalah Ulangan 18:18 tidak mengacu pada Yesus tetapi itu adalah sebuah ramalan yang jelas tentang Nabi Suci Muham-mad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dominee, dengan sangat sopan berpisah dengan saya sambil mengatakan bahwa ini adalah diskusi yang sangat me-narik dan dia akan sangat senang jika suatu hari saya datang dan berbicara kepada jamaahnya dengan tema tersebut. Satu setengah dasawarsa telah berlalu sejak itu, tetapi saya masih tetap menunggu hak tersebut. Saya yakin Dominee bersung-guh-sungguh sewaktu dia menawarkan, tetapi dia mungkin keras kepala dan siapa yang mau kehilangan domba-dom-banya?

Ujian Pahit

Kepada domba-domba kristus saya berkata, "Mengapa tidak menerapkan ujian pahit yang Tuhan kehendaki sendiri agar diterapkan kepada siapa saja yang akan menjadi penuntut kenabian?" Dia telah berkata: "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka. Dapatkah orang memetik buah anggur dari semak duri atau buah ara dari rumput duri? Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik… dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (Injil - Matheus 7: 16-20).



Mengapa Anda takut menerapkan uji coba ini terha-dap ajaran Muhammad? Kamu akan mendapatkan dalam Perjanjian Lama Tuhan - Kitab Suci Al-Qur'an- pemenuhan ajaran Musa dan Yesus yang benar, yang akan membawa kebahagian dan kedamaian yang diinginkan kepada dunia. "Jika seorang manusia seperti Muhammad dianggap kediktatoran dunia modern, dia akan berhasil memecahkan masalah-masalah yang akan membawa dunia kepada kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan." (George Bernard Shaw)



Yang Teragung

Majalah mingguan "TIME" edisi 15 Juli 1974 memuat opini-opini pilihan dari sejumlah sejarawan, penulis, kaum militer, pengusaha dan lainnya tentang masalah-masalah: "Siapa pemimpin besar dalam sejarah?" Beberapa mengata-kan, Hitler; lainnya mengatakan, Gandhi, Budha, Lincoln dan yang disenangi lainnya. Tetapi Jules Masserman, se-orang psikoanalis Amerika, membuat batas yang tegas dan memberi kriteria yang benar untuk menilai. Dia berkata, "Pemimpin harus memenuhi 3 fungsi: 1. Menyediakan petunjuk yang mensejahterakan, 2. Menyediakan sebuah organisasi sosial di mana rakyat merasa relatif aman, dan 3. Menyediakan mereka satu set keyakinan."



Dengan 3 kriteria di atas dia meneliti sejarah dan meng-analisanya: Hitler, Pasteur, Caesar, Musa, Confucius dan banyak lagi dan akhirnya menyimpulkan: "Orang-orang seperti Pasteur dan Salk adalah pemim-pin pada pengertian pertama. Orang-orang seperti Gandhi dan Confucius pada satu sisi serta Alexander, Caesar dan Hitler pada sisi lain adalah pemimpin pada pengertian yang kedua dan mungkin yang ketiga. Yesus dan Budha hanya masuk pada kategori ketiga saja. Bolehjadi pemimpin terbe-sar sepanjang masa adalah Muhammad, seorang yang meng-gabungkan ketiga fungsi tersebut, sedangkan untuk tingkatan yang lebih rendah adalah Musa.



Berdasarkan standar obyektif yang dibuat Profesor Universitas Chicago, yang saya yakin adalah seorang Yahudi, Yesus dan Budha tidak termasuk dalam gambaran "Pemim-pin-pemimpin besar umat manusia", tetapi dengan sebuah kebetulah yang aneh, grup Musa dan Muhammad bersama--sama menambah bobot lebih jauh terhadap argumen bahwa Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa: Ulangan 18: 18 Like unto Thee -Seperti Musa! Yang terhormat Pendeta James L. Dow dalam Collins Dictionary of the Bible memberi bukti lebih jauh, bahwa Yesus tidak seperti Musa, tetapi Muhammad seperti Musa: "Sebagai negarawan dan pemberi hukum, Musa adalah pencipta orang-orang Yahudi. Dia menemukan percampur-an yang tidak tepat dari bangsa Semit, tidak ada satu pun dari.... "Satu-satunya orang dalam sejarah yang dapat dibandingkan kepadanya adalah Muhammad." (Pendeta James L. Dow)



Sebagai kesimpulan, saya akhiri dengan sebuah kutipan dari seorang pendeta Kristen, komentator Injil, yang kemudian diikuti perkataan Tuhannya: "Kriteria utama dari nabi yang benar adalah karakter moral pengajarannya." (Prof. Dummelow ) "Dari buahnya kita akan mengetahui mereka." (Yesus Kristus)



Marilah Kita Bermusyawarah Bersama-sama

"Katakanlah, 'Hai Ahli kitab, marilah (berpegang) ke-pada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesutu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang Iain sebagai sesembahan selain Allah'. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mere-ka: 'Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)'." (QS. Ali 'Imran:64)



"Ahli kitab" adalah sebutan penghormatan yang dibe-rikan kepada orang-orang Yahudi dan Kristen di dalam Kitab Suci Al-Qur'an. Di sini umat Islam diperintahkan untuk mengajak -"Hai Ahli kitab!"- Hai orang-orang yang berilmu! Hai orang-orang yang menyatakan sebagai penerima wahyu, kitab suci; Marilah bermusyawarah bersama-sama mencapai konsep yang sama - "bahwa kita beribadah tidak kepada yang lain kecuali Allah, karena tidak ada selain Allah yang layak untuk disembah, bukan karena "…Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan Bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku." (Injil - Keluaran 20:5) Tetapi karena dia Tuhan dan pemberi harapan kita, penyu-sun dan pendukung kita, patut untuk semua pujian, doa dan ketaatan.



Secara abstrak orang-orang Yahudi dan Kristen akan setuju terhadap ketiga hal di dalam ayat Al Qur'an itu. Dalam prakteknya mereka gagal. Terlepas dari penyelewengan ajar-an dari kesatuan atas satu Tuhan yang benar (Allah Subha-nahu wa Ta'ala) ada pertanyaan tentang kependetaan suci, (hal inijuga diturunkan di antara kaum Yahudi), seperti jika seorang manusia belaka -Cohen, atau Paus, atau Pendeta, atau Brahma- dapat menyatakan keunggulan terpisah dari pengetahuan dan kemurnian hidupnya, atau dapat berdiri di antara manusia dan Tuhan dalam beberapa pengertian khusus. Islam tidak mengenal kependetaan.



Keyakinan Islam diberikan kepada kita di sini dalam sebuah bentuk singkat:

"Katakanlah (hai orang orang mu'min), 'Kami ber iman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan 'Isa serta apa yang diberi-kan kepada nabi-nabi dari Rabbnya. Kami tidak mem-beda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya'." (QS. Al-Baqarah: 136).



Posisi umat Islam jelas. Seorang Muslim tidak menya-takan mempunyai sebuah agama khusus untuk dirinya sendiri. Islam bukanlah agama suatu golongan atau etnis. Dalam pandangannya semua agama adalah satu, karena ke-benaran adalah satu: Islam adalah agama yang sama dengan agama yang telah disampaikan oleh nabi-nabi terdahulu. (QS. Asy-Syuura: 13). Semua kitab-kitab tersebut mengajar-kan kebenaran. Intinya adalah kesadaran akan kehendak dan rencana Allah serta ikhlas dalam ketaatan atas rencana itu. Jika seseorang menginginkan sebuah agama selain itu, dia menyalahi kodratnya, dan menyalahi keinginan dan rencana Allah. Seperti tidak seorang pun dapat mengharap petunjuk, padahal ia dengan pertimbangan mendalam telah mening-galkan petunjuk.

Mengapa dan ada apa Al quran berbahasa Arab?

Setiap saat, lahir orang-orang alim yang mampu menghapal isi kandungan Kitab Suci Al-Quran. Hatta, orang buta atau anak kecil. Itulah bedanya dengan Kitab Suci lain [Lanjutan Universalitas Al-Qur’an bagian 2- habis]
Oleh: Qasim Nursheha Dzulhadi)“Mengapa Al-Quran diturunkan kepada seorang Nabi yang miskin dan buta huruf (ummiy)? Mengapa tidak diberikan kepada pembesar Mekkah maupun Tha’if saja?” Pertanyaan seperti ini sering terjadi. Sama hal nya dengan pernyataan, “Mengapa Al-Qur’an berbahasa Arab?”
Banyak dalil yang mengungkap hal ini. Diantaranya; QS. 12: 2, 14: 4, 13: 37, 16: 103, 19: 97, 20: 113, 26: 193-195, 26: 198-199, 39: 28, 41: 3, 41: 44, 43: 3, 44: 58, dan 46 : 12.
Boleh dikata, hampir semua ayat tersebut menyatakan, bahwa Al-Qur’an itu diturunkan dalam “bahasa Arab”. Adalah keliru jika karena Allah menurunkan Al-Quran ke dalam bahasa Arab kemudian dikatakan “tidak universal”.
Kenapa Allah memilih bahasa Arab? Bukan bahasa lain? Barangkali itu adalah hak Allah. Meski demikian, pilihan Allah mengapa Al-Quran itu dalam bahasa Arab bisa dijelaskan secara ilmiah.
Pertama, sampai hari ini, bahasa yang berasal dari rumpun Semit yang masih bertahan sempurna adalah bahasa Arab. Bahkan Bible (Old Testament) yang diklaim bahasa aslinya bahasa Ibrani (Hebrew) telah musnah, sehingga tidak ada naskah asli dari Perjanjian Lama.
Meskipun begitu, menurut Isrâ’il Wilfinson, dalam bukunya Târîk al-Lughât al-Sâmiyyah (History of Semitic Language), seperti yang dikutip Prof. Al-A‘zamî, ternyata bahasa asli PL itu tidak disebut Ibrani.
Bahasa pra-pengasingan (pre-exilic language) yang digunakan oleh Yahudi adalah dialek Kanaan dan tidak dikenal sebagai Ibrani. Orang-orang Funisia (atau lebih tepatnya, orang-orang Kanaan) menemukan alfabet yang benar pertama kali ± 1500 S.M, berdasarkan huruf-huruf ketimbang gambar-gambar deskriptif.
Semua alfabet yang berturut-turut seterusnya adalah utang budi pada, dan berasal dari, pencapaian Kanaan ini. (Prof. Dr. M.M. Al-A‘zamî, The History of The Qur’ânic Text from Revelation to Compilation (edisi Indonesia), terjemah: Sohirin Solihin, dkk., GIP, 2005, hlm. 259).New Testament (Gospel, Injil) yang diklaim bahasa aslinya adalah bahasa “Yunani” juga sudah hilang, sehingga tidak ada naskah asli dari Injil. Bahkan, ini bertentangan dengan bahasa Yesus, yang sama sekali tidak paham bahasa Yunani. Bukankah ini ‘mencederai’ saktralitas Injil yang diklaim sebagai ‘firman Tuhan’?
Kedua, bahasa Arab dikenal memiliki banyak kelebihan: (1) Sejak zaman dahulu kala hingga sekarang bahasa Arab itu merupakan bahasa yang hidup, (2) Bahasa Arab adalah bahasa yang lengkap dan luas untuk menjelaskan tentang ketuhanan dan keakhiratan, (3) Bentuk-bentuk kata dalam bahasa Arab mempunyai tasrif (konjungsi), yang amat luas hingga dapat mencapai 3000 bentuk perubahan, yang demikian itu tak terdapat dalam bahasa lain. (Lihat, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Depag, edisi revisi, Juli 1989, hlm. 375 (foot-note).
Ketiga, Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Rasulullah SAW. dalam bahasa Arab yang nyata (bilisanin ‘Arabiyyin mubinin), agar menjadi: mukjizat yang kekal dan menjadi hidayah (sumber petunjuk) bagi seluruh manusia di setiap waktu (zaman) dan tempat (makan); untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya: dari kegelapan “syirik” kepada cahaya “tauhid”, dari kegelapan “kebodohan” kepada cahaya “pengetahuan”, dan dari kegelapan “kesesatan” kepada cahaya “hidayah”.
Tiga poin itu berjalan terus atas izin Allah sampai dunia ini hancur, yakni Risalah (Islam), Rasul (Muhammad SAW) dan Kitab (Al-Qur’an)). (Lihat, Prof. Dr. Thaha Musthafa Abu Karisyah, Dawr al-Azhar wa Jami‘atihi fi Khidmat al-Lughah al-‘Arabiyyah wa al-Turats al-Islamiy, dalam buku Nadwat al-Lughah al-‘Arabiyyah, bayna al-Waqi‘ wa al-Ma’mul, 2001, hlm. 42).
Karena Islam itu satu risalah (misi) yang “universal” dan “kekal”, maka mukjizatnya harus retoris (bayaniyyah), linguistik (lisaniyyah) yang kekal. Dan Allah telah berjanji untuk memelihara Al-Qur’an, seperti yang Ia jelaskan, “Sesungguhnya Kami yang menurunkan al-Dzikra (Al-Qur’an) dan Kami pula yang memeliharanya.” (Qs. 15: 9).
Keempat, menurut Syeikhu’l-Islam, Ibnu Taimiyah, “Taurat diturunkan dalam bahasa Ibrani saja. Dan Musa ‘alayhissalam tidak berbicara kecuali dengan bahasa itu. Begitu juga halnya dengan al-Masih: tidak berbicara tentang Taurat dan Injil serta perkara lain kecuali dengan bahasa Ibrani. Begitu juga dengan seluruh kitab. Ia tidak diturunkan kecuali dengan “satu bahasa” (bilisanin wahidin): dengan bahasa yang dengannya diturunkan kitab-kitab tersebut dan bahasa kaumnya yang diseru oleh para rasul.
Seluruh para Nabi, menyeru manusia lewat bahasa kaumnya yang mereka ketahui. Setelah itu, kitab-kitab dan perkataan para Nabi itu disampaikan: apakah diterjemahkan untuk mereka yang tidak tahu bahasa kitab tersebut, atau orang-orang belajar bahasa kitab tersebut sehingga mereka mengerti makna-maknanya. Atau, seorang utusan menjelaskan makna-makna apa yang dengannya ia diutus oleh Rasul dengan bahasanya…” (Lihat, Ibnu Taimiyah, al-Jawb al-Shahih liman Baddala Dina’l-Masih (Jawaban Yang Benar, Bagi Perubah Agama Kristus), (Cairo: Dar Ibnu al-Haytsam, 2003, jilid 1 (2 jilid), hlm. 188-189).
Sebagaimana Taurat dan Injil, Al-Quran diturunkan dalam satu bahasa, bahasa kaumnya. Bedanya, kenabian yang ada sebelum Islam, hanya diperuntukkan pada kaum tertentu atau zaman tertentu (lokalitas) saja. Nuh misalnya, hanya diutus kepada kaumnya (QS. 7: 59); Hud kepada kaumnya (QS. 7: 65); Shaleh kepada kaumnya (QS. 7: 73); Luth kepada kaumnya (QS. 7: 80); Syu‘aib kepada kaumnya (QS. 7: 85); dan Musa kepada Fir‘aun dan para punggawanya (QS. 7: 103).
Dakwah Nabi SAW di “Ummu’l-Qura”, sebagaimana arti yang sudah dijelaskan panjang lebar, bukan hanya dalam pengertian Mekkah semata. Juga bukan hanya untuk orang Quraisy, tidak pula untuk Jazirah Arabia saja, tapi untuk seluruh alam. (Baca QS. 25: 1, 34: 28, 7: 158, dan 9: 33).
Jika kalangan Nasrani menganggap Al-Quran tidak universal, maka, seharusnya yang lebih tidak universal justru Bible.
Meski bahasa Arab adalah bahasa yang rumit, namun bukanlah hal susah bagi umat Islam menghapalkannya. Ini berbeda dengan kitab suci lain, sebagaimana Bible misalnya. Keuniversalan Al-Quran lainnya, dibuktikan dengan bagaimana Allah menjaganya melalui orang-orang alim dan yang memiliki kelebihan dalam menghapalkannya (tahfiz). Meski terdiri dari ribuan ayat, dalam sejarah, selalu saja banyak orang mampu menghapalkannya secara cermat dan tepat. Hatta, ia orang buta atau anak kecil sekalipun. Al-Quran, mudah dihapal atau dilantunkan dengan gaya apapun. Diakui atau tidak, ini berbeda dengan Bible atau Injil.
Karena itu, setiap usaha apapun untuk menambah atau mengurangi Al-Quran baik yang dilakukan kalangan orientalis atau orang kafir dalam sepanjang sejarah selalu saja ketahuan. Jangan heran bila banyak umat Islam tiba-tiba ribut gara-gara ada Al-Quran palsu atau sengaja dipalsukan sebagaimana terjadi dalam kasus “The True Furqon.” Barangkali itulah cara Allah menjaganya.
Dan hebatnya, para penghapal Al-Quran, setiap saat selalu saja lahir dan bisa ditemukan di seluruh dunia. Untuk yang seperti ini, di Indonesia, bahkan sudah mulai banyak dijadikan sebagai pesantren-pesantran formal.
Sebaliknya, bagi kita, belum pernah terdengar ada orang Kristen atau Yahudi yang hapal keseluruhan kitab suci mereka. Bahkan termasuk pendeta atau pastur sekalipun. Mengapa bisa demikian? Saya kira Anda lebih tahu jawabannya. Wallahu a‘lamu bi al-shawab.
Penulis adalah mahasiswa Jurusan Tafsir-Hadits di Universitas Al-Azhar, peminat Qur’anic Studies and Christology.

Kisah Rasulullah SAW menghadapi Penghinaan

Kisah Rasulullah SAW menghadapi Penghinaan #3

<span>Suatu hari di tengah teriknya matahari, Nabi Muhammad saw. mendatangi Kota Thoif untuk mengabarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah. Namun, belum lagi ia selesai menyampaikan risalahnya, para penduduk Thoif melempari beliau dengan batu. Nabi Muhammad pun berlari dengan menderita luka cukup parah. Giginya patah dan berdarah terkena lemparan batu.</span>
<span>Malaikat Jibril segera turun dan menawarkan bantuan kepada Nabi Muhammad. "Wahai kekasih Allah, apa yang kau ingin aku lakukan terhadap mereka. Jika kau mau aku akan membalikkan tanah yang menopang mereka sehingga mereka hilang tertelan bumi."</span>
<span>Bukan hanya kita yang sedih mendengar kisah ini, Jibril pun harus turun tangan melihat Nabi Muhammad dihina dan dianiaya begitu rupa. Namun, apa kata Nabi Muhammad.</span>
<span>"Jangan wahai Jibril. Mereka melakukan itu karena mereka belum tahu. Mungkin hari ini mereka menolak ajaranku, tapi aku berharap anak cucu mereka di kemudian hari akan menjadi pengemban risalahku." Dan doa beliau pun terkabul. Banyak di antara penduduk Thoif di kemudian hari yang menjadi ulama penerus risalah Nabi Muhammad. Begitu mulianya akhlak Rasulullah terhadap orang-orang yang menghina dan menganiayanya. Dan beliau pun ingin umatnya mewarisi akhlak mulia tersebut.</span>
<span>Suatu ketika di dalam Kota Mekah ada seseorang yang sangat membenci Nabi Muhammad. Jika Nabi Muhammad lewat di depan rumahnya, ia melempari beliau dengan batu, tidak jarang pula ia meludahi beliau dari atas rumahnya. Tidak cukup dengan itu, ia pun melempari Nabi dengan kotoran manusia.</span>
<span>Suatu hari orang tersebut jatuh sakit. Ketika Nabi Muhammad melewati rumah itu, ia heran dan bertanya-tanya ke mana orang yang biasanya melemparinya. Setelah diketahuinya orang tersebut sedang sakit, Nabi Muhammad pun mengunjunginya.</span>
<span>Orang tadi seakan tidak percaya jika Muhammad yang selama ini ia caci maki dan ia lempari dengan batu dan kotoran masih mau menengoknya di kala sakit, saat orang lain tidak memedulikannya. Ia pun menangis di hadapan Nabi Muhammad dan saat itu pula ia mengakui kemuliaan Nabi Muhammad dan mengucapkan syahadat.

Nabi Muhammad dengan baik sekali mencontohkan apa yang tertera dalam Alquran, Surat Fushshilat Ayat (34): Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Ada suatu kisah yang diabadikan di dalam Alquran. Kisah ini berkaitan dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang dalam sejarah Islam dikenal sebagai rajanya munafik.Suatu ketika selepas pulang dari Perang Musthalik, Abdullah bin Ubay menyatakan di hadapan orang banyak bahwa begitu tiba kembali di Madinah, orang-orang yang kuat akan mengusir orang-orang Madinah yang paling lemah (Qs. Al-Munafiquun: 8). Semua orang pada waktu itu memahami cemoohan tersembunyi tersebut diarahkan kepada Rasulullah saw. Para sahabat mendidih darahnya mendengar fitnah ini sehingga jika diizinkan pastilah mereka merajam Abdullah bin Ubay dengan pedang.

Saat itu amarah orang sedemikian tingginya sehingga putra Abdullah bin Ubay sendiri menghadap Rasulullah saw., meminta izin guna membunuh bapaknya dengan tangannya. Putranya itu mengemukakan alasan bahwa jika orang lain yang membunuh bapaknya, ia tidak rela, malah mungkin akan membalas dendam terhadap pelaku tersebut. Sepanjang sejarahnya, bangsa Arab terbiasa melakukan balas dendam atas ejekan yang dilontarkan pada mereka atau keluarganya tanpa melihat besar kecilnya cemoohan itu.

Tradisi itulah yang dimaksudkan putra Abdullah bin Ubay tersebut. Namun, Rasulullah saw., tidak mengabulkan permintaannya dan juga tidak memperkenankan yang lain menghukum si munafik Abdullah bin Ubay tersebut dengan cara apa pun. Sekembalinya Abdullah bin Ubay ke Madinah, ia tetap dibiarkan hidup sampai akhir hayatnya. Ketika ia kemudian meninggal secara wajar, betapa terkejutnya orang-orang ketika Rasulullah saw., memberikan baju beliau sendiri kepada putra Abdullah untuk mengafani jenazah ayahnya yang dahulu pernah memfitnahnya. Apa yang dilakukan Rasulullah merupakan suatu pelajaran bagi kita bagaimana menghadapi orang yang menghujat kita dan beliau. Alquran pun memberikan pelajaran, Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan (Qs.Al Mukminuun (23): 96).


Add caption


  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube