Kamis, 15 Maret 2012

Shalahuddin Al ayyubi sang pahlawan islam sepanjang masa

shalahuddin Al ayyubi sang pahlawan islam sepanjang masa

 
BAGIAN PERTAMA


DUA BERSAUDARA


Najmuddin Ayyub adalah sosok laki-laki ideal. Postur tubuhnya tegap, namun lembut dalam melangkah. Ia dikaruniai akhlak mulia dengan kepandaian luar biasa dan pandangan jauh ke depan. Saudara kandungnya, Asaduddin Syirkuh juga tidak kalah hebatnya. Mereka berdua merupakan anak dari keluarga Kurdi asli. Namun, ada juga yang mengatakan mereka adalah keturunan Arab.


Kedua bersaudara itu tinggal di dataran tinggi Irak. Mereka sering terlihat sama-sama menjelajah bukit, berlatih pedang, dan menunggang kuda. Nama mereka cukup terkenal di wilayah Irak. Bahkan ada yang menilai keahlian militer mereka tidak ada duanya dalam sejarah Islam pada abad pertengahan.


Kabar tentang kehebatan mereka tersebar luas sehingga kebanyakan keluarga istana ingin belajar dari mereka. Hal ini membuat orang Bagdad semakin tertarik dengan mereka. Usut punya usut, ternyata salah seorangnya (Najmuddin) adalah penguasa benteng Tikrit, salah satu benteng utama di Dajlah (kawasan Sungai Tigris).


Kembali orang Bagdad mengusut, ternyata mereka memiliki hubungan dekat dengan pemimpin negara pada masa itu. Negara itu digelar dengan negara-negara bukit (Atabiki) yang dipimpin oleh Imaduddin Zanki, penguasa wilayah Mosul. Prajurit-prajurit istana mengenalnya sebagai pemimpin yang bersikap tegas namun lembut dalam pergaulan.


Sedangkan orang Eropa yang menguasai negara-negara timur dengan alasan memelihara Baitul Maqdis (mereka menyebutnya Jerussalem), mengenalnya sebagai penyabar yang sombong, suka memuji diri sendiri namun berani.


Rakyat Mosul menggolongkan Imaduddin Zanki dalam golongan orang-orang kejam, sehingga mereka takut kepadanya. Banyak cerita mengisahkan tentang ketakutan rakyat yang luar biasa kepadanya.


Sikap Imaduddin itu berubah drastis ketika pada suatu malam dia berjalan di pinggiran sungai ‘Ashi, secara tiba-tiba dia mendengar seseorang melantunkan bait berikut dengan suara merdu:


Berlakulah adil selama urusanmu


Menjadi tingkap manfaat dan bahaya


Jagalah negaramu


Karena engkau dalam bahaya


Kelembutan suara itu menghiasi ketenangan sungai, memecah keheningan malam. Imaduddin tersentak, hatinya bergetar, akhirnya dia menagis tersedu-sedu menyesali perbuatannya. Sejak itulah sikapnya berubah, dari kedhaliman menuju keadilan. Rakyat yang dulunya menjauh kini berbalik mendekatinya, prajurit yang dulu membencinya kini menjadi cinta padanya.


Pada suatu hari Imaduddin mendapatkan kabar tentang rombongan Khalifah Abbasiyah yang berkunjung ke Mosul. Dalam perjalanan, mereka hampir dikalahkan oleh sekelompok pemberontak. Untung saja kawan lamanya, Najmuddin Ayyub, segera membangun sebuah titi penyeberangan di atas sungai. Setelah menyeberang, pemimpin selamat dari bahaya, sedangkan pasukan khalifah kembali ke tempatnya.


Peristiwa itu terjadi karena pemberontakan orang Bagdad terhadapnya serta fitnah yang mereka sebarkan di kalangan pemimpin Abbasiyah. Persengketaan itu makin lama makin parah, sampai-sampai Asaduddin Syirkuh, saudara kandung Najmuddin mau membunuh salah seorang pembesar khalifah, disebabkan persengketaan antara mereka.


Kondisi itulah yang menyebabkan kedua bersaudara itu tidak betah untuk menetap di benteng Tikrit dan akhirnya mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat itu.


Pada malam yang ditentukan untuk berangkat. Najmuddin dikaruniai seorang anak lelaki yang diberi nama Ayyub Shalahuddin. Hatinya semakin gelisah, karena kelahiran anak itu bertepatan dengan keluarnya ayah serta pamannya dari kenikmatan hidup di Tikrit, menuju kehidupan yang belum diketahui arah dan tujuan.


Tapi tekad untuk berjuang di jalan Allah mengalahkan kekhawatiran para penunggang kuda ini. Keberhasilan mereka menyelamatkan pimpinan Mosul dari ancaman maut, semakin meneguhkan sikap keduanya untuk menjumpai sang penguasa istana. Muncul keyakinan, istana akan menempatkan buah hatinya di dalam benteng yang kokoh, sehingga kekuatannya tumbuh dan dia bisa berlatih sampai Allah mengizinkannya untuk melakukan penaklukan-penaklukan.


Keduanya pun berangkat menuju Mosul untuk berjumpa dengan penguasa Atabiki (wilayah bukit). Raja menyambut tamu istimewa tersebut dengan penuh penghormatan dan kelembutan, seakan kemunculan mereka di tempat itu semakin menembah kehebatan dan kemasyhurannya. Dalam waktu tidak lama, mereka segera diikutsertakan dalam rentetan peperangan yang dipimpin oleh raja itu sampai akhirnya Allah menaklukkan sebuah kota besar Ba’albek di bawah komando mereka.


Sejak itulah Najmuddin Ayyub dilantik sebagai pemimpin di Ba’albek, sedangkan saudaranya Asaduddin Syirkuh menjadi menteri sekaligus pendidik anak raja di istana.


Salah seorang anak raja Imaduddin, mewarisi sifat taqwa dan taat beragama dari ayahnya sebagaimana ia juga mewarisi sifat lembut dan kasih sayang terhadap rakyat dan bawahannya. Dialah Nuruddin Mahmud, lelaki yang tidak ada bandingannya dalam membela Islam sepanjang sejarah, terkecuali empat Khulafaurrasyidin dan Umar bin Abdulaziz.


Nuruddin, sebagai pemimpin baru sejenak memperhatikan kekuasaan yang sudah dibangun oleh ayahnya di atas pundak dua penunggang kuda tangguh, Najmuddin dan Asaduddin. Hubungan mereka semakin membaik dan Nuruddin ingin kembali mempergunakan dua bersaudara tersebut. Mereka pun bersedia membantu raja untuk menaklukkan Damaskus.


Dengan penaklukkan terakhir inilah kekuasaan Atabiki semakin kokoh di Syam. Terbentuklah kekuatan besar yang pemimpinnya hanya berpikir satu perkara, mempergunakannya untuk agama, memanfaatkannya untuk kemaslahatan kaum muslimin, lalu dipasang untuk mengusir kaum Salibis dan menyapu sisa-sisa mereka dari tanah Arab yang dikuasai mereka dengan alasan memelihara Baitul Maqdis.


Memang benar, seluruh kehidupan Nuruddin menjadi pelajaran bagi umat Islam dan kaum Salib. Masyarakat Damaskus dan orang timur sangat mengenal kepribadiannya. mereka menjaga dan mengenang namanya dalam cerita-serita indah dan syair-syair yang dinyanyikan dengan suara merdu. Semuanya berisi pujian dan sanjungan terhadap raja perkasa itu.


Dalam salah satu cerita orang Damaskus dan ini bukti sejarah, disebutkan bahwa ketika beliau dalam peperangan yang berhasil merebut kembali wilayah Islam dari kaum Salib, tiba-tiba satu anak panah kesasar lalu menancap di mata saudaranya, Nuruddin pun gelisah lalu dia mendekati saudara itu dan berkata: “Hai saudaraku, seandainya dibukakan kepadamu pahala jihad, pasti kamu berkeinginan untuk menghilangkan matamu yang lain”.


Di antara kisah-kisah yang diriwayatkan kepada kita oleh orang-orang terpercaya disebutkan bahwa, ketika orang Eropa memasuki Dumyat (Demietta), mereka menyiksa kaum Muslimin habis-habisan. Pada suatu malam, imam khusus Nuruddin bermimpi melihat Rasulullah SAW berkata padanya: “Beritahukan kepada Nuruddin bahwa orang Eropa minggat dari Dimyat malam ini”. Imam berkata: “Ya Rasulullah mungkin dia tidak percaya, berikan kepadaku tanda-tanda yang dikenalnya”.


Nabi berkata kepadanya: “Nampakkan padanya bekas sujudku di Tel Harim”. Imam berkata: “Ya Allah bantulah agamamu, jangan kau bantu Nuruddin Mahmud, siapakah Mahmud anjing sampai Engkau menolongnya”. Setelah itu, sang imam pun terbangun dari tidurnya.


Selanjutnya sang imam langsung menuju masjid. Seperti biasa pula, Nuruddin selalu masuk ke masjid setelah lewat tengah malam. Dia bertahajjud sampai tibanya waktu shubuh. Imam pun bercerita bahwa Nuruddin menanyakan keadaaannya. ”Lalu saya memberitahukan padanya mimpi tersebut. Saya menyebutkan kepadanya tanda yang diberikan oleh Rasulullah, tapi saya tidak menyebutkan kata anjing.”


“Sebutkan seluruh tanda-tanda itu!” pinta Nuruddin. Dia terus mendesak sampai akhirnya imam menceritakan secara detil mimpinya. Nuruddin pun menangis dan membenarkan mimpi itu. Imam berkata, “Saya menjadi lega. Tidak lama setelah itu datanglah berita kepergian orang Eropa dari Dumyat.”


Orang semakin kagum dengan Nuruddin. Perhatiannya terhadap agama sungguh luar biasa. Jika ada orang yang berbicara tentang jihad di jalan Allah, dia pasti akan mendengar dengan penuh perhatian dan duduk berlama-lama dengan orang tersebut.


Pada saat orang-orang sudah mencintai jihad dan para mujahidin, muncullah sosok Shalahuddin yang sangat mengagumi kepribadian dan sikap Nuruddin dalam membela agama. Semua itu tersimpan di benaknya yang masih lugu, sampai kemudian keteladanan Nuruddin menjadi inspirasi baginya. Sejak saat itu Shalahuddin terus berkembang hingga akhirnya menjadi harapan kaum Muslimin, di timur dan di barat.


Keinginan Muslimin pada saat itu hanya satu, yaitu mengusir kaum Salibis dari tanah mereka. Mereka bertekad mengembalikan Arab menjadi negara yang suci, bersih, dan merdeka. Muncul keyakinan yang kuat bahwa negara mereka diciptakan hanya untuk mereka. Apabila ada orang yang ingin mengambil keuntungan darinya, hendaklah tidak menghilangkan kemuliaan tanah dan menyatakan permusuhan terhadap rakyatnya.


BAGIAN KEDUA


LATIHAN KUDA


Kota Ba’albek telah jatuh ke tangan pemimpin besar Imaduddin Zanki. Dia kemudian menempatkan kawan lamanya, Najmuddin Ayyub sebagai pemimpin di sana. Ini merupakan balasan atas jasa dan kemuliaan Najmuddin yang telah mengabdikan separuh hidupnya untuk keluarga istana Atabiki.


Keadaan itu terus berlangsung hingga wafatnya Imaduddin Zanki, penguasa Mosul yang terkenal. Najmuddin kemudian memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya, menyusul adanya usaha saling merebut pengaruh di antara beberapa anak Imaduddin Zanki. Ia ingin menunjukkan ketidaktamakannya terhadap sesuatu yang menjadi keinginan orang lain. Sifat Najmuddin ini semakin menambah kewibawaannya di kalangan istana Atabiki, yang tidak mungkin dilupakan oleh pemimpin daerah tersebut.


Mereka semakin cinta pada Najmuddin, sampai akhirnya mereka menjadikannya sebagai pemimpin pasukan dari Syam untuk kemudian menjadi pemimpin Damaskus.


Anaknya, Shalahuddin yang masih kecil dan selalu tinggal bersamanya di kota Ba’albek, turut serta diboyongnya ke Damaskus. Di kota inilah Shalahuddin menghabiskan masa kecil. Belajar menulis, menghafal Quran, Hadits, dasar-dasar ilmu bahasa, Nahwu, syair, dan menghitung.


Karena berbagai kesibukannya sebagai pemimpin di Damaskus, Najmuddin mendatangkan pengajar-pengajar khusus untuk mengurus anaknya. Ia juga menyediakan waktu khusus bagi Shalahuddin agar dapat belajar dengan anak lain yang lebih pandai darinya.


Anak itu pun tumbuh dan dewasa di Damaskus sampai menjadi seorang pemuda. Tubuh, pikiran, kelakuan, dan pekerjaannya semakin menunjukkan sifat kedewasaan. Namun, layaknya pemuda seusianya, Shalahuddin juga memiliki semangat yang tidak mungkin dibendung. Mulailah ia mengenal minuman keras dan permainan yang melalaikan. Sedangkan ayahnya sibuk dengan urusan kenegaraan.


Keadaannya sebagai anak bangsawan, ternyata juga melahirkan kesombongan dan keangkuhan dalam diri Shalahuddin, sebagaimana kebanyakan anak pemimpin dan panglima perang lainnya. Orang-orang semakin heran dengan sikap Shalahuddin, terutama ketika ia tidak ikut dalam rombongan jemaah haji yang dipimpin, pamannya Asaduddin Syirkuh, ke Mekkah.


Akan tetapi apalah arti sebuah haji bagi pemuda ini pada saat itu, sedangkan dia terlena dengan minuman keras dan kelalaian. Setiap harinyaia menunggang kuda, menonton atraksi, dan pacuan kuda yang ditampilkan oleh para pemimpin dan panglima perang istana.


Sebagaimana pengakuan pemimpin mereka, Nuruddin Mahmud, sebenarnya pejabat-pejabat di sana tidak menyukai pekerjaan pacuan kuda. Namun hal tersebut harus dilakukan untuk melatih gerak, kelincahan, dan kecepatan mereka, sebagai ajang latihan untuk menghadapi pertempuran. Kalau tidak, tubuh mereka akan berat, kuda-kuda akan kaku, makanya tidak heran kalau lapangan selalu penuh meriah dengan latihan-latihan rutin.


Pemandangan nampak indah, medan semakin meriah, khususnya ketika masyarakat berkumpul menyaksikan Nuruddin bersama dua sahabatnya Najmuddin dan Asaduddin serta kuda-kuda pasukan muslimin menunjukkan kebolehannya. Memamerkan kelincahan dan ketangkasan masing-masing, sampai-sampai orang menyangka bahwa mereka tidak akan mati kecuali karena jatuh dari punggung kuda.


Suatu hari, Shalahuddin ikut bergabung dalam acara pacuan kuda. Ayah dan pamannya lah yang mengajarkan Shalahuddin hingga punya keahlian khusus di bidang ini. Sang pemuda mulai berlatih kuda, pedang, dan memanah. Kepintarannya membuat Nuruddin, ayah serta pamannya berdecak kagum.


Ketika sedang asyik menunggang kuda, tiba-tiba tubuh Shalahuddin terlempar dari punggung kuda. Hampir saja hidupnya tamat, akan tetapi Allah masih mengasihani pemuda tersebut. Dia bangkit perlahan, karena kakinya terkilir dan lututnya mengalami luka parah.


Sejak itulah Shalahuddin terlihat berjalan pincang, tertumpu pada salah satu kakinya. Walaupun demikian, dia tetap bermain bola di atas kuda dan permainan lain yang sedang terkenal pada saat itu. Sambil bermain, pemuda ini mendapat kesempatan untuk bergaul dengan pejabat negara dan panglima perang, sehingga ia dapat belajar dari mereka. Kehidupannya semakin dewasa, pikirannya semakin jernih. Pelan-pelan keahliannya mendekati kemampuan ayah dan paman, malah hampir menyerupai Nuruddin.


Perubahan itu semakin terasa, terutama sejak Shalahuddin menginjak usia 20 tahun. Perubahan sikap ini juga dirasakan oleh ayahnya. Selain itu, perhatian Nuruddin terhadapnya juga semakin hari semakin besar.


Ketika Shalahuddin semakin jauh dari kelalaian dan minuman keras, dari wajahnya terpancar ketenangan dan kebaikan hati yang dirasakan oleh siapa saja yang mau memperhatikan. Sifat itu memang warisan dari orang tuanya. Sebagaimana Najmuddin Ayyub yang memiliki kepandaian luar biasa dan tidak ada tandingannya pada masa itu, demikian juga sifat pemurah dan kasih sayang yang sekarang sudah tergambar di raut wajah anaknya, Shalahuddin.


Tibalah masanya bagi Nuruddin Mahmud untuk mempergunakan kelebihan yang dimiliki Shalahuddin. Pertama sekali Shalahuddin ditugaskan untuk mengatur muatan kapal di pelabuhan. Di situlah dia menunjukkan kebolehan sehingga Nuruddin sendiri kagum dibuatnya, lantas dia kembali mendapat pujian dan penghargaan.


Shalahuddin terus hidup dalam suasana keprajuritan yang disiplin di pangkuan ayah dan paman Syirkuh dalam istana pemimpin yang adil. Dia banyak mengambil pelajaran dari mereka, sampai tidak pernah luput dari setiap pertemuan penting antara raja dan ayahnya. Pertemuan-pertemuan itu menjadi ajang tersendiri bagi pemuda Shalahuddin untuk belajar taktik perang, politik, dan hukum, pelajaran yang sangat penting saat itu.


Begitulah keadaan pemuda ini di Damaskus kala itu. Seakan tidak lama lagi, ia akan mendapatkan ketenangan setelah menghadapi berbagai macam kesulitan yang menantikannya di negara Mesir.


BAGIAN KETIGA


MESIR DALAM BAHAYA


Nuruddin Mahmud duduk memperhatikan kerajaan yang diwariskan oleh ayahnya. Dia berpikir dalam-dalam tentang pekerjaan besar itu. Ternyata tugas itu sangat berat. Yang terpenting di antaranya adalah mengusir bangsa Eropa dari tanah Islam. Semuanya memerlukan pengorbanan yang panjang. Dia tahu bahwa tujuan itu tidak akan tercapai sebelum mendapat perhatian utama dari seluruh kekuatan Islam yang ada di timur.


Sedangkan kekuasaan Islam pada saat itu terbagi ke dalam dua kekhalifahan besar, akan tetapi keduanya sudah menampakkan tanda-tanda kehancuran. Yang pertama kekhalifahan Abbasiyah yang semakin lemah di Irak dan kedua kekhalifahan Fathimiyah yang semakin hancur di Mesir.


Dari dalam wilayah kekhalifahan tersebut terdapat unsur yang mengancam keselamatan Arab dan Islam, yaitu orang Eropa yang datang ke timur lalu mendirikan beberapa kekuasaan salib dengan alasan memelihara Baitul Maqdis.


Nuruddin Mahmud kembali menganalisa situasi politik dunia Islam. Menggulingkan kekhalifahan Abbasiyah merupakan salah satu pertimbangannya. Usianya sudah sangat lanjut, tidak mungkin lagi bangkit untuk berbuat bagi kemashlahatan Islam dan Muslimin. Maka atas dasar itulah, sebenarnya kekuatan timur hanya ada pada tiga kubu besar, yaitu kekuasaaannya di Syam, kekuasaan Eropa di Al-Quds dan sekitarnya, serta kekuasaan Fathimiyah di Mesir.


Kembali Nuruddin mengintip celah-celah politik, ternyata Mesir juga kian lapuk, tidak ada kemungkinan untuk bisa bangkit, apalagi memenangkan pertempuran antara Muslimin dan Salibis di Al-Quds nantinya.


“Artinya perseteruan yang sebenarnya sedang terjadi adalah antara saya dan Salibis. Kemenangan kami tergantung pada satu perkasa, yaitu menguasai Mesir. Siapa yang menguasai negara itu lebih dulu, dialah yang akan merayakan kemenangan itu,” Nuruddin berkata pada dirinya setelah sekian lama berfikir.


Kemudian sejarah menjadi saksi kebenaran dugaan itu. Bahkan sejarah juga bersaksi bahwa dia selalu mendapat ilham dalam segala urusannya. Seolah-olah dia mendapat wahyu dari langit. Pahlawan manakah yang melebihi kepandaiannya, ketajaman analisanya, pandangannya yang jauh, dan aqidahnya yang benar?.


Tentu saja kalau mau menyingkirkan kaum salib dari wilayah kekuasaan umat Islam, negara Mesir harus menjadi sasaran utama. Mesirpun menjadi rebutan singa Islam dari Damaskus dan harimau besar Eropa yang berada di Al-Quds.


“Jadi, dengan modal dari Syam, saya akan menaklukkan Mesir. Dengan kekuatan Mesir, saya akan mengusir bangsa Eropa dari timur. Itulah tindakan tepat yang harus segera diwujudkan. Tidak seorangpun raja Islam yang mampu melakukannya kecuali saya,” Nuruddin mengakhiri lamunannya.


Iapun mulai menyusun satu persatu program utama itu. Bagaikan serigala, matanya terus mengawasi seluruh peristiwa yang berlaku di Mesir. Hatinya semakin rindu untuk segera memasuki negara itu agar sebuah cita-cita besar segera terlaksana.


Ternyata keadaan di sana mengundangnya untuk lebih cepat bergerak, sebagaimana orang Eropa terpanggil untuk segera menguasai politik negara tersebut. Suhu politik semakin panas ketika salah seorang menteri khalifah Fathimiyah terbunuh. Pelakunya adalah dua orang pengkhianat dari Persia. Nama mereka kemudian selalu dihubungkan dengan lenyapnya kekhalifahan Fathimiyah dari Mesir.


Mereka adalah Syawur dan Dhargham yang terus menerus mengadakan pemberontakan. Kadang-kadang mereka mencari bantuan kepada Nuruddin, kadang-kadang dari kaum Salib.


Hari-hari begitu cepat berlalu, Mesir berubah menjadi medan pertempuran antara dua kekuatan besar yang tidak pernah berdamai, yaitu kekuatan Nuruddin dan Salibis. Perang menentukan itu masih terus berkecamuk, sampai akhirnya Allah memberikan kemenangan kepada pihak yang mengenalNya di bawah pimpinan Asaduddin Syirkuh, utusan Raja Syam.


Ikut juga bersamanya seorang anak yang baru menanjak usia muda, dialah Shalahuddin Al Ayyubi, keponakannya sendiri. Setelah memenangkan pertempuran itu, mereka kembali ke Syam, di mana berita kemenangan itu sudah duluan tersebar di sana.


Damaskus pun menjadi gempar. Penyair dan penulis segera melantunkan sastra dan syair sebagai ucapan selamat terhadap pahlawan, kekhalifahan Abbasiyah, dan pemimpin Islam di seluruh dunia.


Nuruddin Mahmud merasa lega, dia yakin bahwa sebentar lagi Mesir akan gemilang di tangan Atabiki, akan menjadi modal untuk menaklukkan kekuatan Salibis yang masih berada di tanah Islam.


Asaduddin juga memendam perasaan yang sama. Dia ingin segera kembali ke Mesir untuk mewujudkan keinginan yang sudah lama terlintas di hatinya.


Shalahuddin yang menemani pamannya ke Mesir juga sudah berada di Syam, hatinya dendam untuk tidak akan kembali ke Mesir seumur hidupnya. Di sana dia merasakan kepenatan, kesulitan, dan kelaparan, sehingga lebih baik mati daripada hidup menderita. Hal itu terjadi ketika kaum Salibis mengepung kota Iskandariyah, paman Syirkuh meninggalkannya beberapa lama di kota tersebut. Karena tidak betah, Shalahuddin segera menyusul pamannya di Cairo.


Peristiwa itu diceritakan kepada ayah dan saudaranya di Damaskus. Ketika melihat ada rasa takut dan kekhawatiran di wajah Shalahuddin, saudara-saudara segera menghibur hatinya. Sedangkan ayah yang duduk tidak begitu jauh dari mereka, hanya tersenyum ringan menunjukan kesenangan dan rasa puas atas cobaan yang dialami Shalahuddin. Baginya, tantangan itu akan membuat seorang anak menjadi matang, meningkatkan semangat, dan mengajarinya tentang kehidupan para da’i dan pejuang.


Waktu terus berlalu, ternyata orang Eropa kembali menyerang Mesir dari arah Bilbis. Mereka menyiksa penduduknya dengan siksaan paling dahsyat yang pernah dialami sepanjang hidup mereka. Di pihak lain, menteri Syawur memerintahkan untuk menyalakan api besar di Fosthat agar api itu menjadi penghalang dari musuh.


Sementara di Mesir, Khalifah ‘Adhid mengirim surat kepada Nuruddin Mahmud di Syam dengan maksud meminta bantuan. Surat itu dibalas Nuruddin dengan janji akan mengirimkan seorang pemimpin yang sudah lama diidam-idamkan, yaitu Asaduddin Syirkuh.


Asaduddin sangat senang menerima tawaran itu, sedangkan Shalahuddin sangat takut kalau-kalau diperintahkan untuk ikut bersama pamannya itu. Akan tetapi melihat keadaan paman yang sangat lemah, akhirnya dengan terpaksa dan berat hati dia berangkat ke Mesir, bagaikan orang yang diajak untuk mati.


Pemuda itu masih teringat bagaimana ngerinya kematian yang terlihat di Mesir sewaktu negara itu masih berada di bawah kepungan orang Eropa. Dia tidak pernah membayangkan suatu kehebatan dan kekuasaan yang menantinya di sana.


Tidak terbayang di hatinya kalau dia akan menjadi seorang pemimpin dan raja yang menyamai beberapa orang pemimpin dan pemberani. Dalam hal ini Ibnu Atsir mengucapkan kalimat yang penuh makna: “Sesungguhnya Allah sangat cinta kepada kaum yang diiringi ke syurga dengan rantai”.


Wahai pemuda yang sedang bingung, seandainya kali ini engkau pergi ke Mesir, engkau akan tahu bahwa dirimu akan dimasukkan ke dalam surga yang selalu menantimu. Pintunya terbuka lebar untukmu, buah-buahnya merendah kepangkuanmu, lalu kau berikan kepada pamanmu buah yang paling nikmat. Sedangkan sisanya akan engkau nikmati dan tidak ada seorangpun yang akan merasakannya selain kamu.


Shalahuddin terus hanyut dalam pikirannya, dalam kesusahan dan ketakutan, terbayang pada peristiwa mengerikan yang di saksikannya dulu. Tiba-tiba terdengar suara berseru: “Besok, bawalah pedangmu, pakai baju besimu, tunggangi kudamu, lalu ikuti pamanmu kemanapun dia pergi!”.


Dengan kalimat semangat dan tegas itu, Najmuddin memotong kekhawatiran yang sedang menghantui anaknya. Dia berdiri sambil tersenyum. Senyuman bahagia dan perpisahan, seakan mencurahkan seluruh isi hati yang akan diucapkan melalui kalimat sesudah itu. Lalu ayahnya berkata: “Engkau tidak akan tenang wahai anakku, ayahmu sudah memberikan tugas berat padamu!”.


BAGIAN KEEMPAT


KEMELUT DI ISTANA


Setelah perang yang hebat, pasukan Eropa mengundurkan diri sehingga selamatnya Mesir dari cengkeraman mereka. Asaduddin pun masuk ke Mesir sebagai penguasa yang membawa kemenangan.


Panglima dan keponakannya ini duduk melepaskan lelah. Tetapi mereka masih terus berpikir untuk menuntaskan kejahatan pemberontak dari Persia yang masih saja meminta pertolongan dari kaum Salib. Mereka berpendapat bahwa memeranginya bukanlah jalan yang tepat, meskipun khalifah Fathimiyah, ‘Adhid, sudah mengizinkan untuk itu.


Ketika perang berkecamuk, khalifah selalu berada di istana. Ia tidak pernah keluar, melainkan cahaya matanya yang menembus lewat jendela, sampai selesainya penyerangan terhadap orang Eropa dan terbunuhnya seorang menteri yang semua itu merupakan awal mula dari kehancuran negaranya.


Oleh sebab itu, khalifah tidak keberatan untuk menyerahkan jabatan menteri kepada Asaduddin Syirkuh. Orang-orang di sana menjadi heran melihat bagaimana seorang Sunni bersedia menjadi menteri di bawah pemerintahan Khalifah Syi’ah. Segera saja berita itu tersebar ke Damaskus dan negara-negara timur lainnya.


Hari-hari itu membuat Nuruddin tersenyum, karena sebuah cita-cita indah akan segera menjadi kenyataan. Yaitu lenyapnya kekhalifahan Fathimiyah dari Mesir, lalu diiringi dengan pernyerbuan besar-besaran terhadap kaum Salib yang masih menguasai Al-Quds.


Rencana itu kian terasa di istana Nuruddin Mahmud. Dia merasa akan segera mendapatkan kemenangan yang sudah lama diimpikannya. Kekuatan itu akan dipakai untuk membela negara dan agamanya. Ia tahu betul bahwa kemenangan hanyalah milik orang yang mengerahkan jiwa, harta, dan pikiran mereka dengan melupakan berapa banyak kesulitan dan pengorbanan yang dihadapinya.


Atas tujuan itulah, surat-surat dari Syam berkali-kali memasuki Mesir. di dalamnya terdapat ucapan selamat dan syair, terdapat pesan dan dorongan semangat kepada Asaduddin dan keponakannya untuk terus menjalankan sebuah rencana bahaya. Mempercepat proses menghilangkan pengaruh kekuasaan Fathimiyah yang beraliran Syi’ah di Mesir, dan mengembalikannya ke pangkuan Khalifah Abbasiyah yang beraliran Sunni.


Salah seorang penyair mendendangkan bait-bait berikut:


Kembalilah Abbasiyah


Tinggalkan mereka dalam suasana paling buruk


Jangan buang bisa lalu dilepas


Lebih baik tebas leher bersama dosa





Beberapa saat setelah menjabat sebagai menteri, Asaduddin mengirim seorang utusan ke istana ‘Adhid untuk memohon agar disediakan seorang sekretaris pribadi (orang yang bertugas menulis surat-surat khusus dari menteri). Permohonan itu disetujui khalifah dengan mengutus seorang lelaki bertubuh kurus.


Lelaki itu berdiri di depan menteri sambil menulis kalimat yang keluar dari mulutnya. Bibir sang menteri komat kamit, ingin segera ucapannya keluar sekaligus, namun kalimat-kalimat itu tetap dilafadh dengan penuh hati-hati, seolah-olah keluar dari tubuh, akal, dan uratnya sekaligus. Mereka hanya berdua di tempat itu.


Penulis itu bernama Abdurrahim Bisani, namanya dikenal dalam sejarah dengan gelar Qadhi Fadhil. Ia memiliki banyak pengalaman dalam menulis surat-surat istana, juga pesaing berbahaya bagi penulis lainnya.


Bagi Fadhil ini adalah kesempatan yang sudah lama ditunggu-tunggunya. Ia telah lama kehilangan peluang untuk menjadi penulis di istana, terutama sejak ia berteman dengan salah seorang anak Syawur (salah satu pemberontak dari Persia).


Orang-orang di istana pun sudah lama menunggu munculnya menteri baru yang membutuhkan seorang penulis. Di saat itulah mereka akan menunjukkan Qadhi Fadhil sebagai penulis. Mereka akan melihat tindakan berbahaya dari penulis itu. Kali ini mereka sangat yakin bahwa orang Kurdi (Asaduddin) tidak akan bertahan lama di Mesir, karena akan segera mati terbunuh di tangan sekretaris pribadinya itu.


Namun dalam perjalanannya, ternyata harapan orang-orang sirik di istana itu jauh dari kenyataan. Asaduddin dan Fadhil malah semakin akrab dan saling mengerti antara satu sama lain. Mungkin salah satu penyebabnya adalah karena mereka satu aliran. Keduanya orang Sunni yang bekerja di bawah kekuasaan Syi’ah. Tapi yang pasti, Asaduddin sangat terkesan dengan kemampuan penulisnya dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya.


Ia kerap mengajak Qadhi Fadhil untuk sama-sama berpikir tentang kekhalifahan tersebut. Bahkan keduanya berpikir tentang negara Mesir secara keseluruhan, dan bantuan apa yang dapat di persembahkan untuk menyelamatkan kaum muslimin dari ancaman musuh.


Sedangkan Shalahuddin yang masih muda, sering lalai dengan minuman keras, terutama setelah pekerjaannya selesai. Keadaan itu akan terus berulang, kalau paman Asaduddin berhasil mewujudkan seluruh rencananya.


Namun Allah berkehendak lain, tidak lebih dari dua bulan di kursi kementerian, Asaduddin Syirkuh meninggal dunia. Prajurit-prajurit Syam terpukul hebat. Kalau tidak dicegah oleh ulama, mereka bisa saja membuat kerusuhan dengan cara berdemonstrasi. Begitulah kebiasaan pasukan muslimin pada masa itu. Prajurit-prajurit itu tidak mau meninggalkan kuburan pemimpinnya sebelum mereka tau siapa yang diangkat sebagai pengganti setelah itu.


Di saat genting itu, Baruqi, salah seorang pemimpin mereka yang memiliki kekuatan hebat, berpikiran cerah, dan terkenal dengan kesungguhan, mengumpulkan seluruh anak buahnya. Di depan mereka, Baruqi menyatakan bahwa dia berhak menggantikan posisi yang ditinggalkan Asaduddin.


Syihabuddin Jarimi, pamannya Shalahuddin merasa dirinya perlu mencampuri urusan berbahaya itu. Ia mendekati keponakannya, Shalahuddin agar mau mendukungnya, seakan ia ingin berkata bahwa dirinya lebih berhak menduduki posisi kementerian tersebut.


Dari sejumlah nama tokoh saat itu, orang yang paling lemah ambisinya untuk menggantikan Asaduddin adalah Quthubuddin bin Talil. Kalau saja dia tidak melihat hal itu semakin menyesakkan dada dan meresahkan kalangan panglima perang, tentu dia juga akan memanfaatkan kesempatan itu, karena dia juga merasa dirinya layak untuk menjadi menteri.


Dalam sesi pemilihan calon pengganti Asaduddin, Baruqi sepertinya akan segera keluar sebagai pemenang. Namun, campur tangan seorang ulama yang dulunya dekat dengan Asaduddin dan Shalahuddin serta memiliki pengaruh yang sangat besar di kalangan prajurit Syam, telah menggagalkan semuanya.


Dialah Isa Hakkari, orang yang telah berbuat banyak untuk kemaslahatan pasukan Syam, yang menasehati mereka dengan kalimat-kalimat suci menyentuh hati. Tidak seorangpun mampu sepertinya, dia masih tetap bersama prajurinya sampai mereka mau menerima Shalahuddin sebagai pengganti Asasuddin.


Hanya Baruqi yang berani membantah tawaran itu. Namun dia sendiri tidak bisa berbuat banyak di depan ulama faqih dan sastrawan, Isa Hakkari. Dengan geram Baruqi berteriak: “Tidak, tidak, saya tidak akan menjadi pembantu Yusuf selamanya!”. Setelah itu, Baruqi meninggalkan Mesir dan pergi menjumpai tuannya, Nuruddin Mahmud, di Damaskus.


Keputusan hasil pemilihan itu kemudian diajukan kepada Khalifah ‘Adhid. Beberapa utusan mewakili seluruh kelompok prajurit Syam masuk istana untuk menjumpai khalifah yang masih sakit, mereka menawarkan Shalahuddin sebagai penganti pamannya, Asaduddin Syirkuh.


Pada masa itu, prajurit terdiri dari berbagai kelompok. Setiap kelompok memiliki nama yang dinisbahkan kepada panglima masing-masing. Kelompok Baruqi digelar Baruqiyah, kelompok Harimi digelar Harimiyah, kelompok Shalahuddin digelar Shalahiyah, kelompok Asaduddin dikenal Asadiyah, dan banyak lagi kelompok lainnya.


Setelah mendapat persetujuan khalifah, jabatan menteri itu pun diserahkan secara resmi kepada Shalahuddin. Setelah dilantik, Shalahuddin yang masih sangat muda, keluar dengan pakaian dinas kementerian lalu berbaur dengan sekelompok pasukan kuda yang rapi dan indah. Lalu khalifah ‘Adhid menyebutnya dengan gelar ‘Malik Nasir’, yang kemudian terus melekat pada diri Shalahuddin.


Setelah mendengar sanjungan itu, Shalahuddin menoleh ke arah beberapa orang sahabatnya sambil berkata: “Saya lemah, saya tidak sanggup memikul tugas kementerian, namun saya mulai menguasai diri sedikit demi sedikit. Kadang-kadang saya merasakan begitu berat beban di pundak ini, itulah diri saya yang berbisik agar saya segera menjauhkan minuman keras dan kelalaian. Saya tidak sesuai lagi buatnya, karena kelalaian dan kesungguhan tidak akan berkumpul di saat yang sama. Alhamdulillah atas petunjuk ini, dariNyalah pertolongan sebagaimana janjiNya”.


Mulailah Shalahuddin menunjukkan akhlak yang lain pada rakyatnya. Suatu hari, ia didera demam yang sangat hebat sehingga seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Tapi dia masih juga keluar dari kemah tempat tinggalnya, sehingga nampak bagaikan seekor burung pipit yang basah kuyup diguyur hujan.


Pada saat itulah sesuatu yang menyerupai irhash sebelum datangnya wahyu bagi seorang rasul, terdengar dari lubuk hatinya: “Ketahuilah wahai Shalahuddin bahwa Allah memberikan kekuasaan Mesir kepadamu hanyalah untuk mengusir kaum Salib dengan tanganmu dan membersihkan dunia dari campur tangan mereka!”.


Setelah itu Shalahuddin selalu terlihat hanyut dalam pikiran panjang untuk menuntaskan perkara berat yang diwariskan pamannya. Ia juga semakin mengerti bahwa paman Syirkuh meninggalkan seseorang yang sanggup menolongnya, dialah Abdurrahman Bisani yang lebih dikenal dengan Qadhi Fadhil.


Memang benar, Qadhi Fadhil merupakan nikmat besar yang dianugerahkan Allah kepada Malik Nasir Shalahuddin. Dia selalu setuju dengan seluruh rencana yang bertujuan untuk memperkuat kekuasaannya, membangun kekuatan baru, dan menjaga jiwanya dari ancaman bahaya.


BAGIAN KELIMA


PEMBERONTAKAN TUMBANG


Kabar tentang terbentuknya kementerian Shalahiyah di bawah pimpinan Shalahuddin sudah menyebar di kalangan orang-orang Eropa. Mereka pun sadar bahwa harapan untuk menguasai seluruh Al-Quds akan semakin berat untuk diwujudkan. Mereka yakin akan mengalami kekalahan, kalau tidak segera menghancurkan Mesir.


Tak berapa lama kemudian, orang-orang Eropa ini memasuki kota Dumyat. Namun belum sempat menguasai pelabuhan yang terdapat di kota itu, pasukan Shalahuddin sudah datang untuk menyerbu mereka. Dari arah lain, mereka juga harus menghadapi pasukan yang dipimpin oleh Nuruddin.


Orang Eropa pun lari pontang-panting. Allah telah menolong kaum muslimin. Hal ini membuat Khalifah Fathimiyah di Mesir semakin senang dan percaya pada menteri barunya, Shalahuddin.


Hari berikutnya, Shalahuddin menjumpai Khalifah yang menyambutnya sebagai pahlawan. Khalifah memberikan hadiah kepadanya sambil berkata: “Wahai Malik Nasir, ceritakan kepadaku tentang Nuruddin. Beritahukan padaku bagaimana kecintaannya terhadap jihad di jalan Allah!”.


Shalahuddin menjawab: “Tuan bertanya tentang Nuruddin?. Beliau adalah guru sekaligus imam kami. Penasehat sekaligus pemimpin. Kami belajar darinya, beliau adalah teladan kami, beliau juga bagai seorang ayah yang sangat sayang kepada kami. Kami menghormatinya, kami mengutamakannya melebihi diri kami, beliau sangat memperhatikan urusan kaum muslimin. Tidak ada cita-citanya di dunia ini selain membersihkan tanah Islam dari jajahan orang Eropa!”.


Khalifah menjawab: “Saya telah mendengar hal itu mengenainya. Tetapi saya ingin bertanya kepadamu tentang kecintaannya terhadap jihad,. Apakah ada perhatiannya selain jihad?”.


Shalahuddin kembali menjelaskan: “Demi Allah! Tuanku, kami belum mendapatkan sesuatu pun di dunia ini yang dapat melengahkannya dari jihad. Apabila kami ingin berjumpa dengannya, beliau selalu membacakan hadits-hadits mengenai jihad”.


“Orang-orang yang baru pulang dari Syam menceritakan kepada saya, bahwasanya ketika bangsa Eropa menguasai Dumyat, sebuah hadits musalsal dibacakan kepadanya. Hadits tersebut diriwayatkan dengan sanad bersambung sampai kepada Nabi dalam keadaan tersenyum. Perawi hadits tersebut memohon kepadanya untuk tersenyum agar sanad hadits itu sempurna sebagaimana perawi sebelumnya. Nuruddin marah atas permintaan tersebut, dan ‘sungguh saya malu kepada Allah jika melihat saya dalam keadaan tersenyum, sedangkan kaum muslimin di Dumyat menderita di bawah kepungan orang Eropa!” jelas Shalahuddin.


‘Adhid berkata: “Sifat apa yang ada pada lelaki itu, begitulah seharusnya akhlak seorang pemimpin yang benar-benar menyerahkan dirinya untuk agama dan bangsanya!”.


Shalahuddin sangat lega, dia kembali bercerita: “Ketika Nuruddin dalam kesulitan dan baitul mal tidak mampu lagi untuk melunasi gaji prajurit, sahabatnya menyarankan, ‘Tuanku, di dalam negeri terdapat banyak perkantoran dan persediaan harta wakaf, berikan sedikit harta itu kepada fuqaha, orang miskin, dan para sufi, sehingga tuan dapat memanfaatkan mereka’.


Nuruddin marah lalu berkata, ‘Demi Allah, saya tidak mengharapkan pertolongan dari Allah kalau tidak ada mereka. Sesungguhnya kalian ini mendapat rezeki dan pertolongan hanyalah karena kelemahan kalian. Bagaimana saya akan mengurangi jatah orang yang berperang dengan darah mereka, sedangkan saya tidur di kasur empuk lalu saya memberikan harta itu untuk mereka yang tidak berjuang. Sedangkan orang yang berjuang mendapatkan bagian dari baitul mal, lalu bagaimana saya memberikannya kepada orang selain mereka?’. Penjelasan Nuruddin ini membuat sahabat-sahabatnya terdiam.”


‘Adhid kembali berkata: “Semua itu terjadi di Damaskus, pada saat para menteriku di Mesir sibuk mengumpulkan harta dan bertengkar untuk merebut kekuasaan”.


“Semoga Allah memelihara dan menjaga tuanku dari akibat-akibat buruk”. Balas Shalahuddin.


Saat Shalahuddin meninggalkan Khalifah, di depan pintu dia bertemu dengan kawan dan penasehatnya, Qadhi Fadhil. Ia memberitahu bahwa seorang utusan Nuruddin dari Syam datang membawa salam raja dan Najmuddin. “Utusan itu juga mengatakan bahwa keduanya menginginkan agar kita segera melakukan pemotongan khutbah (yang menyebutkan nama) ‘Adhid,” ujar Qadhi Fadhil.


Dua bersahabat itu duduk bermusyawarah. Fadhil berkata: “Tuanku jangan mengira bahwa ular berbisa sudah mati. Demi Allah, saya sudah merasakan kembali racun-racun berbahaya. Saya khawatir kalau pengikut Syawur berkumpul lalu membunuhmu. Tuanku tahu sendiri bahwa Syawur, sebagaimana kebiasaan menteri-menteri Mesir, banyak memberikan bantuan kepada rakyat dan suka menampakkan kemurahannya sehingga namanya merekat erat di hati masyarakat Mesir, bahwa dia mencintai negaranya”.


“Engkau benar wahai Abdurrahim. Demi Allah, saya belum melihat orang yang lebih mulia dari pada kalian, wahai orang Mesir. Dan Khalifah ‘Adhid, saya belum mendapatkan orang yang menyamai kemuliaannya. Saya bersaksi bahwa dia telah menumpahkan perhatiannya kepada kita. Seandainya kami tidak mempunyai rencana besar, kami pasti akan menjadi orang yang paling setia kepadanya dan paling banyak membantunya. Tapi apa boleh buat, politik punya hukum dan akhlak punya hukum yang lain!”. Jawab Shalahuddin.


“Insyaallah saya akan melakukannya. Lalu bagaimana pendapatmu tentang pemotongan khutbah ‘Adhid, apakah saatnya sudah tiba?” tanya Nasir.


Fadhil menjawab: “Saya berpendapat kita belum memiliki kesempatan untuk itu, malah saya merasakan adanya suatu pergolakan, saya mendengar adanya bisikan, di udara saya melihat tanda-tanda akan datangnya badai. Jika badai itu datang, apa yang akan kita lakukan. Tuanku, kalau banjir yang melanda, berapa orang yang mampu berenang, sedangkan kita baru mulai berbuat. Bekerjalah secepatnya!”.


Qadhi Fadhil meninggalkan Shalahuddin, membiarkannya mengulang-ulang kalimat berikut: “Tentu, tentu…, sekarang semakin jelas, bahwa kita tidak mampu menguasai negara dengan pedang, tidak juga dengan panah, tetapi dengan pendapat Qadhi Fadhil!”.


Pada hari berikutnya terjadi peristiwa yang dikatakan Qadhi Fadhil. Shalahuddin sudah mengetahui gerakan berbahaya yang dipimpin oleh Mu’tamin Khilafah yang ingin merebut istana Khalifah. Mereka sudah sepakat menyurati orang Eropa di Al-Quds, lalu mereka melakukan penangkapan terhadap prajurit Asadiah (pengikut Asaduddin) dan Shalahiyah (pengikut Shalahuddin). Ketika Shalahuddin keluar untuk menghadapi pasukan Eropa, mereka akan mengepung sisa-sisa prajurit yang ada di Cairo, lalu menyerang sang menteri dari belakang dan membunuh seluruh prajuritnya.


Mu’tamin sudah menyelesaikan surat yang akan segera dikirim kepada orang Eropa, namun taqdir telah menentukan lain. Seorang mata-mata Shalahuddin tiba di seberang sumur putih, dia melihat seseorang memakai baju basah, dan seorang lagi membawa sandal baru yang tidak terlihat adanya bekas pemakaian.


Mata-mata itu jadi curiga, lalu menangkap kedua orang tersebut dan membawanya menghadap Shalahuddin. Shalahuddin berhasil mengeruk rahasia-rahasia penting dari tawanan itu. Bersamanya ada sepucuk surat dari anggota istana yang ditujukan kepada orang Eropa.


Shalahuddin menanyakan siapa penulisnya. Ternyata surat itu ditulis oleh seorang Yahudi Mesir. Prajurit segera membawa Yahudi itu menghadap Shalahuddin. Yahudi berdiri lalu mengucapkan kalimat syahadat, mengumumkan keislamannya sebelum angkat bicara, lalu membeberkan semua rahasia itu. Ternyata pelakunya adalah Mu’tamin Khilafah.


Qadhi Fadhil juga hadir di tempat itu. Shalahuddin menoleh ke arahnya lalu berkata: “Begitu cepat dugaanmu terbukti wahai Abdurrahim, apa saranmu selanjutnya?”.


“Maafkanlah Yahudi ini, terimalah keislamannya, jagalah rahasia kejadian ini, karena itu akan menjamin keselamatanmu. Pelaku utama peristiwa itu adalah Muktamin Khalifah, jangan mengaku sudah membongkar rahasia ini sebelum siap menghadapi segala kemungkinan,” nasehat Qadhi.


Shalahuddin hanya mengikuti saran-saran sahabatnya itu, rahasia tersebut hanya diketahui olehnya bersama Yahudi itu. Sedangkan Muktamin terus menghimpun kekuatan, sampai tiba saatnya mereka melakukan penyerangan dan menyusup ke istana. Shalahuddin yang sudah mengetahui segalanya hanya mengikuti seluruh gerak-gerik mereka. Ternyata mereka betul-betul hendak membunuhnya.


Terjadilah bentrokan antara pasukan Muktamin yang berjumlah lebih dari lima puluh ribu orang dengan prajurit Shalahuddin yang segera menghadang jalan mereka. Pertempuran pun tak dapat dihindari. Kedua pihak ingin segera memenangkannya, namun pemberotak itu terlalu lemah untuk menghadapi serdadu dari Syam. Semakin lama kekuatan mereka semakin lemah dan kekalahan nampaknya tidak dapat dihindari lagi.


Khalifah ‘Adhid masih mengikuti pertempuran itu melalui jendela mutiara yang terdapat di sudut istana. Dia sudah tahu kalau Muktamin akan kewalahan, makanya dia segera memerintahkan pengawalnya untuk menghujani prajurit Syam dengan panah. Shalahuddin sebagai pemimpin pasukan Syam mencium gelagat itu. Lalu menyeru prajuritnya untuk membakar jendela mutiara. Prajurit berhamburan ke arah jendela itu


. Tiba-tiba pintu tingkap itu terbuka, lalu ‘Adhid keluar sambil menyuruh seseorang untuk berseru: “Amir Mukminin mengucapkan selamat kepada prajurit Syam, beliau berkata: “Selain kalian hanyalah hamba dan anjing hina, keluarlah mereka dari Mesir!”.


Pemberontak yang mendengar seruan itu sadar bahwa mereka tidak mungkin memenangkan pertempuran, Khalifah sudah berpihak kepada Shalahuddin. Keadaan mereka kucar-kacir jadinya, tidak ada pilihan lain kecuali kabur menyelamatkan diri. Akhirnya mereka bubar dan tidak pernah lagi melakukan pemberontakan.


Sebagaimana kebiasaan orang yang merebut kekuasaan, Muktamin juga sudah memohon bantuan dari orang Eropa. Surat itu sudah dikirimkan sebelum penyerangan berlangsung. Akan tetapi dengan bantuan Allah, Shalahuddin sudah duluan membongkar rahasia tersebut, lalu dengan mudah mematahkan serangan yang terjadi.


Selanjutnya Shalahuddin terus meningkatkan kerja sama dengan Nuruddin untuk menerkam satu demi satu kekuatan Salibis, sebelum mereka sempat berpikir untuk mengirimkan bantuan kepada pengkhianat yang mengancam keselamatannya di Mesir.


Setelah peristiwa berdarah itu, orang Eropa hanya bisa mengirim bantuan kepada pemberontak dari arah tepi pantai dan pulau Sicilia. Namun pasukan Nuruddin selalu datang untuk menghadang bantuan itu, akhirnya pasukan Salibis mengurungkan rencana itu dan kembali ke tempatnya. Sedangkan pemberontakan yang kadang-kadang muncul di Mesir selalu patah di tangan Shalahuddin.


BAGIAN KEENAM


RUNTUHNYA KEKHALIFAHAN FATIMIYAH


Sejak berpisah dengan keluarganya di Damaskus, Shalahuddin selalu teringat pada mereka. Rasanya ingin segera bertemu untuk melepaskan rindu yang sudah lama terpendam. Seakan peristiwa yang terus berlalu, kekuasaan yang ada di tangannya, bahaya-bahaya yang berhasil dipatahkannya, pertempuran yang berhasil dimenangkannya, semua itu tidak mampu melupakannya pada Syam dan Damaskus.


Semua itu tidak melupakannya pada keluarga dan saudaranya, sehingga dia menulis sepucuk surat yang melukiskan rasa rindu, harapan, dan kebahagiaan jika berjumpa dengan saudara dan keluarganya.


Dalam salah satu surat yang dituliskan dengan tangan Qadhi Fadhil, Shalahuddin mengungkapkan bait-bait berikut:


Wahai yang jauh dariku


Hatiku selalu dekat


Saya tidak dapat melihat


Dengan mata hati secara nyata


Begitu surat sampai ke tangan Najmuddin, timbullah kerinduan sang ayah untuk berjumpa dengan anaknya. Dia merasa bahwa surat dan tulisan belum cukup untuk melepaskan rindu. Lalu sang ayah bermusyawarah dengan Nuruddin untuk meminta izin pergi ke Mesir.


Dia ingin berada di sisi anaknya, untuk meringankan bebannya, meneguhkan hatinya, semoga keadaan bisa berubah, semoga ular itu tidak bangkit lagi untuk menaburkan racun berbisa, semoga pertemuan itu bisa meringankan kesusahan Shalahuddin atas kehilangan pamannya Asaduddin, yang meninggal dunia lalu mewariskan tugas berat di atas pundaknya.


“Tuanku, sekarang Shalahuddin lagi sendirian di Mesir. Dia sedang menghadapi dua ancaman besar, bahaya Fathimiyah yang sangat membencinya dan ancaman orang Eropa yang tidak ada tujuan lain bagi mereka, kecuali menaklukkan Mesir”.


Dengan ucapan itu Najmuddin mendahului tuannya Nuruddin yang seakan sedang berpikir tentang perkara yang sama, sehingga belum sempat Najmuddin menghabiskan kalimatnya, Nuruddin sudah berkata: “Ya, ya Najmuddin, saya juga sedang berpikir untuk memohon kesediaanmu agar berangkat ke Mesir. Karena menurut saya, sekaranglah saatnya kita menyusun langkah pamungkas untuk menggulingkan kekuasaan Fathimiyah lalu kita satukan dengan kekhalifahan Abbasiyah”.


Nuruddin diam sejenak, lalu melanjutkan pembicaraannya: “Wahai Najmuddin, engkau sudah tahu bagaimana dulunya Shalahuddin anakmu menolak jabatan menteri setelah meninggal pamannya Asaduddin, kemudian setelah mendapatkan desakan dan paksaan, akhirnya dia menerima jabatan itu. Engkau juga tahu bahwa hal itu tidak terlepas dari usaha Isa Hakkari, seorang faqih yang sangat cerdik.


Dialah yang menghimpun seluruh hati prajurit di sekeliling anakmu, dia juga yang menjadikan orang-orang yang berambisi untuk menjadi menteri tunduk pada anakmu. Lalu Qadhi Fadhil menasehatkan agar dia membagi-bagikan hartanya kepada rakyat untuk mendapat dukungan, sehingga seluruh prajurit tunduk padanya dan rakyat mencintainya.


Sedangkan ‘Adhid, menurut berita yang saya dengar, kekuatannya semakin lemah tak berdaya sejak pemberontakan yang dilakukan Muktamin. Wahai Najmuddin, menurut saya, sekarang saatnya sudah tiba untuk segera menghapus kekuasaan mereka. Saya sudah menyurati anakmu, tapi saya jadi heran bagaimana dia membalas kepada saya dengan minta maaf karena takut pada orang Mesir yang mendukung khalifah ‘Adhid”.


Najmuddin mendengar dengan penuh perhatian, dia sudah paham seluruh kalimat dan pikiran yang keluar dari tuannya, lalu menjawab: “Demi Allah, tuanku mengatakan kebenaran. Saya melihat bahwa jerih payah kita sekarang sudah membuahkan hasil. Anak saya terlalu hati-hati, saya akan mengembalikan keberaniannya sesuai dengan keadaan, saya akan membantunya, demikian juga Isa Hakkari yang selalu memperkuat tekad dan semangatnya”.


***


Sang ayah sudah di Mesir. Perjumpaan itu telah memadamkan api kerinduan yang sudah lama menyala. Keesokan harinya, Najmuddin duduk berdiskusi dengan anaknya. Setelah mendengar keterangan dari anaknya, dia mengakui bahwa kekhawatiran Shalahuddin tentang Khalifah Fathimiyah adalah benar.


Keyakinan itu semakin bertambah setelah ia mendengar keterangan Qadhi Fadhil. Ia berkata kepada Najmuddin: “Tuanku, sebenarnya khalifah Fathimiyah mempunyai penolong yang sangat banyak. Mereka tahu semua rencana kita terhadap mereka. Seluruh kelompok mereka selalu siap menghadapi segala kemungkinan. Saat ini mereka sedang mempersiapkan diri, menghimpun kekuatan dan pasukan. Setiap bertambahnya kekuatan kita, kehati-hatian mereka semakin meningkat. Menurut saya, sebaiknya kita jalan perlahan-lahan, kalau tidak, semuanya akan berantakan, dan rancangan itu lenyap dari tangan kita”.


“Engkau benar wahai penulis. Tapi apa boleh buat, Nuruddin ingin segera menuntaskan masalah ini. Sekarang tidak ada keputusan lain darinya melainkan melenyapkan bahaya ‘Adhid,” jawab Najmuddin.


Di Damaskus, Nuruddin sudah lama menunggu dari Mesir. Namun keputusan yang diharapkannya belum datang juga, sehingga raja Syam itu mengirim seorang utusan lain untuk menjumpai Najmuddin dan anaknya di Cairo agar mendapatkan berita-berita baru, untuk menyegerakan urusan, tanpa kompromi.


Tidak lama kemudian Nuruddin kembali mengirim utusan lainnya dengan pesan: “Perintahkan mereka untuk segera memotong khutbah yang menyebutkan nama ‘Adhid. Siapkan kekuatan sebelum menguatnya kekuatan mereka, sebelum mereka mempersiapkan diri dengan matang sehingga mampu mengalahkan kita!”.


Lelaki itu terdiam sejenak, lalu mengangkat kepalanya. Bagaikan singa mengaum dia berkata kepada utusan kepada yang akan menuju Mesir. “Seakan saya sudah bersamamu wahai Shalahuddin, memang ada baiknya kalau engkau terus berada di Mesir. Engkau telah mendapat kepercayaan raja, engkau rela menjadi menteri di bawah kekhalifahan Syi’ah. Sekarang, pergilah kalian menghadapnya, sampaikan padanya ucapanku ini:


“Kami mengirimkan prajurit-prajurit, membekali kamu dengan persenjataan, membiayai kamu dengan harta kaum muslimin, bukan agar kamu menjadi seorang menteri dengan melupakan kepentingan kaum muslimin. Kemaslahatan kaum Muslim akan terwujud setelah lenyapnya kekhalifahan Fathimiyah di Mesir lalu diganti dengan Kekhalifahan Abbasiyah, kemudian Nuruddin mempergunakannya untuk mengusir kaum Salib dari timur. Laksanakan rencana itu, kalau tidak, kami akan menggantikanmu dengan orang lain!”.


Najmuddin dan anaknya sudah kewalahan untuk memadamkan semangat Nuruddin melalui surat-surat yang dikirim ke Syam. Sia-sia sudah alasan yang diajukan Shalahuddin untuk menunda penggulingan itu, sebulan lagi atau setengahnya.


Najmuddin dan anaknya mulai meneliti suasana di Mesir. Lalu merencanakan segala cara untuk mencapai kemenangan, tentunya dengan nasehat-nasehat dari Qadhi Fadhil dan Isa Hakkari. Mereka mengungkapkan pendapat masing-masing mengenai suhu politik, perasaan, dan kesiapan orang Mesir untuk menerima suatu perubahan.


Fadhil berkata kepada Najmuddin: “Izinkan saya untuk mengemukakan pendapat saya dalam urusan kita ini!”.


“Silakan, wahai Abdurrahim,” jawab Syeikh.


“Menurut saya, kita mulai dengan menghilangkan tambahan azan yang terdapat dalam aliran Syi’ah (hayya ‘ala khairil ‘amal). Jika ada orang yang membantah, berarti keadaan belum sesuai untuk melakukan sesuatu setelah itu. Kalau tidak ada yang protes, berarti saatnya sudah tiba,” saran Fadhil.


Syeikh dan anaknya Shalahuddin sangat setuju dengan pendapat itu. Keesokan harinya rencana itu mulai dilaksanakan. Ternyata tidak seorangpun yang berontak atau protes. Lalu dilanjutkan pada hari berikutnya, keadaan masih seperti biasa. Artinya penggulingan kekhalifahan akan segera dilakukan.


Sejak itu. Nasir Shalahuddin sesekali memerintahkan untuk menangkap orang-orang yang berusaha memberontak terhadap ‘Adhid. Di waktu lain, dia menangkap orang-orang yang pernah bergabung dalam pertempuran “jendela mutiara” di istana. Seluruh tindakan itu belum mandapat kritikan dari penguasa Fathimiyah dan rakyat Mesir. Dari situlah Shalahuddin tahu bahwa waktu melenyapkan kekhalifahan Fathimiyah sudah tiba.


Shalahuddin duduk diapit oleh ayahnya di sebelah kiri dan Qadhi Fadhil di sebelah kanan, mereka sedang memikirkan langkah terakhir untuk menggulingkan Fathimiyah, hingga akhirnya mendapatkan satu cara yang paling tepat. Tak lupa mereka memperhitungkan segala kemungkinan yang mungkin terjadi dalam langkah terakhir ini.


Mereka sepakat bahwa Shalahuddin tidak ikut serta secara langsung dalam tindakan itu. Hanya Najmuddin dan beberapa orang panglima perang saja yang melakukannya.


Adapun rencana yang disusun, pada hari yang ditentukan mereka melakukan shalat Jum’at di salah satu masjid besar. Pada khutbah pertama, khatib hanya berbicara tentang agama dan pesan-pesan taqwa. Memasuki khutbah kedua, khatib mulai dengan menghilangkan nama ‘Adhid, lalu diam beberapa saat menanti reaksi apa yang akan terjadi. Kalau terjadi gejolak, Najmuddin akan masuk mendamaikan mereka. Kalau tidak terjadi apa-apa, khatib akan menggantikan nama Khalifah Fathimiyah dengan Khalifah Abbasiyah.


Adapun tujuan tidak ikutnya Shalahuddin dalam acara itu, agar kalau terjadi pergolakan atau protes dari jamaah Jum’at, dia bisa meminta maaf kepada ‘Adhid dengan alasan karena tidak tahu apa yang terjadi. Lalu mengatakan bahwa ia tidak senang dengan tindakan ayahnya, dan akan menyuruh ayahnya meninggalkan Mesir secepat mungkin.


Semua setuju dengan saran tersebut. Qadhi Fadhil pun menyarankan agar memilih seorang khatib yang berani dan mau berjanji bahwa ia akan mewujudkan tugas itu.


Hari yang ditentukan telah tiba, orang Mesir tidak seperti biasanya, mereka berbondong-bondong menuju mesjid besar. Mereka menantikan peristiwa besar dan bahaya yang akan terjadi pada hari itu, mereka ingin segera mengetahuinya.


Khatib naik ke mimbar, lalu membaca khutbah pertama. Setelah duduk sebentar ia kembali berdiri untuk membaca khutbah kedua. Ketika pada saat penyebutan nama ‘Adhid, ia tidak menyebutkannya, khatib itu diam sejenak. Khatib tidak mendoakan khalifah itu, akan tetapi dia membacakan doa kepada pemimpin yang mendapat petunjuk dan menteri Shalahuddin.


Jamaah Jum’at diam ketakutan, mereka tidak bergerak bagaikan ada burung yang hinggap di kepala mereka. Mereka dikawal oleh sekelompok prajurit yang memenuhi masjid itu. Sedangkan sekelompok lainnya mengawal mimbar, semua menyadari bahwa mimbar pada hari itu akan berbicara dengan bahasa yang telah mereka pahami, yaitu bahasa pedang.


Pada Jum’at berikutnya, khatib tetap menghilangkan nama ‘Adhid. Pada saat itu ia menggantikannya dengan khalifah Abbasiyah. Itulah pertanda berakhirnya kekhalifahan Fathimiyah dan berdirinya kekuasaan Ayyubiyah. Lalu Shalahuddin mengumumkan dirinya sebagai wakil dari khalifah Abbasiyah dan menjalankan tugas di bawah pemimpin Damaskus.


‘Adhid yang mendengar pengumuman itu menjadi susah lalu masuk ke kamarnya, sehingga ada orang yang mengatakan bahwa ia mati bunuh diri. Ada yang mengatakan bahwa ia tewas karena menghisap mata cincin yang di bawahnya terdapat racun, ada juga yang mengatakan bahwa ia pingsan selama lima hari, lalu meninggal dunia.


Kabar kematian ‘Adhid sampai ke telinga Shalahuddin. Dia pun menjadi susah, merasa bersalah atas tindakannya. “Kalau saja kami tahu bahwa ia akan meninggal dalam minggu ini, sungguh kami tidak akan membawa namanya dalam khutbah,” kata Shalahuddin dengan nada sedih.


Pada saat itu Fadhil menjawab, “kalau dia tahu bahwa kalian tidak membawa namanya dalam khutbah, maka bisa jadi ia belum mati.”


Lalu Fadhil membacakan ayat Al-Qur’an Surat Ali Imran ayat 26:


“Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
BAGIAN KETUJUH


BERITA DUKA


Suatu hari, Najmuddin bertanya kepada Shalahuddin. “Wahai anakku, tahukah engkau sejak kapan hati Nuruddin berubah terhadapmu?”


“Mungkin sejak saya menerima jabatan menteri dari ‘Adhid, lalu saya memakai baju dinas sebelum adanya izin dari beliau,” jawab Shalahuddin.


“Begitulah wahai anakku. Sejak saat itu beliau selalu was-was terhadapmu, dan khawatir jangan-jangan kamu memisahkan dari darinya, lalu kamu mendirikan negara lain di Mesir. Itulah yang selalu terlintas di hatinya”.


“Wahai ayahku, Demi Allah saya sudah habis-habisan bersabar dalam menghadapi beliau. Sekarang tidak seorang pun sahabatnya yang menganggap itu sebagai suatu dosa. Beliau sangat sering menyurati saya, beliau sangat sabar dalam hal ini, dia selalu mengharap semoga saya bisa berubah. Itulah cara beliau menghadapi saya, namun saya tidak pernah menyampaikan kepadanya apa yang sebenarnya saya lihat”.


“Engkau benar wahai anakku, sesungguhnya kekuasaanmu sangat tergantung pada cara yang sedang kamu tempuh bersama raja yang tidak ada duanya bagimu ini. Raja yang tidak ada seorang pun berani membantumu untuk melawannya, apalagi membantah perintahnya”.


“Itulah langkah saya bersama Nuruddin dan langkah saya terhadap orang-orang yang saya segani dan tidak seorang pun berani melawannya,” ujar Shalahuddin.


“Siapakah mereka wahai anakku, mungkin saya bisa membantumu,” Najmuddin bertanya.


“Mereka adalah saudara-saudaraku. Mereka menanti saya dengan air mata dan saya mengkhawatirkan keadaan mereka. Saya tahu walaupun mereka berhasil memisahkan diri dari Mesir, hal itu tidak menambah kemuliaan mereka. Oleh sebab itu saya sengaja membiarkan mereka sampai saya berhasil melakukan beberapa penaklukan, lalu mereka merasa diuntungkan dan mau menolong kita, kalau Nuruddin memerlukan bantuan,” jawab Shalahuddin.


“Begitu juga pendapat saya, wahai anakku. Terus apa yang terjadi dalam penaklukan yang dilakukan saudaramu itu?” Najmuddin kembali bertanya.


“Saudara saya Syamsud Daulah diutus untuk memasuki kota Nuba, lalu dia berhasil menaklukkannya. Ketika tidak mendapatkan sesuatu di dalamnya, ia minta dikirim ke Yaman, lalu saya merestuinya. Keesokan harinya ia berangkat ke sana. Namun ia terpaksa membunuh orang Khariji yang ada di negeri tersebut, lalu mengumpulkan manusia di sekitar kuburan ayahnya yang sudah dihiasi dengan kubah emas. Dia menamakannya dengan ka’bah, manusia dipaksa untuk naik haji ke tempat itu dengan meninggalkan Ka’bah di Mekkah,” ujar Shalahuddin.


“Celaka, ternyata ia lebih hina dari orang Syi’ah yang kekuasaannya telah dipindahkan Allah ke tangan kita ini. Mereka adalah kelompok yang rantainya sudah kita ikat di istana Fathimiyah, sehingga lelaki tidak bisa bertemu dengan wanita untuk berketurunan, dengan demikian jumlah mereka tidak akan bertambah lagi,” kata Najmuddin.


“Itulah yang sedang saya pikirkan. Saya sudah mengirimkan Bahauddin Qarqusy, seorang prajurit berani ke sana. Saya percaya padanya karena saya sudah melihat kejujuran dan amanahnya dalam mengawal istana Fathimiyah,” ujar Shalahuddin lagi.


“Begitu banyak pikiranmu, wahai anakku. Begitu banyak rencana yang sedang kau susun. Saya bahagia kalau Mualana Nuruddin menyetujui semua itu dan mendukung seluruh penaklukan yang dilakukan saudaramu, sehingga kita tidak banyak membuang-buang waktu dan biaya. Kita juga tidak perlu membagi-bagikan prajurit yang seharusnya kita kerahkan untuk menyerang pasukan Eropa yang kini berada di Karak, wilayah penghubung antaramu dengan Nuruddin,” Najmuddin terlihat senang dengan penjelasan anaknya.


Sejenak kemudian, Qadhi Fadhil masuk ke tempat itu. Setelah permisi, dia pun duduk sambil menyimak pembicaraan Shalahuddin dengan ayahnya Najmuddin. “Izinkan saya untuk berbicara tentang Karak, mungkin bisa menjadi bahan pertimbangan kalian,” pinta Fadhil.


“Silakan wahai Abdurrahim, kami akan selalu mendengar saranmu,” jawab Najmuddin.


“Menurut saya kita biarkan saja wilayah penting yang menghubungkan kita dengan Nuruddin itu. Meskipun sekarang kota itu sedang berada dalam kekuasaan orang Eropa di bawah pimpinan taghut mereka, Ranault de Chatillon. Bahkan kota itu juga merupakan teluk persembunyiaan yang bisa menyelamatkan kita kalau sewaktu-waktu Nuruddin menyerang Mesir. Kita bisa menghindar dari kekuatan besar itu sampai akhirnya tujuan kita tercapai. Sampai kekuatan kita menjadi kokoh, lalu tidak seorangpun mampu mengusir kita dari negeri ini karena kepentingan mereka atau dari orang-orang yang mau membalas dendam ketika kita tidak mampu memenuhi permintaannya,” Qadhi Fadhil memberikan pendapatnya.


“Jadi menurut kamu, untuk sementara kita biarkan tanah itu berada di tangan panjajah?” jawab Syeikh Najmuddin dengan nada bertanya. Lalu dia menoleh kepada anaknya: “Bagaimana pendapatmu wahai Yusuf?”.


Pemuda itu terdiam sebentar, lalu berkata: “Jawaban yang diberikan Shalahuddin sebagai pemimpin dan ahli politik akan bertentangan dengan jawaban yang diberikan Shalahuddin sebagai orang taqwa dan penurut”.


Najmuddin hanya tersenyum ringan, lalu menatap anaknya yang semakin menampakkan keanehan itu. “Sekarang engkau sudah menjadi seorang pemimpin, usiamu sudah dewasa, katakan saja apa yang menjadi pilihanmu,” pinta Syeikh Najmuddin.


Nasir menjawab: “Kebenaran itu hanya ada dalam pendapat penulis ini. Tidaklah benar kalau kita terus memenuhi keinginan Nuruddin untuk memerangi orang Eropa yang ada di Karak tersebut. Memang, tanah itu sekarang berada di tangan Renault, dia sangat benci terhadap kaum muslimin, menawan siapa saja yang memasuki wilayah kekuasaannya, bahkan dia pernah berkata kepada kaum muslimin: ‘panggillah Muhammad dari kuburnya untuk melepaskan kalian dari tanganku!”. Saya sudah bernazar kepada Allah untuk membunuhnya nanti, untuk membela kemuliaan Nabi kita Muhammad dan menyelamatkan agamanya yang sedang kita anut sekarang ini”.


“Saya bersamamu wahai anakku. Nanti perintahkan dia untuk merangkak di bawah kakimu. Ketika dia memohon kasih sayangmu atau bersumpah kepadamu janganlah diterima semua ucapannya, karena engkau berhak untuk memisahkan kepala dari badannya dengan pedangmu sendiri,” sang ayah memberikan saran.


“Bagaimana hasil dari penaklukan-penaklukan yang selalu menjadi keinginan saudara-saudaraku, wahai Abdurrahim?” Shalahuddin bertanya kepada Qadhi Fadhil.


“Sulit sekali, pekerjaan itu membutuhkan biaya besar, sedangkan pemimpin Syam sedang menantikan kiriman harta yang banyak dari kita untuk kepentingan jihad.”


“Kami sudah mengirimkan beberapa hadiah dari istana Fathimiyah ke sana, lihatlah bagaimana jawaban dari utusan yang kita kirim dua hari yang lalu,” kata Nasir.


“Bagus sekali wahai anakku, meskipun saya tahu bahwa raja itu tidak mengharapkan hadiah dari kita,” Najmuddin menimpali. Dia masih ingin melanjutkan ucapannya, namun saat itu utusan yang dikirim ke Syam sudah kembali ke Damaskus dengan membawa sepucuk surat kepada Malik Nasir Shalahuddin, pemimpin Mesir.


Shalahuddin membuka surat itu lalu membacanya. Di dalamnya terdapat perintah dari Nuruddin agar dia mengumpulkan prajurit-prajurit Mesir untuk menuju wilayah kekuasaan Eropa, dimulai dari daerah Karak. Di sana Nuruddin bersama pasukannya akan mengepung daerah tersebut dari arah lain sambil menunggu tibanya pasukan Shalahuddin. Dengan demikian mereka dengan mudah dapat mengalahkan Renault, orang yang paling berbahaya itu bersama-sama.


Setelah memahami isinya, Shalahuddin menyodorkan surat itu kepada ayahnya, kemudian kepada Qadhi Fadhil.


Mereka terdiam beberapa lama sampai akhirnya suara Najmuddin mengejutkan mereka: “Bagaimana mengenai hadiah yang dikirim Shalahuddin kepada pemimpin kita Nuruddin,” tanyanya kepada utusan.


“Tuanku, saya melihat hadiah itu tidak berarti apa-apa baginya,” Jawab utusan itu.


“Luar biasa, itulah sebabnya beliau tidak menyebutnya dalam surat ini,” ujar Shalahuddin.


Utusan itu melanjutkan keterangannya: “Ketika sahabat beliau memandang terlalu lama kepada hadiah itu dengan penuh kekaguman terhadap istana Fathimiyah dan kekuasaannya, tiba-tiba dengan suara lantang beliau berseru kepada dirinya sendiri: ‘Kami mengeluarkan biaya penaklukan Mesir bukan untuk mendapatkan harta ini!”. Lalu beliau melantunkan syair Abu tamam:


Tidaklah pemimpin infakkan emas


Untuk kemewahan


Sedangkan dia loba padanya


Kemudian beliau kembali berkata: ‘Kami tidak mau harta ini melalaikan kami, akan tetapi kami inginkan harta dan jiwa untuk berjihad di jalan Allah!”.


Pada saat itu Nasir hanya memandang ke arah utusan dengan penuh perhatian lalu berkata: “Kembalilah kepada tuanku Nuruddin, katakan padanya bahwa saya tidak akan terlambat tiba di Karak!”.


Utusan kembali menuju Damaskus dengan membawa pesan dan surat dari Shalahuddin. Setelah surat sampai ke tangan Nuruddin, ia langsung mengumpulkan pasukannya untuk segera berangkat ke Karak.


Beberapa lama dia menunggu di tempat itu sampai akhirnya sebuah surat datang mengabarkan bahwa Shalahuddin minta maaf karena tidak bisa datang ke tempat yang dijanjikan, disebabkan beberapa gejolak dan keinginan orang Mesir untuk memberontak terhadapnya.


Setelah membaca surat itu Nuruddin marah. Kelembutannya seakan sirna, dia akan segera menuju Mesir untuk mengusir Shalahuddin dari sana.


Kabar mengerikan itu sampai ke telinga Najmuddin di Mesir. Shalahuddin langsung menghimpun seluruh saudaranya untuk membicarakan masalah tersebut. Semuanya menyarankan agar Shalahuddin diam diri dan bersabar.


Tiba-tiba seorang pemuda yang bernama Taqiuddin bangun dan berkata: “Mengapa kita harus takut pada Nuruddin, kalau dia berani datang, kita perangi dia dengan pedang kita, lalu kita usir dia dari sini!”.


Shalahuddin sangat setuju dengan pendapat itu. Namun belum sempat mengungkapkan persetujuaannya, Najmuddin segera angkat bicara: “Diam kau bocah tengik, duduklah bocah yang tak punya otak dan adab. Hina sekali pendapatmu. Apakah untuk itu kau makan harta kaum muslimin. Untuk itukah Shalahuddin menjadi pemimpin kalian?”.


Lalu sang ayah berkata kepada Shalahuddin. “Saya ayahmu, dan ini pamanmu Syahibuddin Harimi. Apakah ada di antara mereka yang mencintai dan menginginkan kebaikan terhadapmu melebihi kami?”.


“Tidak!” jawab Nasir.


“Demi Allah, seandainya saya dan pamanmu melihat Nuruddin datang ke negeri ini. Tidak ada pilihan lain bagi kami melainkan merangkak di depannya, mencium tanah di bawah kakinya. Kalau beliau menyuruh kami untuk menebas lahermu, kami akan melakukannya. Kalau kami bersikap demikian bagaimana dengan orang lain?”.


“Semua orang yang ada di sini, baik pemimpin maupun prajurit, jika melihat Nuruddin, tidak seorangpun berani tetap di atas punggung kudanya. Semuanya akan turun untuk mencium tanah di depan raja agung. Mengenai negara ini, beliaulah yang menjadikan kamu sebagai penggantinya di sini. Kalau beliau mau, beliau akan memecatmu tanpa perlu memasuki negeri ini seperti rencananya sekarang. Tapi cukup dengan mengirimkan surat untuk menyuruh kamu menghadapnya, dan beliau akan menggantikan orang lain sebagai raja di negara ini”. Terang Najmuddin sambil bangkit dan kembali berseru kepada prajurit-prajuritnya:


“Dengarlah oleh kalian semua, wahai prajurit!. Kami di sini hanyalah hamba-hamba Nuruddin. Dialah yang mampu melakukan apa saja terhadap kami. Jika dia mau, kami akan tetap berada di Mesir. Kalau tidak, kami harus segera minggat dari sini. Kami ini hanyalah prajurit dan pengikutnya. Atas namanya kami menguasai negara ini, atas namanya pula kami akan menaklukkan negara-negara yang diiginkannya nanti…!”


Prajurit segera bubar, sebagian mereka mengirim surat kepada Nuruddin mengabarkan tentang peristiwa yang baru saja terjadi, sedangkan Najmuddin masih tetap bersama anaknya.


“Saya kira usiamu sudah dewasa dan mampu untuk memimpin, akan tetapi sekarang saya melihat kebodohan dan sedikitnya pengetahuanmu. Engkau menghimpun mereka untuk menyampaikan keinginanmu. Kalau saja Nuruddin tahu rencanamu untuk melawannya, maka engkau akan menjadi korban dan sasaran seluruh prajuritnya. Kalau beliau melakukannya atau datang ke Mesir, tidak seorangpun dari prajurit di sini yang akan membelamu, malah sebaliknya mereka akan menyerahkanmu padanya”.


Najmuddin melanjutkan nesehatnya. “Dan sekarang, kebanyakan mereka akan menyurati beliau dan menulis seluruh ucapan saya itu: Tulislah surat sekarang juga, dan katakan kepadanya: ‘Untuk apa tuan menyusahkan diri menjumpai saya, cukup saja tuan perintahkan orang di sini untuk menjerat leher saya, lalu saya diseret untuk menemui tuan!”.


“Jika beliau mendengar ucapanmu seperti itu, maka beliau akan membatalkan keinginannya dan beliau akan mengurus urusan lain. Juga beliau akan percaya ucapan saya kepada prajurit tadi”.


“Engkau benar, ayahku!, nasehatmu begitu bijak, alangkah baiknya kalau saya dan beberapa orang prajurit menuju Karak untuk menjumpai beliau sekarang juga. Jika saya sudah sampai di sana, sampaikan pada saya berita tentang pemberontakan di sini,” pinta Shalahuddin.


“Pergilah dengan berkat dari Allah,” balas ayahnya, Najmuddin.


Shalahuddin segera menuju Karak, namun di tengah perjalanan, kembali muncul keinginannya untuk pulang ke Mesir. Tidak lama kemudian sepucuk surat sampai ke tangannya. Surat itu mengabarkan sesuatu yang menghancurkan seluruh harapan. Dunia seakan sempit di matanya.


Surat itu mengabarkan kematian Najmuddin, ayah tercinta, meninggal karena jatuh dari punggung kuda ketika sedang mengadakan permainan bola dari atas kuda. Salah satu permainan yang sangat masyhur pada abad pertengahan.


Hati Shalahuddin terasa lapang karena dalam surat itu disebutkan ta’ziah yang dilakukan Qadhi Fadhil kepada ayahnya dan ganjaran yang diberikan Allah kepada orang yang sabar.


Shalahuddin kembali ke Mesir dengan perasaan gundah, pada saat yang penuh duka itu, sebuah surat dari Syam datang mengabarkan kematian pemimpinnya, Nuruddin Mahmud. Seluruh kaum muslimin di Damaskus dan wilayah kekuasaan Islam berduka cita atas musibah tersebut.


Tidak berlebihan kalau kewafatan pahlawan Nuruddin sangat melukai hati Shalahuddin, karena dialah satu-satunya pemimpin Islam yang sangat benci terhadap kekuasaan salib di timur. Sesekali hatinya lega mengingat gagalnya rencana beliau untuk mengeluarkannya dari Mesir.


Sekarang Shalahuddin sudah kehilangan dua bantuan terbesar dalam menghadapi musuh-musuhnya.


Setelah kematian Nuruddin dan ayahnya Najmuddin, Shalahuddin merasa tinggal sendirian di medan perang. Kembali lelaki itu merasakan segalanya sudah hilang kecuali dua orang kepercayaannya, Abdurrahim Bisani yang lebih dikenal dengan Qadhi Fadhil dan Isa Hakkari. Yang pertama telah berjasa dalam mendirikan negaranya di Mesir, sedangkan seorang lagi sudah sangat tua, sehingga seperti kata orang Arab, perhatiannya sekarang atau besok.


BAGIAN KEDELAPAN


PEWARIS HAKIKI


Nuruddin telah wafat. Dia meninggalkan seorang anak yang bernama Malik Shalih Ismail, usianya tidak lebih dari sebelas tahun. Pembesar-pembesar istana saling berebutan untuk mendekati raja kecil itu dengan alasan untuk mendidiknya, sekaligus pada saat yang sama mereka khawatir kalau anak itu membenci mereka.


Ketika itu, Amalric pemimpin Salibis di Palestina juga meninggal dunia. Dialah penguasa seumur hidup di Baitul Maqdis. Kerajaannya diwarisi oleh oleh Baldwin-4, anaknya yang berusia 13 tahun. Jadilah kerajaan Palestina tidak jauh berbeda dengan kerajaan Nuruddin, para pembesar berebutan untuk menduduki jabatan pemerintahan.


Ketika Shalahuddin sedang asyik menganalisa situasi politik yang semakin parah itu, Qadhi Fadhil datang menjumpainya. Shalahuddin berkata kepadanya: “Kemarilah Abdurrahim, sekarang saya sangat membutuhkan pendapatmu!”.


“Kerajaan Nuruddin sekarang sudah terpecah-pecah, setiap benteng kini memisahkan diri dan menjadi sebuah negara kecil, sedangkan orang Eropa sedang giat-giatnya mendirikan benteng di sekeliling mereka. Pembesar-pembesar Nuruddin yang kini terpecah-pecah itu pasti merasa malu untuk bekerja sama dengan orang Eropa. Alangkah hina perbuatan tersebut, alangkah berat beban yang ditimpa terhadap umat Islam”.


Fadhil menjawab: “Engkau benar tuanku. Namun tuan harus tahu bahwa perjanjian mereka bukan seperti orang yang suka pada Ali, tetapi karena kebencian mereka kepada Mu’awiah”.


“Engkau benar. Saya tahu itu, tapi saya sanggup memisahkan mereka menjadi dua kelompok, kelompok Muslimin Arab dan kelompok Salibis. Tidak mungkin menggabungkan dua kelompok itu dalam waktu yang sama”.


Shalahuddin terdiam sejenak kemudian melanjutkan ucapannya: “Apakah orang-orang miskin itu lupa bahwa tidak ada cita-cita lain bagi Nuruddin kecuali mengusir kaum Salib dari negara kita. Beliau yakin bahwa hal itu hanya akan terwujud jika barisan dan perjuangan kita bersatu. Engkau bisa menilai sekarang, sayalah raja Islam yang paling tua umurnya, yang paling setuju dengan pikiran Nuruddin yang sudah dirancang oleh ayahnya Imaduddin”.


“Bahkan engkaulah orang yang paling peduli. Paling mampu untuk mewujudkan semua impian itu,” balas Qadhi Fadhil memberi semangat.


“Lalu bagaimana caranya menghadapi pembesar-pembesar itu. Apakah kita biarkan saja mereka, lalu kita memerangi orang Eropa sampai menyerah dan tunduk kepada kita?” Shalahuddin bertanya.


“Kalau tuan membiarkan pembesar-pembesar itu terus bersengketa, niscaya Mesir akan segera terpisah dari Syam, dan orang kafir penjajah akan dengan mudah menguasai negara-negara Islam,” Qadhi Fadhil memberikan pendapatnya.


“Saya tahu semua itu, makanya sekarang saya sibuk berpikir bagaimana caranya mencampuri urusan Syam, supaya pembesar-pembesar yang ada di sisi anak itu tidak menyadari taktik kita, agar mereka tidak menghasut anak itu bahwa saya ini musuhnya. Sedangkan saya lebih berhak mendampingi dan mendidiknya daripada mereka,” ujar Shalahuddin.


Fadhil berkata: “Menurut saya, sebaiknya tuan mengirim surat kepada anak itu dengan pernyataan keikhlasanmu padanya. Lalu ungkapkan kesediaanmu untuk mendidik dan melindunginya beserta seluruh peninggalan ayahnya!”.


“Kalau pembesar-pembesar itu membantah isi surat?” tanya Nasir.


“Sabarlah tuanku, akan tiba suatu masa dimana mereka akan mengejar-ngejar tuanku. Kalau saja orang Eropa mencaplok sebagian negeri mereka, mereka akan segera meminta bantuanmu untuk menyelamatkan jiwa dan harta mereka. Pada saat itu, pergilah ke sana, jagalah anak itu, lalu selamatkan Islam dari bahaya yang datang dari musuh kita, orang Eropa,” saran Fadhil penuh semangat.


Shalahuddin mengirim sepucuk surat. Setelah membaca surat itu seluruh pembesar marah padanya, mereka mencela dan mengancamnya.


Di sela-sela pergolakan itulah orang Eropa menyerang mereka dari negeri bagian Baniyas. Tidak seorangpun dari mereka yang mampu menangkis serangan tersebut, sehingga mereka harus tunduk dan membayar upeti kepada orang Eropa. Itulah kehinaan terbesar bagi umat Islam. Tidak ada pilihan lain bagi mereka kalau hendak selamat kecuali meminta pertolongan dari Shalahuddin.


Mendengar kejadian itu, Shalahuddin sangat marah. Kalau pembesar itu mau bayar upeti bagi orang Eropa berarti itulah kekalahan total yang dialami umat Islam di seluruh dunia. Oleh sebab itu dia segera berangkat ke Syam sebelum adanya undangan dari siapapun.


Setelah mengetahui kedatangan Shalahuddin, pembesar-pembesar Syam menjadi takut lalu meninggalkan Damaskus, akhirnya kota tersebut jatuh ke tangan Shalahuddin. Mereka keluar menuju halab (Aleppo). Dengan demikian, Shalahuddin menaklukkan kota Damaskus tanpa perlawanan.


Pembesar-pembesar istana yang lari ke Halab masih menyimpan dendam yang membara terhadap Shalahuddin. Mereka benci dan cemburu atas kegagahan prajurit dari Mesir. Namun mereka hanya bisa mengutuknya melalui surat yang berisikan kata-kata pedas. Sedangkan Shalahuddin tidak merasa kecil hati dengan ejekan itu, malah utusan yang mengantar surat-surat itu dihormatinya sebagai tamu negara.


“Hai fulan, katakan pada mereka bahwa saya datang ke Syam hanyalah untuk menyatukan kekuatan Islam. Saya akan menyelamatkan Malik Shalih dan Islam. Mereka mau membayar upeti kepada musuh. Kalau saja kematian itu tidak datang tiba-tiba, Nuruddin pasti akan menyerahkan anaknya padaku untuk saya jaga. Saya lebih berhak untuk itu ketimbang orang lain, karena memang sayalah yang mampu melindunginya dari ancaman serigala yang terus mengintainya dari segala penjuru,” perintah Nasir pada salah seorang utusan mereka.


Sejak itulah orang-orang Halab menyadari bahwa mereka tidak akan mampu menghadapi Shalahuddin, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan raja agung itu. Mereka tidak akan mampu menyatukan raja-raja Islam untuk menyerbu kaum Salib dan merebut kambali Al-Quds.


***


Sebagaimana takdir telah menentukan Shalahuddin sebagai pengganti penguasa kekhalifahan Fathimiyah, demikian juga keadaannya sebagai pewaris hakiki kerajaan Nuruddin. Dialah yang berhak mewarisi seluruh wilayah kekuasaan raja yang taat itu. Wilayah yang terpancar darinya cahaya persatuan kaum Muslimin sejak dikumandangkannya untuk pertama kali oleh Nuruddin Mahmud. Sejak lelaki itu melihat adanya sinaran bagaikan cahaya fajar.


Penguasa Aleppo sepakat, mereka telah bersatu untuk mengelabui Malik Shalih Ismail, membiarkannya sibuk dengan masa kecilnya. Karena anak itu belum tahu apa-apa mengenai politik negerinya, kesempatan masih ada untuk menyeru kaum Muslimin agar mau melawan Shalahuddin.


Mulailah mereka menghimpun seluruh orang yang membenci Nasir Shalahuddin di Syam, yang paling besar dan berbahaya dari mereka adalah kelompok Hasyasyin yang menamakan dirinya dengan Ismailiyah, mereka bermarkas di balik sebuah bukit.


Kesepakatan antara orang Halab dengan Ismailiyah disetujui, mereka akan menggulingkan Shalahuddin, beberapa orang terlatih dari mereka memasuki kemah raja dari Mesir itu. Seorang pembunuh bayaran segera mencabut pedangnya. Namun begitu hendak menebas leher Shalahuddin, bantuan Allah datang, seorang prajurit secepat kilat melompat lalu menahan gerakan penjahat itu, pedangnya jatuh ke tanah. Pembunuhan itupun menjadi gagal.


Sang raja keluar dari kemahnya dalam keadaan gelisah, dia masih terbayang peristiwa yang baru saja berlalu. Beberapa saat dia termenung, lalu pelan-pelan dia kembali menguasai dirinya. Matanya menatap langit sambil memajatkan syukur atas keselamatannya dari bahaya maut.


Dia berkata dirinya: “Kenapa saya harus selamat dari maut itu, semoga takdir telah menentukan perkara besar yang akan tuntas dengan tanganku!”.


Penguasa dan pembesar Halab semakin heran. Bagaimana raja itu bisa lolos dari kematian yang diantar oleh tukang-tukang pukul andalan mereka yang tidak mengenal ampun dan kasih sayang.


Kembali pembesar-pembesar itu berkumpul, sampai akhirnya mendapatkan langkah terakhir untuk melumpuhkan Shalahuddin. Mereka akan bekerja sama dengan orang Mosul dan sekitarnya, yang pada saat itu berada di bawah kekuasaan raja berbahaya, Alu Zanki.


Kesombongan dan kecongkakan menyebabkannya tidak mau tunduk kepada Shalahuddin, dia sudah memperkirakan bahwa kapan saja memasuki Halab, Shalahuddin pasti akan merebut Mosul, wilayah kekuasaan mereka.


Pada suatu pagi, penduduk Halab terkejut, mereka sudah dikepung oleh prajurit Shalahuddin, mereka langsung mengirim kabar kepada pelindung mereka yang berasal dari Eropa.


Di antaranya Raymond de St. Gilles, mantan pemimpin Tripooli dan pernah ditawan oleh Nuruddin, namun kemudian dibebaskan oleh pembesar-pembesar istana yang ada di samping Malik Shalih Ismail, dengan janji akan membantu mereka untuk melawan Shalahuddin. Pemimpin salibis itu segera menyetujui perjanjian itu dan bersumpah atas nama kerajaan dan agamanya.


Ketika Shalahuddin mengepung Halab, pembesar-pembesar itu meminta bantuan Raymond. Lalu mereka sama-sama berhamburan menyerbu kota Homs, salah satu kota yang baru saja ditaklukkan Nasir. Sultan melihat lebih baik menyelamatkan kota baru tersebut dibandingkan kota lainnya, lalu dia memberikan Halab kembali dalam kekuasaan pembesar istana Nuruddin.


Penguasa Halab kembali menyusun taktik baru untuk bertarung dengan Shalahuddin. Mereka tahu bahwa melalui perang atau kekerasan, mereka akan takluk di kaki Nasir. Akhirnya mereka mengajak damai, Shalahuddin langsung menerima ajakan itu dengan penuh penghormatan.


Sedangkan Malik Shalih Ismail dengan sendiri memohon Malik Nasir untuk tinggal bersamanya di Halab. Sultan menerima ajakan itu dengan senang hati, meskipun ia sendiri masih berstatus sebagai pemimpin Mesir dan seluruh wilayah yang ada di bawah kekuasaan raja kecil itu.


Khatna, salah seorang anak Nuruddin dan saudara kandung Malik Shalih Islamil dengan malu-malu mendatangi Shalahuddin untuk menanyakan kabar tentang keadaan benteng A’zaz, salah satu benteng di Syam yang baru saja ditaklukannya.


Shalahuddin sempat tinggal di sana beberapa lama, hatinya sedih, air matanya bercucuran ketika teringat pada jasa-jasa tuannya, Nuruddin. Namun setelah menyelesaikan berbagai masalah dan meninggalkan keperluan, benteng tersebut ditinggalkan untuk sementara waktu.


Nasir meninggalkan Halab, rencananya mau kembali ke Mesir. Dalam perjalanan, orang Ismailiyah kembali menghadangnya. Seseorang melompat ke arahnya, namun belum sempat niat jahat orang itu tercapai, Allah kembali menyelamatkan Malik Nasir, segera saja Nasir menghajar orang itu agar kaum Muslim terbebas dari ancaman mereka.


Rencana Shalahuddin tercium oleh mereka. Karena takut, akhirnya mereka meminta perlindungan dari Syihabuddin Harimi, pamannya Nasir. Sang paman tidak keberatan menerima permohonan maaf atas seluruh tindakan mereka terhadap keponakannya.


Perjalanan ke Mesir dilanjutkan, satu persatu negeri-negeri yang baru ditaklukannya terlewati. Meninggalkan pembesar yang berkali-kali mengumandangkan perang dengannya, setelah melumpuhkan penjahat-penjahat yang mengancam nyawanya.





BaGIAN KESEMBILAN


LUKA YANG TEROBATI





Orang Eropa sudah mengetahui kepergian Shalahuddin dari Syam, sedangkan di antara mereka terdapat perjanjian damai yang sengaja dilakukan Shalahuddin untuk menghimpun kembali seluruh pasukan Islam untuk segera membebaskan Al-Quds dan Negara-negara Islam dari penjajahan Salibis.


Sejarah telah mengakui kejujuran dan sikap Shalahuddin dalam menepati janji, dialah yang membiarkan orang kafir bebas dan tenang dalam masa perjanjian itu meskipun dia tahu bahwa mereka akan kembali menghimpun kekuatan untuk memeranginya sebelum perjanjian itu berakhir. Akan tetapi kemuliaan hatinya merestui semua itu berjalan mulus tanpa kendala.


Kebanyakan ilmuan Eropa merasa malu dengan sikap tersebut, rasa malu itu banyak diungkapkan dalam buku-buku karangan mereka yang melukiskan sifat-sifat mulia yang dimiliki Shalahuddin, sifat yang sangat berlawanan dengan adab dan kebiasaan manusia.


Mereka menyadari kesalahan mereka yang selalu membalas kebaikan itu dengan khianat dan ingkar janji, merekalah yang selalu melanggar peraturan yang dibuatnya sendiri.


Ternyata sebelum masa perdamaian berakhir, sekelompok pasukan salibis mengerahkan kekuatan untuk menyerbu Damaskus. Salah seorang dari saudara Shalahuddin yang tinggal di sana kewalahan menghadapi serangan mendadak itu. Shalahuddin memutuskan untuk menemui dan kalau perlu membantu perjuangan saudaranya walaupun persiapan untuk perang belum sempurna. Orang pertama yang dijumpainya adalah Renault de Chatillon, pemimpin kekuasaan salibis di wilayah Karak. Orang Arab menyebutnya dengan nama Arnat. Mereka berhadapan di sebuah tempat yang bernama Ramla, kaum salib segera menyerbu kaum Muslimin yang sebenarnya pergi bukan untuk tujuan perang itu, pantas saja kalau pasukan Shalahuddin dan pembesar-pembesar istana Nuruddin kalang kabut dibuatnya, ada yang menyelamatkan diri ke Mesir dan ada yang bersembunyi di balik gunung di tengah gurun, kelompok yang terakhir ini terancam akan segera menemui kematian, untung saja Qadhi Fadhil mengetahui jejak mereka, lalu mengantarkan makanan dan minuman. Makanan itu dibagi-bagikan untuk kaum Muslimin yang sedang kesulitan itu dan mengantarkan mereka untuk bergabung dengan pasukan Muslimin lainnya. Isa Hakkari, seorang faqih masyhur dan memiliki hubungan baik dengan sultan, termasuk salah seorang yang mengalami kesulitan tersebut, Sultan sangat senang melihat keselamatannya, lalu memberikan hadiah, memujinya dan tidak lupa juga doa kemenangan bagi umat Islam.


Shalahuddin menuliskan surat kepada saudara yang meminta bantuan tempo hari, di dalamnya terdapat beberapa bait syair:


“Saya ingat kalian dan kita


Sudah siapkan tenaga


Tapi kekalahan rintangi kita


Berkali-kali kita selamat dari bahaya, pasti ada tujuan besar yang akan diberikan Allah kepada kita”.


Sultan kembali ke Mesir dengan membawa kekalahan, manusia bersyukur atas keselamatannya dari tebasan musuh, penyair-penyair mengungkapkan kekecewaan mereka atas kekalahan itu:


Cukuplah sekali bagi musuh


Menyebarkan penyakit tanpa obat


Apakah kita takut sengatan lebah


Yang hasilnya madu yang lezat?


Sultan kembali meninggalkan Mesir, keluar untuk membela kehormatan Islam yang sangat tercemar, untuk sementara sebagai pengganti posisinya dipegang oleh saudaranya Malik Adil, sedangkan sebagai penasihat sekaligus menteri diangkatnya Qadhi Fadhil. Dia keluar untuk mengejar orang salibis dimanapun mereka berada. Untuk menebus kekalahan yang dideritanya.


Akhirnya dua pasukan itu berpapasan di suatu tempat yang bernama Merj ‘Uyun. Tidak begitu sulit bagi Shalahuddin untuk mengalahkan pasukan Eropa itu. Pada saat yang sama, prajurit-prajurit di Mesir mencapai kemenangan gemilang setelah mampu mengalahkan tentara salibis yang menyerang mereka dari arah laut.


Pasukan Islam saat itu berada di bawah komando seorang pemuda yang sangat dicintai oleh Shalahuddin dan sama-saman merasakan kekalahan di Ramla tempo hari. Shalahuddin mengangkatnya sebagai panglima angkatan laut untuk menghajar kaum salib yang datang dari arah sana, namanya Taqiuddin Umar, keponakan sultan sendiri, dan ia sangat memperhatikannya sebagaimana nabi Muhammad sayang pada saidina Ali bin Abi Thalib.


Kaum Muslimin sangat gembira dengan kemenangan itu, luka-luka seakan sembuh dengan sendirinya. Seorang penulis duduk dalam sebuah kemah besar untuk mencatat seluruh nama tawanan, di antara tawanan itu termasuk Raymond, penguasa Tripoli. Siapa yang tidak siap untuk menjadi tawanan, harus menebus dirinya kepada penulis, kalau belum mampu, bersabarlah sampai adanya biaya untuk melepaskan diri. Para penyair mengucapkan selamat kepada Shalahuddin:


Kemenangan ini adalah obat


Bagi hati dan penyejuk jiwa


Inilah hari korban bagai Hunain


Allah menolong kita dari luka


Shalahuddin meninggalkan Merj Uyun menuju basis-basis kekuatan salibis. Di sana terdapat sekelompok kaum salib yang membuat kaum Muslimin ketakutan, itulah kelompok Dawiyah yang terdiri dari orang-orang yang bersumpah untuk mengorbankan jiwa dan harta mereka untuk agama Kristen dan menjaga Baitul Maqdis.


Pusat kekuasaan mereka digelar sesuai dengan nama tempat yang sedang dikuasai mereka. Ada yang dinamakan Baitul Ahzan, Bait Ya’kub, dan Husnu makhad. Sedangkan Dawiyah sudah bertekad untuk menguasai tempat-tempat tersebut sejak dari kemenangan Renault dalam pertempuran Ramla.


Setelah mengetahui kemenangan mereka di Ramla, Shalahuddin langsung mengerahkan pasukan dan harta untuk kembali mengusir kaum salib tersebut di sana. Pertempuran pun berlangsung sengit, setelah mati-matian bertahan akhirnya kaum salib angkat tangan dan pergi meninggalkan tempat itu.


Pasukan Shalahuddin kembali memperoleh kemenangan besar, lalu dengan mudah menaklukkan benteng-benteng lain yang masih berada di bawah kekuasaan bangsa Eropa. Akhirnya Shalahuddin meninggalkan tempat itu dan pergi ke Damaskus.


***


Orang Eropa kembali mengajak damai, Sultan Shalahuddin tidak keberatan memenuhi keinginan musuhnya tersebut. Penyair dan para khatib menamakan hari itu dengan hari perdamaian dan sebelumnya adalah hari kemenangan karena dalam perjanjian itu terlibat seluruh kekuatan Eropa, Romawi dan Timur sebagaimana juga ikut di dalamnya orang-orang Mosul, Halab (Aleppo) dan Diyar Bakr. Semuanya berjanji kepada Sultan untuk tidak mengangkat senjata dan tidak akan melanggar perjanjian damai itu seumur hidup mereka.


Jiwa yang khianat tidak ada yang keluar darinya kecuali khianat, demikian juga jiwa jujur akan menampakkan kejujuran. Itulah yang dirasakan Sultan Agung Shalahuddin yang pantas menerima “dosa” tidak ada ampun disebabkan percaya pada janji-janji musuh meskipun musuh itu belum pernah sekalipun, menepati janji mereka.








BaGIAN KESEPULUH


BERDAMAI UNTUK MENANG








Sultan Shalahuddin sedang memikirkan rencana untuk menunaikan ibadah haji ke Baitullah, hatinya semakin rindu untuk segera melaksanakan salah satu rukun Islam tersebut, dia ingin mempergunakan kesempatan damai yang dilakukan antara timur dan barat itu untuk menunaikan kewajibannya.


Ketika sedang serius dalam pikirannya, ketika sedang menghayal bahwa keinginannya akan segera menjadi kenyataan, tiba-tiba Qadhi Fadhil muncul di hadapannya, Sultan berkata padanya, “Tahukah kamu apa yang sedang saya pikirkan wahai Abdurrahim? Saya sedang menyusun rencana untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam Rasul mulia. Saya ingin melaksanakannya sebagaimana engkau minta izin dari saya untuk itu belum lama ini. Kapan saja datangnya mati, saya harus tunaikan kewajiban itu”.


“Benar, tuanku, saya masih ingat, saya juga masih ingat ketika Sultan menulis surat kepada saya yang berisi, “Pergilah dengan kebaikan dari Allah, seandainya saya bersamamu saya pasti akan mendapat kemenangan”. Jawab Fadhil.


“Sejak itulah niat itu semakin kuat di hatiku. Saya selalu menantikan waktu yang sesuai untuk melaksanakannya, dan inilah saatnya kita mempergunakan kesempatan damai yang kita buat bersama orang Eropa”.


“Menurut saya, tuanku sebaiknya tidak perlu berpikir untuk haji, suasana belum cocok untuk itu!”. Saran Fadhil.


“Sekarang saya melihat suasana dalam keadaan damai dan tenang, haji adalah salah satu jihad, niat saya sudah bulat, insyaallah,” Jawab Sultan lalu diam beberapa saat, kemudian melanjutkan: “Saya membaca di beberapa buku, di sana diceritakan bahwa Rasyid menunaikan haji setahun dan berjihad setahun. Pahala haji di sisi Allah tidak kurang dari pahala jihad”.


“Saya paham tuanku, saya tahu, tapi apa yang sedang kita lakukan sekarang juga seperti haji, bukankah kesibukan tuan sekarang lebih bermanfaat bagi kaum muslimin, bukankah tuan sedang berperang dengan kaum kafir salib? Kalau saja tuan lalai, mereka akan segera menyerangmu”.


“Tapi kita dalam perdamaian yang disetujui oleh semua kalangan, dan sekarang saya mahu haji”. Shalahuddin bersikeras.


“Masihkah tuan percaya pada janji mereka, pada kebaikan mereka? Tuan mau menunaikan ibadah haji lalu membiarkan mereka ingkar janji? Tidak… bukan berarti tuan melalaikan kewajiban ini, niat yang benar sudah cukup untuk mendapatkan pahala amalan. Allah tidak melihat pada amalan seseorang, tetapi dia melihat niat yang benar baru amalan itu diterima. Selama tuan di medan jihad itulah ketaatan yang paling mulia dan paling tinggi dibandingkan dengan amalan lainnya”. Qadhi Fadhil menjelaskan.


“Kalau begitu saya tidak jadi menunaikan haji, siapa tahu tahun depan ada kesempatan lain, tetapi bantulah kami untuk mempergunakan kehidupan Imam Abu Thahir bin Auf. Saya sudah mendengar kehebatan Syeikh ini, katanya beliau sekarang sedang mengajarkan kitab Muwattha’ karya Imam Malik. Beliau tinggal di Iskandariyah. Bersiaplah wahai Abdurrahim untuk keberangkatan kita dan anak-anak kita untuk belajar dan memanfaatkan ilmu!”.


***


Mereka masih tenggelam dalam pembicaraan itu, tiba-tiba seseorang datang memberitahukan bahwa Malik Shalih, raja kecil pemimpin negeri Syam meninggal dunia, usianya belum sampai 20 tahun. Pembesar kerajaan kembali bertengkar memperebutkan jabatan, terutama kekuasaan negeri-negeri bagian.


Sultan kembali gelisah, kematian raja dan pertengkaran pejabat merupakan cobaan berat yang dialami Islam, dia bertekat untuk menyelasaikan seluruh masalah tersebut sebelum melakukan serangan menentukan terhadap kaum salib.


Lelaki itu terdiam beberapa lama, pikirannya menerawang jauh ke wilayah Halab untuk menasehati seluruh pemimpin di sana, seakan jasadnya sudah berada di tempat jauh itu, namun Qadhi Fadhil memotong lamunannya. “Jangan gelisah wahai tuanku, semoga Allah memanjangkan usiamu dan menjadikan kekuasaan anak itu jatuh ke tanganmu selama tujuanmu adalah untuk meninggikan kalimah Islam dan menjadikan orang Arab bergembira menyambut kemenangan, tidak ada pertolongan kecuali dari Allah”.


****


Beberapa bulan Shalahuddin mempersiapkan diri untuk berangkat, setelah segalanya siap, raja itu keluar dari Negara Mesir bernama sekelompok pejabat, ulama, prajurit dan sejumlah rakyat. Sementara di luar kota orang ramai sudah menunggu kedatangan tamu agung dari Cairo dan Fosthat itu, mereka sudah menyediakan kemah-kemah besar dan berbagai macam keperluan, sedangkan Shalahuddin masih duduk di tengah rombongannya, gerak-geriknya diperhatikan oleh orang tempat itu.


Begitu sampai di Damaskus, banyak orang yang mengajak Shalahuddin untuk segera menaklukkan Halab, tapi dia menolaknya dengan alasan masa perdamaian belum berakhir.


“Apakah tuan tidak melihat bahwa mereka sudah sepakat untuk menyerang kita di bawah pimpinan Hasyasyah (Ismailiyah). Hancurkan mereka sebelum mereka menghancurkanmu, kecohlah mereka sebelum mereka mengecohkanmu, patahkan serangan mereka sebelum mereka sempat mematahkanmu!”. Saran orang Damaskus suatu kali.


Shalahuddin hanya diam dan tetap pada prinsipnya, lalu dia berkata kepada pengikutnya, “Saya malu kalau Allah melihat saya ingkar janji”.


***


Waktu perdamaian sudah berakhir, Shalahuddin sudah bebas menyerang musuh, mulanya ia hanya menyurati pemimpin Islam agar menyerah padanya. Siapa yang patuh, maka negaranya akan selamat lalu diberi kesempatan untuk ikut bersama Sultan dalam pertempuran memerangi orang Eropa, sebaliknya siapa yang membantah, Shalahuddin akan segera menaklukkannya.


Raja-raja yang setuju dengan syarat yang diajukan Shalahuddin langsung mengirim utusannya sedangkan yang tidak setuju masih saja menantang.


Shalahuddin menuju Syam, dengan mudah kota itu ditaklukkan dan jatuh ke tangannya, lalu menuju Halab, kota tersebut juga segera menjadi wilayah kekuasaan Shalahuddin. Pemimpin daerah-daerah tersebut pecah belah, malah ada yang melarikan diri dan tidak kembali lagi ke tempat itu.


Sedangkan Sultan sendiri belum merasa puas dengan penaklukan negeri itu walaupun hal itu sudah banyak menyita waktu dan tenaganya.


Sejarah mencatat bahwa Shalahuddin terus menguasai wilayah Halab sampai berdirinya benteng-benteng kokoh di dalamnya, seakan suara gaib selalu mengajarnya dengan seruan Allah, menjanjikannya dengan kemenangan dari Allah, menyiapkannya terhadap masalah yang Allah inginkan, melaluinya Shalahuddin melihat dirinya seperti diarahkan kepada keinginan Allah yang ia sendiri belum tahu bentuknya.


Atas dasar itulah suatu hari Shalahuddin naik ke puncak benteng sambil berseru, “Demi Allah, saya tidak pernah puas dalam berbagai penaklukan sebagaimana saya puas atas penaklukan kota ini. Sekarang saya yakin akan segera menguasai negeri-negeri Islam dan meyapu habis kaum salib dari sana…!”.


Begitu Shalahuddin turun dari benteng itu, rakyat menyambutnya bagaikan ada sebuah pesta besar. Tengah malam, di tengah kebahagiaan tersebut, tiba-tiba seseorang datang menjumpai Sultan dengan sembunyi-sembunyi, orang itu membawa berita duka atas kematian adiknya Shalahuddin, Tajul Muluk. Sultan kembali sedih, tapi ia tidak mau hati rakyatnya juga merasakan kesedihan itu. Dia mencari tempat sunyi untuk menangis sepuas-puasnya. Sahabatnya dipesan agar tidak menyebarkan berita duka itu pada rakyat agar kebahagiaan mereka tidak terganggu.


Kemenangan Shalahuddin ke atas Halab sebagai pusatnya keluarga Nuruddin memudahkannya untuk menguasai Mosul, tempat kedua bagi kalangan keluarga Atabiki itu. Keadaan orang Mosul sama seperti orang Halab dalam memusuhi Shalahuddin.


Pernah sekali mereka mengutus salah seorang isteri Nuruddin memohon maaf atas kesalahan mereka agar mereka bisa tinggal dengan aman di dalamnya, lain kali mereka tahu bahwa Shalahuddin dalam keadaan sakit, mereka tahu bahwa sifatnya dalam keadaan sakit jauh lebih lembut daripada hari-hari biasanya. Mereka mengutus Bahauddin bin Syidad untuk berunding. Sultan sangat menghormati tamu-tamu itu, tapi ia menawarkan beberapa syarat untuk berlangsungnya perdamaian, yaitu disetujuinya Shalahuddin untuk menjadi raja terbesar di bagian utara emperator Islam. Mereka terpaksa menyetujuinya.


Tidak lama setelah kemenangan itu, sampailah kepada Shalahuddin berita kematian raja Armenia yang tidak meninggalkan anak atau kerabat. Rakyat negeri itu menyurati Shalahuddin untuk menceritakan keadaan mereka, segera Sultan Shalahuddin meminta kepada khalifah Abbasiyah di Bagdad agar mengizinkannya untuk menjadikan Armenia, Mosul, Halab, dan Diyar bakr di bawah kekuasaannya. Khalifah pun tidak keberatan dan menyetujuinya.


Shalahuddin memperhatikan kekuasaannya yang kini terbentang dari Birqah di sebelah barat sampai ke Yaman dan Nuba di arah selatan, sedangkan arah timur laut sampai ke Diyar Bakr, jazirah dan Armenia, lagi pula sekarang seluruh musuh yang ada di Syam sudah tumbang, dia betul-betul sudah menguasai sebagian besar wilayah Islam. Kinilah saatnya mewujudkan impian Islam dan muslimin di timur dan barat, cita-cita yang sudah lama dinantikan, yang dikumandangkan oleh raja Imaduddin dan anaknya Nuruddin yaitu mengusir kaum salib dari Al-Quds dan seluruh negeri Islam.














BAGIAN KESEBELAS


PERANG HITTIN








Raja Baldwin IV penguasa Baitul Maqdis telah meninggal dunia, posisinya segera digantikan oleh Baldwin V, anak seorang wanita besar yang namanya selalu disebut dalam buku-buku sejarah Eropa terutama yang menyangkut dengan perang salib, namanya Cybele. Seorang anaknya menjadi raja ketika masih kecil di bawah asuhan, Count Raymond, penguasa Tripoli.


Baldwin IV sudah menjalankan perdamaian selama 5 tahun. Setelah anak itu meninggal, Cibele menggantikannya dengan orang lain sebagai pemimpin di Al-Quds, sedangkan raja yang baru diangkat tersebut tidak menyukai Raymond, akhirnya Raymond memutuskan untuk kembali ke Tripoli, namun permusuhannya dengan pemimpin baru di Al-Quds terus berlangsung. Ketika permusuhan itu memuncak, Raymond tidak segan-segan untuk segera meminta bantuan dari Shalahuddin. Sultan Shalahuddin menyambut permintaan itu dengan senang hati walaupun kerja sama itu telah menghalangi untuk mengadakan penyerangan terhadap orang Eropa sampai berakhirnya masa perdamaian.


Pemimpin-pemimpin Eropa mengadakan pertemuan darurat yang diketuai oleh penguasa Baitul Maqdis, di antara pemimpin yang hadir dalam acara itu adalah Renault de Chatillon yang masih menguasai Karak, namanya dikenal di kalangan orang Arab dengan gelar Arnat. Para pemimpin yang berkumpul itu membentangkan situasi perang yang terus berkecamuk. Penguasa Baitul Maqdis, Baldwin V berpendapat bahwa mereka tidak perlu memerangi Shalahuddin sampai berakhirnya perdamaian, sedangkan Renault berpendapat agar segera melakukan serangan terhadap pemimpin besar Muslimin itu walaupun perdamaian belum berakhir. Shalahuddin sendiri tidak ada rencana untuk mengadakan perang sebelum berakhirnya masa damai tersebut, dia masih menanti dengan penuh kesabaran. Pada saat itulah Shalahuddin mendapat berita bahwa Renault sudah mempermainkan perdamaian. Ketika kafilah kaum muslimin yang baru kembali dari haji melewati wilayah Karak, Renault langsung menghadang mereka. Sebagian wanita ditawan , seluruh harta mereka dirampas. Renault juga menghina agama Islam. Masih seperti biasa ia berkata pada hari itu, “Sekarang panggillah Muhammad untuk membuka penjara ini!”. Kemudian ia terus mengeluarkan kata-kata hinaan dan ejekan. Semuanya sampai ke telinga Shalahuddin. Hatinya panas, darahnya menggelegak. Untuk kedua kalinya ia bertekad untuk membunuh pengkhianat itu dengan tangannya sendiri.


Shalahuddin mulai mempersiapkan pasukan, mulai melatih ketangkasan prajurit. Shalahuddin membacakan ayat-ayat Quran yang berkenaan dengan jihad yang tentu saja dengan bantuan ulama dan ahli sejarah yang menguasai cerita-cerita semangat, peperangan Islam dan kehidupan Rasulullah.


***


Sebentar lagi perdamaian akan berakhir, namun Shalahuddin segera mengumandangkan seruan jihad dan perang massal. Secara spontan sejumlah besar prajurit dari Mesir dan Syiria bergabung dengannya. Tidak ada perbedaan suku, maupun agama. Semuanya memiliki satu tujuan yaitu menyikat habis kaum salib dan membersihkan tanah Islam dari campur tangan mereka.


Tidak heran, kalau sejarah mencatat Kristen Qibti di Mesir dan Kristen di Syam tidak sedikitpun memberikan bantuan kepada kaum salib, juga tidak pernah keluar dari mereka sepatah kata pun yang menunjukkan dukungan mereka kepada bangsa Eropa.


Keuntungan apa yang diperoleh Qibti Mesir atau Kristen Syam dari peperangan itu, tetapi mereka hanya ingin menjamin keselamatan jiwa, keselamatan tanah mereka, keselamatan saudara mereka dan kembalinya bangsa Eropa ke negara masing-masing. Itulah yang terbaik bagi mereka daripada terus bertahan di tanah Islam.


***


Musim panas belum berakhir. Matahari terik membakar. Saat itu masih bulan juli, bulan yang paling panas di tanah Arab, sehingga teriknya sengatan matahari menyebabkan pasukan salibis yang bersal dari negara dingin Eropa kewalahan menghadapinya. Seperti biasa mereka selalu memulai penyerangan terhadap wilayah yang terletak dekat dengan posisi Shalahuddin. Tujuan mereka sebagaimana yang diperintahkan oleh Renault adalah mendahului kaum Muslimin untuk menguasai sumber mata air sebagai perbekalan minuman di saat teriknya sinar matahari.


Belum sempat mereka bergerak ke tempat yang rencananya akan dijadikan pusat pergerakan, ternyata kaum muslimin sudah terlebih dahulu membumihanguskan tempat tersebut, sedangkan jalan menuju mata air sudah dihadang oleh prajurit-prajurit Islam.


Perang berkecamuk dengan gencarnya, tentara Eropa semakin dahaga, matahari menyengat dari atas kepala mereka. Panas itu lebih terasa bagi mereka dibandingkan dengan tentara muslimin. Mereka terus dalam kesulitan sampai hari menjelang senja.


Pasukan muslimin masih bertahan pada posisi yang ditentukan Shalahuddin. Mereka belum mendapatkan komando untuk melanjutkan pertempurn sampai malam tiba. Ketika pagi menjelang, siang semakin jelas, matahari semakin menyengat, tanpa disadari ternyata sebagian besar pasukan musuh yang dipimpin Raymond kabur meninggalkan medan perang, lari menyelamatkan diri dari tebasan kaum Muslimin, salah seorang dari mereka lari untuk berjumpa Shalahuddin di kemahnya, ia berkata, “Wahai Sultan, mengapa engkau tidak segera menyerang mereka? Berangkatlah sekarang juga. Kerahkan seluruh pasukanmu! Mereka sedang sangat kesulitan dan dahaga yang tidak mungkin mereka akan menyelamatkan diri darimu!”.


Shalahudin melancarkan serangan pertama. Pasukan salibis kalang kabut jadinya. Mereka bertahan sambil bergerak mundur sampai akhirnya tiba di suatu tempat yang bernama Hittin, desa yang dikelilingi oleh desa-desa kecil. Menurut riwayat di sana terdapat makam Nabi Syuaib as.


Dipertengahan desa tersebut, pasukan salibis mendirikan kemah-kemah, sementara umat Islam belum berhasil menerobos ke tempat itu. Ternyata kaum salib telah berhasil membangun sebuah kemah besar, maka semuanya berkumpul di sekeliling kemah tersebut, di atasnya dipasang sepotong salib yang terbuat dari kayu tua. Menurut mereka Nabi Isa dibunuh di atasnya. Kayu itu dilapisi dengan mutiara dan intan, lalu kayu itu mereka jadikan bendera besar di setiap pertempuran yang dilancarkan atas nama agama mereka.


Kaum Muslimin sudah tiba di Hittin. Dengan penuh semangat mereka menghajar pasukan salibis yang ada di sana. Tidak ketinggalan juga kemah besar yang dijadikan markas raja mereka. Kaum salib mati-matian bertahan, namun tidak lama kemudian kekuatan mereka semakin melemah dan akhirnya kaum muslimin memporak-porandakan kemah tersebut, lalu menawan pemimpin salibis yang ada di dalamnya, kemudian menurunkan salib yang saat menurunkannya lebih sulit dari menawan raja itu sendiri.


Kemenangan gemilang kembali berpihak pada kaum Muslimin. Malam itu adalah 26 Rabiul Tsani tahun 583 Hijriah. Umat Islam menyambut kemenangan itu dengan doa, tahlil dan takbir. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…!.


Muslimin sedang riang gembira dengan takbir, tahlil, doa dan teriakan-teriakan bahagia, sedangkan Sultan Shalahuddin masih terlena dalam sujudnya, terbenam dalam tangisannya, terharu atas bantuan nyata yang diberikan Allah kepadanya, seakan ia sudah lenyap dari alam zahir.


Sultan mengangkat kepala dari sujudnya, ternyata dalam tawanannya terdapat pembesar-pembesar Eropa diantaranya, Gaudefroy, suaminya Cibele penguasa Baitul Maqdis, Renault penguasa Karak, juga penguasa Dawiyah, penguasa Hospitaller, penguasa Ramla dan Husn Jebail (Giblet) serta anak penguasa Tiberia dan banyak lagi pembesar Eropa lainnya.


Sebagian saksi mata menceritakan bahwa seorang tentara Muslim dengan menggunakan tali ikatan kemah mampu menyeret tiga puluhan tawanan. Tidak ada perlawanan dari tawanan itu karena kekalahan dan keputusasaan yang mereka alami.


Sultan Shalahuddin berdiri menatap pemimpin Dawiyah dan Hospitaller. Keduanya sudah diperintahkan untuk dipancung, karena merekalah sumber malapetaka dan kekafiran di seluruh negeri. Orang Eropa sangat membenci perbuatan Shalahuddin itu. Mereka mengibaratkannya sebagai noda hitam dalam putihnya sejarah bangsa Eropa.


Renault sudah diperintahkan untuk berdiri di samping saudaranya Gaudefroy. Hari semakin panas. Orang Eropa sendiri lebih senang menjadi tawanan agar mendapatkan air dari umat Islam. Shalahuddin membawa segelas air dingin, lalu disodorkannya kepada Gaudefroy, penguasa Baitul Maqdis, lalu Gaudefroy memberikan sedikit air itu kepada saudara yang ada di sampingnya. Sultan berkata kepada penerjemahnya, “Katakan pada Gaudefroy bahwa kamulah yang memberi minum saudaramu, sedangkan saya tidak memberikannya..!”.


Sebagaimana kebiasaan orang Arab, apabila seorang tawanan makan atau minum dari tangan orang yang menawannya, maka ia akan terlepas dari ancamannya, dan itulah yang dilakukan Shalahuddin terhadap Gaudefroy namun ia tidak menjamin keselamatan Renault karena tidak minum dari tangannya.


Shalahuddin memerintahkan beberapa prajurit untuk membawa penguasa Baitul Maqdis itu ke dalam kemah, lalu diikuti dengan Renault. Sultan memperingatkannya atas ucapan-ucapan keji yang dulunya sering diucapkan Renault untuk menghina Nabi Muhammad. Shalahuddin berkata pada Renault,


“Inilah saya, pembela Muhammad…!”.


Kemudian Sultan menawarkan Islam, Renault tetap enggan. Langsung saja Sultan mencabut pedang lalu menebas leher si pengkhianat itu. Setelah terpisah dari badan, kepala itu dilemparkannya ke pintu kemah. Selesai sudah usaha untuk memelihara kemuliaan Islam dan Muslimin.


Melihat nasib saudaranya yang malang itu, Gaudefroy menjadi gemetar. Dia belum yakin kalau Shalahuddin akan membiarkannya hidup. Sultan memanggilnya, lalu menenangkan perasaannya sambil berkata,


“Tidak pernah terjadi seorang raja membunuh raja. Tetapi ini sudah melampaui batas. Dia menghina Nabi kami, Muhammad. Kami sudah bernazar seandainya Allah memberikan kekuatan kepada kami untuk membunuhnya. Terjadilah apa yang terjadi…!”.


***


Qadhi Fadhil tidak sempat menyaksikan pertempuran Hittin itu. Ketika mendengar berita kemenangan kaum Muslimin, ia menulis kepada Shalahuddin.


“Hamba menulis surat ini. Sampai saat ini kepala belum terangkat dari tempat sujud, air mata belum kering dari alirannya. Setiap kali hamba mendengar biara-biara berubah menjadi masjid, tempat-tempat yang dulunya diserukan bahwa Tuhan itu tiga kali dikumandangkan bahwa Dia itu Esa, hamba memperbaharui rasa syukur. Kadang kala keluar melalui lidah, kadang-kadang dari pelupuk mata. Yusuf telah membalas jasanya karena telah membantunya keluar dari penjara. Kemuliaan itu bukan secangkir susu. Penaklukan itu bukan Amman atau Yaman. Pedang itu bukan pedangnya Ibnu Zi Yasin. Dan setelah penaklukan itu masih banyak hal yang ingin diucapkan. Banyak ucapan mulia yang belum terucapkan”.


Penyair datang dari segala penjuru. Datang untuk mengucapkan selamatan. Itulah hari yang dinanti-nantikan. Mereka melantunkan syair-syair istimewa yang dalam sejarah sastra Arab dikenal dengan nama Al-Qudsiyat dinisbahkan kepada Al-Quds. Menunjukkan bahwa Kemenangan Shalahuddin saat itu merupakan langkah menentukan untuk penaklukan Baitul Maqdis.


BAGIAN KEDUA BELAS
BERKAT FATWA


Qadhil Fadhil dan Qadhi Bahauddin bin Syidad menjumpai Sultan Shalahuddin. Keduanya mengucapkan selamat atas kemenangan Hittin. Mereka kembali berbicara mengenai perang, politik dan jihad. Bahauddin bin Syidad berkata kepada Sultan, “Tuanku, engkau rela meninggalkan keluarga, anak, negeri dan tempat tinggal demi jihad. Engkau begitu qana’ah dalam hal keduniaan. Engkau tinggal di kemah bocor yang angin malam menembus ke dalamnya, kemah yang goyang ke kiri dan ke kanan”.
Qadhil Fadhil berkata pada Bahauddin, “Pada malam yang lalu, kemahnya tumbang ditiup angin, sedangkan Sultan pada saat itu berada di luar kemah, namun hal itu tidak sedikitpun berpengaruh pada kecintaannya terhadap jihad dan ketangguhannya menahan penderitaan”.
Nasir hanya tersenyum mendengar pembicaraan dua orang kepercayaan itu, lalu berkata, “Semoga Allah memberkati kalian. Maukah kalian berjalan-jalan ketepian pantai untuk melepaskan lelah..?”
Shalahuddin berjalan ke arah laut. Qadhi Fadhil berjalan di sebelah kanan dan Ibnu Syidad di samping kirinya. Mereka tenggelam dalam lamunan masing-masing. Angin meniup kencang, Air laut bergelombang. Ibnu Syidad merasa ngeri melihat laut itu. Ia teringat keadaan orang yang mengarungi lautan hanya untuk memperoleh belanja sedinar atau sedirham.
Ibnu Syidad berkata, “Ketika itu, tiba-tiba Sultan menoleh ke arah saya dan Fadhil, lalu berkata,
“Wahai Qadhi, maukah kalian saya ceritakan sesuatu yang selalu memenuhi pikiranku?”.
“Tentu saja wahai Sultan…!”, jawab kami.
“Kapan saja Allah izinkan kepadaku penaklukan sisa-sisa wilayah pantai, saya akan meninggalkan negeri-negeri itu untuk mengarungi lautan dan singgah di seluruh pulau. Saya akan mencari orang Eropa sehingga saya tidak membiarkan seorang pun yang kufur kepada Allah di muka bumi atau saya mati karenanya..,” Jelas Sultan.
Ucapan itu begitu menusuk hati Ibun Syidad, lalu menjawab, “Tidak ada di dunia ini orang yang paling berani, yang paling tegar daripada tuanku, dan tidak ada orang yang paling yakin pada pertolongan Allah melainkan tuan”.
Lalu Ibnu Syidad memohon pada Sultan untuk mengungkapkan perasaannya. Sultan dan Fadhil hanya tersenyum sampai ucapan Ibnu Syidad menghentikan mereka: “Itulah sebabnya saya menghimpun kitab-kitab fazail jihad kepadamu. Saya ungkapkan disana adab-adab dari ayat Qur’an dan seluruh hadits yang diriwayatkan pada makna jihad”.
“Apakah engkau sudah menyusunnya. Kalau begitu berikan padaku kitab itu, semoga saja saya dapat membacanya sebelum menuju ke Asqalan,” Jawab Nasir.
“Asqalan…, bukankah itu gerbangnya Al-Quds? Kapan saja Allah berikan kepada kita kota itu, niscaya seluruh kota tepi pantai akan menyerah kepada kita,” Sambung Fadhil penuh semangat.
“Kalau begitu, kita harus segera menaklukkan Asqalan! Setelah kota itu tunduk kepada kita, kita akan membiarkan prajurit dan kuda-kuda beristirahat dari kepenatan pertempuran,” Saran Sultan.
“Apakah kita akan mampu untuk itu, wahai Sultan? Di belakang kita terdapat kota Sur. Tempat itu juga sangat kuat. Kalau kita membiarkan mereka agak lama, kekuatan Eropa akan berkumpul disana, lalu mereka membentuk kelompok kecil tapi berbahaya,” Jawab Fadhil.
“Engkau benar, wahai Abdurrahim! Akan tetapi apa boleh buat, prajurit kita sebagaimana yang kamu lihat sudah sangat lelah bertempur di medan perang,” Jelas Shalahuddin.
“Semuanya terserah pada Sultan…,” Balas Fadhil.
Ternyata benar yang dikatakan Fadhil, belum sempat pembicaraannya bersama Nasir habis, seseorang datang memberitahukan bahwa orang Eropa kembali mempersiapkan pasukan di Sur. Mereka sedang memperbaharui benteng-benteng, mendirikan menara dan menggali parit di sekeliling kota itu. Mereka bekerja sangat serius dan tidak kenal lelah. Sedangkan yang memimpn gerakan berbahaya itu adalah seorang pemimpin pasukan salibis yang datang dari Konstatinopel, namanya Conrad.
“Ayah raja itu sudah sangat tua dan sekarang berada dalam tawanan kita di Damaskus,” Ujar Fadhil.
“Tuanku, perintahkan agar orang tua itu dihadapkan padamu! Tawarkan pada raja itu bahwa engkau membebaskan ayahnya kalau ia berhenti dari usaha mendirikan benteng,” Sambung Fadhil menyerankan.
Shalahuddin membawa orang tua itu untuk menemui anaknya. Conrad, lalu menawarkan kepadanya kebebasan ayah kalau ia berhenti membangun benteng. Akan tetapi, pemimpin salib itu segera menyodorkan salib ke muka Sultan dan berkata, “Demi salib ini, saya tidak akan turun satu anak batu pun dari benteng ini! Ayahku sudah berusia lanjut. Cukuplah baginya hidup ini! Kalau Sultan mau, bunuhlah ia! kalau tidak, biarkan ia hidup..!”
Shalahuddin terkejut mendegar jawaban Conrad. Ia segera menangkap keberanian yang dimiliki pemimpin salibis itu. Nampaknya ia sudah betul-betul siap untuk menghadapi Shalahuddin. Shalahuddin berangkat ke Asqalan, lalu mengepung kota itu selama 14 hari. Tidak lama kemudian ia berhasil menaklukkan kota penting tersebut. Terbukalah baginya gerbang menuju Al-Quds.
Pikiran Sultan dipenuhi oleh ingatan-ingatan lama yang sungguh menyenangkan. Dan yang paling mengesankan adalah ingatan kepada amirul mukminin Umar bin Khattab. Dialah orang pertama yang menaklukkan kota Al-Quds.
Shalahuddin memutuskan untuk tidak langsung menyerang Al-Quds, dia mengirimkan sepucuk surat yang ditujukan kepada seluruh penghuni kota suci itu. “Ketahuilah oleh kalian, wahai penghuni Al-Quds, bahwa kami umat Islam menyucikan tempat ini. Kami tidak pernah ingin menyakiti tanah ini dan penghuninya. Kalau kalian masuk Islam, maka kalian akan selamat. Kalau tidak, dengan terpaksa kami menyerang kalian walaupun di tanah suci bagi kami dan kalian ini!”.
Berturut-turut kedua belah pihak saling mengirim utusan. Namun pasukan salibis belum juga mau menyerah. Akhirnya Sultan mengerahkan sekelompok raksasa pasukan kaum Muslimin, lalu mengepung benteng-benteng musuh selama 5 hari. Setelah itu pasukan Islam di bawah komando Shalahuddin menyerbu kota suci ketiga bagi umat Islam itu. Tidak ada pilihan lain bagi orang Eropa yang berada di Al-Quds melainkan mengorbankan jiwa, harta dan anak mereka untuk tetap bisa bertahan di tanah itu.
Setelah betul-betul yakin akan mengalami kekalahan kalau terus bertempur dengan pejuang Islam, mereka memutuskan untuk berdamai, dan mereka mengutus pemimpin wilayah Ramla yang pernah ditawan oleh Shalahuddin dan dibebaskan pada hari penaklukan Hittin dengan janji tidak akan mengadakan perang dengan umat Islam seumur hidupnya. Begitu menjauh ia lupa pada janjinya, ia menghinakan martabatnya sendiri. Walaupun demikian, Sultan tetap mau berunding dengannya. Utusan itu berkata, “Ketahuilah, wahai Sultan bahwa di kota ini terdapat kelompok yang kami dan engkau tidak mengenalnya. Mereka menyukai mati dan membenci hidup, bahkan mereka tidak pernah segan untuk membunuh anak atau istrinya sendiri kalau hal itu diperlukan. Itulah yang lebih baik bagi mereka daripada membayar sedinar atau sedirham kepadamu”.
“Negeri yang kalian tempati ini adalah negeri Islam. Kalian datang dari seberang laut. Kalian menamakan diri kalian dengan salibis. Tetapnya kalian di samping kami merupakan aib terbesar bagi kami, kami tidak akan bisa tidur dan tidak akan tenang sebelum kalian keluar dari tempat ini,” jawab Sultan.
Akhirnya perundingan selesai, dan Sultan mengizinkan mereka untuk meninggalkan Al-Quds secepatnya dalam jangka waktu 40 hari. Setiap lelaki diwajibkan menebus dirinya 10 Dinar, wanita 5 Dinar dan anak-anak 2 Dinar. Kalau tidak, mereka akan menjadi tawanan.
Inilah Sultan agung yang tidak tega melihat manusia berbondong-bondong meninggalkan negeri mereka, meninggalkan rumah dan perhiasan mereka, meninggalkan tempat suci yang tidak mungkin kembali lagi setelah itu. Sultan menjauh dari mereka dan bersembunyi di balik kemahnya. Semoga saja kemuliaan mereka tidak terusik, hati mereka tidak terluka dan mereka tidak merasa malu meninggalkan Al-Quds.
Inilah Sultan agung, ketika diminta untuk melepaskan 7.000 orang tua dan anak-anak, dia melepaskannya, lalu membebaskan lagi 10.000 orang miskin Eropa yang tidak mampu menebus jiwa mereka dari tawanan pasukan Muslimin.
Shalahuddin meluangkan waktunya sehari penuh untuk urusan itu. Dari pagi sampai terbenam matahari. Seseorang terus berseru, “Apakah masih ada orang miskin, maka kami akan membantunya. Apakah masih ada orang tua, kami akan menjaganya. Apakah masih ada orang lemah, kami akan melayaninya…!”.
Sekelompok besar orang Eropa datang menjumpai Sultan. Ada yang memapah dua orang tuanya yang sudah berusia lanjut dan ada yang memikul saudara-saudaranya yang sakit.
Shalahuddin menangis menyaksikan peristiwa itu, lalu memerintahkan untuk mengembalikan tebusan yang telah mereka bayar dan menghadiahkan tunggangan agar mereka pergi kemana saja.
Seorang wanita tua datang, tubuhnya lemah tak berdaya, jalannya sempoyongan. Beberapa orang memapah perempuan tua tersebut. la membawa seluruh hartanya. Sultan melihat kejadian itu, lalu memerintahkan agar diberikan bantuan secepatnya dan menawarkan bantuannya sendiri kalau nanti diperlukan.
Sepucuk surat sampai ke tangan Sultan. Penulisnya adalah seorang wanita besar Kristen. Suaminya adalah penguasa Tiberia. Wanita itu sudah mendengar berita perang Hittin dan Al-Quds. Dia sudah yakin akan menjadi salah seorang tawanan kaum Muslimin. Dia menulis surat itu untuk memohon jaminan keselamatan dari Shalahuddin. Setelah membaca isi surat, Shalahuddin mengirim utusan untuk mengabarkan bahwa ia akan selamat. Barulah wanita ia merasa tenang dan berani keluar dari tempat persembunyiannya lalu pergi dengan selamat dan terjaga.
Seorang panglima besar dari Roma keluar dari kota dengan mengangkut seluruh hartanya yang melimpah, tidak sedikitpun harta itu dipakainya untuk menebus tawanannya sendiri. Kaum Muslimin yang melihatnya memohon kepada Shalahuddin untuk merampas harta itu lalu digunakan untuk kemaslahatan pasukan Islam. Sultan menjawab:
“Tidak, tidak, kita tidak punya hak dari hartanya kecuali 10 Dinar untuk tebusan dirinya. Kita sudah menyuruhnya keluar bersama hartanya dan kita tidak butuh pada harta itu”.
“Beberapa ahli sejarah Eropa melukiskan peristiwa tersebut. “Seorang raja Muslim mengajarkan kewibawaan kepada pendeta Kristen”.
Seorang perempuan Eropa berdiri di depan kemah Sultan sambil menagis tersedu-sedu. Sambil melumuri mukanya dengan pasir, membenturkan kepalanya ke tanah. Dia tidak mau beranjak dari tempatnya. Akhirnya Sultan tahu bahwa perempuan itu kehilangan anaknya yang baru berusia tiga bulan kemarin malam. Ketika pemimpin Eropa yang mengetahui hal itu, mereka menyuruhnya menjumpai Shalahuddin. Shalahuddin menjadi sedih, air matanya mengalir, lalu memerintahkan agar anak itu dikembalikan. Ternyata anak tersebut sudah dijual ke pasar, lalu Shalahuddin membayar harga anak dan mengembalikannya kepada ibunya.
Shalahuddin tetap di tempatnya sampai anak itu dibawakan kepadanya lalu diserahkan dengan tangan sendiri kepada ibunya, kemudian menghadiahkan seekor kuda dan perempuan itu kembali ke perkemahan orang Eropa.
Itulah lelaki agung, memiliki hati yang lapang, wibawa yang tinggi, memaafkan ketika berkuasa, menyayangi ketika kesulitan, mengetahui hak-hak kemanusiaan pada orang lain sebagaimana pada dirinya.



BAGIAN KETIGA BELAS
PENGEPUNGAN AKKO

Sultan Shalahuddin baru saja menyelamatkan Al-Quds. Sekarang ia sedang memikirkan daerah-daerah lain yang masih berada di bawah jajahan kaum salib. Rupanya hanya dengan gertakan saja satu persatu wilayah itu takluk padanya. Sultan dengan senang hati menyambut penyerahan Sahyun, Bagras, Karak, Safad (Zefat), Kaukab (Belvoir). Berarti hanya satu lagi benteng yang belum ditaklukkannya, yaitu Akko (Acre).
Dengan susah payah, akhirnya Sultan berhasil sampai di Akko. Kalau saja Sultan berhasil menguasi kota ini, maka orang Eropa akan kembali merasakan kekalahan total. Orang Eropa sudah sepakat untuk mengepung tempat itu untuk menakut-nakuti umat Islam sambil meminta bala bantuan dari pasukan Eropa yang masih ada di negaranya. Mereka sudah mengirimkan utusan untuk mengajak saudaranya yang masih berada di seberang laut dengan mengelu-elukan istilah perang salib. Suasana pun kembali panas, mulailah orang Eropa mengadakan pengangkutan besar-besaran dari benua Eropa menuju Akko. Gerakan itu menghabiskan waktu yang tidak sedikit, sedangkan mereka yang ada di timur semakin memperkokoh kepungan terhadap Akko.
Pengepungan itu sudah mencapai dua tahun lamanya, sampai-sampai kedua pihak merasakan kepenatan dan bosan. Yang akhirnya menyebabkan kebanyakan mereka betul-betul tidak mau lagi berperang, malah mereka mempergunakannya untuk bergurau dan bercanda seakan mereka tidak pernah becanda sebelumnya.
“Sampai kapan kita orang dewasa berperang, sedangkan anak kecil tidak pernah kita berikan kesempatan untuk itu. Keluarkan dua orang anak dari pihak kalian dan dua orang dari kami! Kita akan menyaksikan bagaimana anak-anak itu bertarung. Tidak lama kemudian, empat orang bocah maju ke depan dan bertempur sebagaimana layaknya orang dewasa berperang, sampai akhirnya seorang anak Muslim melompat dan mematahkan serangan anak Eropa, lalu anak tersebut dijadikan tawanan. Kaum Muslimin tertawa riang gembira. Sedangkan orang Eropa dengan terpaksa mengeluarkan duit sebesar dua Dinar untuk tebusan anak mereka, kemudian anak itu dilepaskan.
Permainan itu mirip dengan suara tawa orang gelisah. Suaranya semakin keruh. Sebenarnya kedua pasukan raksasa itu sedang mengalami sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Kaum Muslimin yang terkepung di Akko semakin hari nasib mereka semakin menyedihkan. Semangat mereka semakin dingin, kekuatan semakin lemah. Sultan yang mengetahui keadaan prajuritnya dalam keadaan yang sangat parah itu menjadi sedih. Air matanya bercucuran dan kekecewaan memenuhi hatinya.
Sultan sudah memesan pada pembesar-pembesar yang ada di Mesir untuk mengirimkan bantuan dan perbekalan kepada prajurit yang terkepung di Akko, sebagaimana ia juga meminta dikirimkan seorang alim yang mampu membangkitkan kembali semangat juang yang semakin lentur di kalangan pasukan Muslimin.
Sebuah perahu besar yang berisi penuh dengan perbekalan, makanan dan minuman sudah dikirimkan, namun belum sempat sampai ke tangan kaum Muslimin, kiriman itu sudah duluan dirampas oleh pasukan salibis yang mengepung Akko. Perahu kedua segera menyusul, ternyata di tengah laut terjadi pertarungan hebat antara pasukan Muslimin dan salibis yang hasilnya perbekalan itu tidak mencapai sasaran. Tidak lama kemudian perahu ketiga menyusul, namun sayang, gelombang besar dan badai telah menyebabkan perahu itu hancur dan tenggelam dengan sendirinya.
Akhirnya sultan meminta para jago renang untuk mengawasi keadaan kapal dari bawah air sepanjang perjalanan. dengan cara inilah akhirnya perbekalan kaum Muslimin itu sampai ke tujuan, memenuhi kebutuhan pasukan Islam yang sedang kelaparan dikepung musuh. Di antara perenang yang sangat terkenal pada waktu itu adalah Awam Isa, seorang pemuda beragama Kristen ini menunjukkan betapa kebencian mereka terhadap bangsa Eropa yang menjajah tanah Arab.
Pada suatu hari kaum Muslimin kembali dikejutkan oleh musuh yang sudah berhasil mendirikan tiga buah tugu raksasa, terbuat dari besi dan kayu, lalu dilapisi dengan kulit yang sudah direndam dalam cuka agar tidak dimakan api menurut pengakuan mereka. Setiap tugu besar itu mampu menampung sebanyak lima ratus orang manusia. Kaum Muslimin mulai gentar menyaksikan pemandangan itu. Sultan segera menghimpun ahli bangunan pada saat itu untuk sama-sama berpikir cara menghancurkan tugu sebelum segalanya terlambat. Akhirnya seorang pemuda dari Damaskus mengaku sudah mendapatkan akal untuk meruntuhkan bangunan itu. Sultan memerintahkan bawahannya untuk menyediakan seluruh keperluannya. Pemuda itu merebus ramuannya, lalu dicampur dengan sedikit air dan dimasukkan dalam periuk tembaga. Setelah semuanya selesai, ramuan itu dilemparkan ke atas salah satu tugu, langsung saja bangunan itu terbakar dengan mudah. Kaum Muslimin bergembira, suara takbir membahana kembali, pemuda itu membakar tugu berikutnya dan akhirnya seluruh tugu rata dengan tanah.
Sultan dan kaum Muslimin beramai-ramai mengucapkan selamat kepada pemuda cerdik Damaskus tersebut. Sultan hendak memberikan hadiah kepada pemuda atas jerih payahnya, pemuda itu langsung menolak dan berkata, “Tuanku saya berbuat hanya karena Allah, saya tidak akan menerima balasan selain dariNya”.
Peperangan sudah lama berlangsung. Sebagian pembesar kaum Muslimin minta izin dari Sultan untuk kembali ke negerinya. Betapa hancurnya harapan Sultan, jantungnya terasa copot dan jatuh di selal-sela usus. Pada saat yang sama pasukan Islam yang terkepung di Akko dikejutkan oleh serangan mendadak yang dilancarkan kaum salib ke atas mereka. Sultan langsung berdiri dan berseru dengan lantang, Sungguh malang nasib Islam dan pejuang Islam…!”.
Pembesar-pembesar itu dengan spontas menjawab seruan itu. Semangat mereka kembali membara. Tidak buang-buang waktu lagi, mereka langsung menyerbu pasukan salibis. Pertempuran dahsyatpun terjadi. Satu persatu prajurit Eropa dilumpuhkan sampai akhirnya pasukan Islam berhasil menembus masuk ke dalam kota di bawah komando Shalahuddin.
Begitu malam tiba, kaum Muslimin mempergunakannya untuk tidur melepaskan lelah. Ternyata tindakan itu sangat tidak tepat. Keesokan harinya mereka dikejutkan oleh musuh yang sudah memagar betis kota itu, Tidak ada kemungkinan bagi umat Islam untuk hidup pada waktu itu. Sultan sangat gelisah, dunia menjadi sempit di matanya. Kesabarannya lenyap. Kekecewaan terlihat jelas di wajahnya. Hatinya bertambah sedih ketika mengingat keadaan pasukan Islam yang terkepung di Akko. Sungguh mereka dalam keadaan yang lebih baik mati daripada hidup menderita.
Ya Allah, kasihanilah mereka. Musuh di depan mereka, bencana mengancam nyawa mereka sedangkan kelaparan mencabik-cabik usus mereka
Seluruh berita buruk itu sampai ke telinga Sultan. Ia berdiri geram. Giginya disentakkan, kakinya menghantam bumi lalu berteriak dengan teriakan yang seolah-olah membuat benteng-benteng berguncang hebat.
“Bunuhlah aku…!. Bunuhlah raja…!. Bunuhlah raja bersamaku…!”
“Ini semua karena saya dan musuh saya, wahai Tuhanku…!”.
Itulah saat yang mencerminkan kehidupan Shalahuddin seluruhnya. Itulah saat yang sangat mengecewakannya. Hari itu ia merasakan kepedihan yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Semua itu menyebabkan Shalahuddin semakin yakin bahwa setelah kekalahan pasti akan datang kemenangan.
Sultan masih gelisah memikirkan Akko. Pasukan Muslimin dikepung oleh musuh besarnya, pasukan salibis yang datang dari Eropa dengan alasan memelihara Baitul Maqdis. Jumlah mereka semakin hari semakin banyak disebabkan bantuan yang dikirim oleh raja-raja yang berkuasa di Eropa pada saat itu.
Jumlah mereka semakin ramai. Bagaikan air bah mereka mengalir dari seberang laut untuk membantu saudara mereka yang sedang mengepung Akko. Sambil membawa salib mereka datang untuk merebut kembali Baitul Maqdis yang kini sudah kembali berada di tangan umat Islam.
Di antara pembesar Eropa yang ikut datang ke Akko pada saat itu adalah Emperor Jerman, Friedrich Barbarossa. Phillippe II. Raja Perancis dan Richard I, Raja Inggris orang Arab menyebutnya Inktar.
Pasukan besar kunci kekuatan salibis itu datang dari Eropa, namun di tengah laut, perahu mereka tenggelam ditelan ombak, dan yang berhasil sampai di Akko, hanyalah sebagian kecil dari mereka.
Di gerbang Akko, pasukan salibis berhenti. Ikut juga bersama mereka Richard yang berdiri memegang injil yang sudah dibungkus dengan kain atlas.
Mereka serentak menyerbu pasukan Shalahuddin. Kaum Muslimin kalang kabut jadinya. Kaum salibis berhasil memasuki Akko. Mereka merampas harta dan menawan umat Islam. Shalahuddin terpaksa memenuhi keinginan itu dengan syarat tidak akan membunuh seorangpun tawanan itu. Namun yang terjadi justru sebaliknya, hati khianat tidak pernah menepati janji. Mereka masih seperti dulu. Mereka menghimpun tiga ribu tawanan Muslimin lalu membunuhnya dengan tragis. Tidak sedikitpun mereka kasihan, malah mereka merayakan malam itu dengan pesta pora, mereka menikmati pemandangan itu sepuas-puasnya, kemudian mereka menghabiskan malam itu dengan pesta, minuman keras dan wanita-wanita yang disediakan khusus untuk mereka.
Itulah cara kaum salib membalas luka mereka dari Shalahuddin. Mereka telah berhasil melumpuhkan kekuatan Islam. Mereka semakin percaya diri. Kekuatan mereka tidak diragukan lagi. Mereka yakin sebentar lagi akan segera merebut kembali Al-Quds dari tangan kaum Muslimin.




BAGIAN KEEMPAT BELAS
BISIKAN DUA SAHABAT


Sultan pasrah pada kegagalan itu. Hatinya semakin bingung. Kekalahan terkecil baginya adalah kekalahan di Akko dan yang terbesar adalah hilangnya semangat juang para prajurit serta keinginan pembesar untuk kembali ke negerinya masing-masing, mereka sudah bosan berperang, sedangkan salibis sedang bersiap-siap untuk merebut kembali Baitul Maqdis.
Pada saat itu, Qadhi Fadhil berada di Mesir. Dia selalu menyediakan kebutuhan yang diperlukan Sultan di medan perang seperti menyiapkan pasukan dan kebutuhan lain di medan juang. Ketika mendengar berita kesulitan yang sedang dihadapi Shalahuddin, hatinya pun ikut gelisah. Dikabarkan padanya bahwa Sultan tidak mau makan dan minum. Penasehat ulung ini merasa bertanggung jawab untuk meringankan beban tuannya itu.
Siapa lagi harapan Shalahuddin untuk menenangkan kembali hatinya selain sahabat yang selalu mengandalkan ketajaman mata penanya untuk meringankan beban berat yang sedang dipikulnya dan menyita kebanyakan waktu dan pekerjaannya. Terjadilah surat-menyurat antara dua bersahabat ini. Shalahuddin mengadu dan mengungkapkan keluhannya pada Fadhil, lau Fadhil menasehatinya dan memberikan semangat baru bagi Sultan dengan mengembalikan keyakinan kepada pertolongan Allah yang akan segera turun dan Allah tidak pernah menyia-nyiakan pejuang di jalanNya.
Dalam sebuah surat, Fadhil menulis:
“Bukankah Allah mengetahui hati manusia. Bukankah Dia tidak memberi kesempatan, belum memilih, belum memudahkan dan belum menggunakan seorangpun untuk menegakkan agama Nya, meninggikan kalimat Nya, memelihara Syiar Nya dan menjaga hati orang yang mentauhidkan Nya melainkan tuanku?.
Ketahuilah wahai yang menyerupai nabi, pewaris raja-raja, pemilik harta melimpah, punya kekuatan tangguh. Allah telah menggantikan mereka dengan menjadikan mereka malas lalu engkau diberikan kesungguhan, dunia menjadi tuhan mereka sedangkan tuanku membencinya, bagi mereka sulit tapi bagi tuanku sangat mudah, tangan mereka terkekang sedangkan tangan tuanku bebas bergerak, pedang mereka tidak berdaya. Merekalah orang yang menantikan namun tidak mau berjuang.
Ya, ada yang lebih penting, kapan saja kekuatan kafir itu bersatu di seluruh alam, di seluruh pelosok bumi, di timur, di barat, tidak seorangpun yang terlambat dari mereka. Ketika tidak ada penghalang antara tuanku dengan mereka, mereka keluar menebar kerusakan. Tidak ada harta yang diinfaqkan, tidak ada kekuatan yang menghancurkan mereka. Mereka menyerbu dari segala penjuru, dari segala arah. darat dan laut mereka mengepung. Tuanku, engkau sebagaimana kata orang, semoga Allah menjagamu.
Engkau bukan orang yang kalah
Tapi kaulah Islam penghancur kemusyrikan
Tuanku tidak akan mampu mengajak mereka kecuali dengan dakwah dengan kecepatan lisan, keluarkan segala sesuatu untuk mereka, berikan pada mereka imbalan-imbalan yang melebihi permintaan. Belilah sejengkal dengan sehasta, sehasta dengan sedepa. Engkau ajak mereka kepada Allah sebagaimana engkau ajak mereka kepada dirimu, bebani mereka dengan kewajiban dan perkara sunat, berikan kepada mereka kabar gembira tentang surga seakan tuanku mau mendapatkannya melebihi mereka. Pendapat tentu berselisih, musyawarah itu bermacam-macam. Ada yang mengatakan mengapa kita tidak menyerah, yang lain bertanya kenapa tidak ajak berunding. Kalau terus dibiarkan, Akko akan selamanya di tangan mereka.
Hamba harapkan semoga wajah yang berseri-seri tidak berubah, dada tidak menjadi sempit, lisan tetap dalam kebaikan, semoga tuan tidak merasa kecewa kekerasan akan lenyap lalu tinggallah kebahagiaan, kesusahan akan sirna lalu tinggallah imbalannya. Sebagaimana kenikmatan itu kini telah hilang begitu juga cobaan ini sebentar lagi akan lenyap juga.
Apakah kemenangan itu akan datang tanpa susah payah. Saya membenci kelemahan. Kita harus mewujudkan kehendak Allah terhadap makhluk Nya, tidak ada yang mampu menolak hukum. Barangsiapa yang menerima ketetapan Nya dengan penuh kerelaan dia akan mendapatkan pahala. Barangsiapa mengadu kelah kesuhnya kepada Allah, berarti ia mengadu pada Zat yang mahakuasa, mengadu pada zat yang seharusnya menjadi tempat mengadu. Barangsiapa berdoa kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi, maka Allah akan mengabulkannya terang-terangan. Tuanku, mengadulah kepada Allah secara diam-diam, tuanku jangan khawatir dengan kekalahan itu karena ia akan segera lenyap, tuanku sudah tahu bahwa hari-hari berputar atas kehendak Penciptanya.
Sesungguhnya Allah tidak menyegerakan kemenangan yang hak kecuali di tangan sebaik-baik ciptaan Nya. Tuanku sudah mengetahui kelebihan orang-orang dahulu, berita para nabi yang Allah memerintahkan nabinya Muhammad untuk mengikuti petunjuk mereka, menjalani jalan mereka, meniru ulul azmi. Surga itu mahal, Allah tidak akan menguji hamba Nya kecuali yang mampu bersabar. Dunia saling menghapus satu sama lain, yang berlalu seakan tidak pernah terjadi. Hilangnya kelelahan tinggallah ganjarannya. Kehidupan ini bagaikan mimpi. Wasiat yang paling penting dalam surat ini adalah, jangan sampai tuan merasa lemah, jangan sampai kesehatan terganggu. Umar adalah bangunan dan Shalahuddin adalah pondasinya. Allah akan memelihara pondasi itu untuk membela kebenaran”.
***
Sultan membaca surat itu, hatinya menjadi tenang. Sekarang ia mendapatkan kembali dua kekuatan di hatinya, pertama yakin kepada Allah sebagai keharusan bagi setiap muslim di setiap waktu dan keadaan, dan kedua percaya pada diri sendiri. Ia merasa dirinya sebagai kiblatnya kekuatan Islam saat itu, kalau dia lemah maka Islam di timur dan barat akan ikut lemah juga.
Sultan meniggalkan Akko, lalu bersama prajuritnya bergerak menuju Al-Quds, karena ia tahu bahwa tujuan pasukan salib datang ke timur hanyalah untuk merebut kembali kota suci itu.
Orang yang paling benci pada Islam saat itu adalah Richard, raja Inggris yang di kalangan orang Arab lebih dikenal dengan Inktar, ia juga digelar dengan si Hati Singa (Coeur de lion). Kehebatan raja ini terletak pada kemampuannya memenangkan pertempuran antara salibis dan Muslimin belum lama berlalu.
Senjata yang dimiliki Richard adalah kecerdikan dan tipu dayanya yang sangat hebat, namun ia berhadapan dengan Shalahuddin yang memiliki senjata iman dan kesabaran. Si Hati Singa mengumpulkan saudara-saudaranya, lalu mengingatkan kembali tujuan utama kedatangan mereka ke timur yaitu merebut kembali Baitul Maqdis. Mereka segera menuju ke kota itu. Shalahuddin sedang mempersiapkan prajuritnya di suatu tempat yang tidak jauh dari Al-Quds. Namun peristiwa yang tidak disangka-sangka kembali terjadi, pemimpin-pemimpin pasukan Muslimin kembali berselisih. Ada yang putus asa dan tidak mau lagi berperang, ada juga yang ingin pulang ke negerinya dengan alasan untuk berbakti bagi masyarakat.
Begitu berat cobaan ini wahai Sultan, belum lama berlalu engkau bersedih atas kematian adikmu dan kini masalah lain kembali menghantuimu.
Hanya saja kesulitan yang satu ini akan bertahan lama. Sultan menghimpun seluruh prajurit dan para pembesar kerajaan, lalu Qadhi Bahauddin menyeru mereka agar kembali bersemangat untuk berjihad di jalan Allah.
“Apabila Rasulullah mengalami suatu kesulitan, para sahabat akan segera berbai’at padanya untuk mati di medan perang. Dan kita lebih berhak untuk meniru cara ini. Menurut saya, hendaknya kalian semua berkumpul di tengah gurun lalu bersumpah untuk syahid, semoga dengan niat yang tulus itu musuh akan terkalahkan,” Pesan Bahauddin.
Semua hadirin setuju dengan pendapat itu, mereka langsung bersumpah sesama mereka. Sultan Shalahuddin yang menyaksikan peristiwa itu angkat bicara, “Alhamdulillah, wasshalatu wassalamu ‘ala Rasulillah. Ketahuilah bahwa kalian ini tentaranya umat Islam. Kalian tahu bahwa darah Muslimin, harta dan tanah mereka tergantung pada perjuangan kalian. Tidak ada orang Islam yang mampu menghadapi musuh itu selain kalian semua. Kalau kalian lari, salibis akan segera mencaplok negeri kita. Semuanya dalam tanggungan kalian. Kalian pasti akan ditolong oleh Allah. Wassalamualaikum warahmatullah!”.
Sultan pun duduk, lalu salah seorang pemimpin prajurit bangun, “Tuanku, kami hanyalah budak dan hambamu, engkau sudah memberi makanan kepada kami, telah membesarkan kami, memberi jabatan pada kami. Kami tetap pada posisi kami yang sekarang ada di tanganmu. Demi Allah kami akan selalu membantumu sampai tetesan darah yang terakhir!”
Shalahuddin jadi lega, semangatnya kembali membara, lalu mengundang prajurit untuk makan bersama di kemahnya, setelah itu mereka pergi. Sementara itu pasukan salibis berada di suatu tempat yang tidak jauh dari Al-Quds. Mereka akan kembali melancarkan serangan. Richard terus memompa semangat pasukannya sambil mengingatkan mereka pada peristiwa Hittin. Semangat mereka juga kembali membara.
Sultan sangat senang pada sumpah gurun yang baru saja dilakukannya, namun belum lama berlalu berita buruk kembali datang padanya. Sebagian pembesar Muslimin yang tidak hadir pada acara bai’at itu kembali membangkang. Mereka sepakat dengan orang yang berpendapat bahwa tidak ada masalah kalau Al-Quds diserahkan saja pada musuh. Mereka tidak mau terlibat dalam usaha memelihara kota itu. Pemimpin pemberontak beralasan bahwa mereka melakukan itu agar ia dan prajuritnya tidak mengalami penderitaan sebagaimana yang terjadi di Akko.
Shalahuddin jadi serba salah, sungguh tidak disangka kalau di kalangan umat Islam dan Arab ada yang mengeluarkan pendapat yang menghina agama dan tanah airnya sendiri.
Pada saat itu Ibnu Syidad berkata pada Shalahuddin, “Tuanku, kalau engkau mau, saya akan mengeluarkan suatu pendapat dalam hal ini.”
“Apabila seseorang mengalami kesulitan lalu tidak mampu menuntaskan masalah itu, alangkah baiknya kalau ia kembali kepada Tuhannya. Hari ini hari jumat, hari yang paling berkat dalam sepekan, disana terdapat doa yang mustajab. Kita sekarang berada di Al-Quds, tempat yang sangat mulia. Sebaiknya Sultan mandi, bersedekah alakadarnya, lalu shalat dua rakaat antara azan dan iqamat, disitulah Sultan memohon kepada Allah, menumpahkan seluruh urusan padaNya, mengaku kelemahan di depanNya, Semoga Allah mengasihi dan mengabulkan doa itu…!” Ibnu Syidad menasehatkan.
Sultan hanya mengikuti saran tersebut. Begitu azan jum’at berkumandang, Shalahuddin langsung shalat dua rakaat lalu memanjangkan sujudnya, disanalah ia bermunajat kepada Allah, air matanya bercucuran. Setelah shalat jumat sultan keluar dari mesjid Aqsa.
Pagi berikutnya, Shlahuddin mendapatkan kabar bahwa Orang Eropa sedang berselisih pendapat untuk memasuki Al-Quds. Di antara mereka ada yang ingin menyerang Mesir dahulu. Akhirnya mereka terpecah dalam tiga ratus pemimpin kecil yang dikomando oleh dua belas orang atasan, dan keseluruhan mereka berada di bawah tiga orang pemimpin besar. Ketiga pemimpin besar itu memutuskan sesuatu sesuai dengan keinginannya masing-masing. Akhirnya mereka sepakat untuk meninggalkan Al-Quds dan pindah ke Ramla, tidak seorangpun terdengar membantah keputusan itu. Sultan sangat gembira, begitu juga dengan Kaum Muslimin. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar…!
Mungkin inilah peristiwa aneh yang terjadi dalam sejarah peperangan, disana seorang pemimpin cerdik dan gagah berhadapan dengan pemimpin yang mengaku lemah di hadapan Allah Ta’ala.
Mungkin ini juga keanehan yang terjadi pada seorang pemimpin, mengadu pada Khaliqnya sebelum menyerang musuh, semoga Allah menjadikan kemudahan setelah kesulitan, semoga Allah menciptakan peristiwa baru setelah itu.




BAGIAN KELIMA BELAS
PERDAMAIAN RAMLA


Di dalam sebuah buku yang mengisahkan sejarah Inggris disebutkan sebuah kisah unik yang terjadi di kalangan pasukan salibis. Penyebabnya adalah karena Shalahuddin mau menikahi anak sepupu dari Richard Coeur de Lion (Si Hati Singa). Ketika berita itu tersebar luas di kalangan orang Eropa, wanita itu jadi sangat khawatir, karena ia tahu bahwa agama Kristen tidak membolehkannya kawin dengan lelaki Muslim.
Itulah kisah yang tercantum dalam salah satu buku karangan seorang penulis Inggris. Dan itulah awal mula sejarah hubungan baik antara Muslimin dan Salibis. Hasil dari peristiwa itu adalah terjalinnya hubungan baik antara Richard dan Malik Adil, salah seorang saudara Shalahuddin. Ada yang mengatakan bahwa saling percaya itu terjadi berkat usaha Si Hati Singa yang akhirnya menjadi salah satu penyebab berlangsungnya perdamaian antara kubu yang selama ini selalu bermusuhan.
Richard terkenal sebagai seorang raja yang sangat cerdik. Dia tidak hanya berperang dengan kekuatan senjata. Tapi ia menggunakan kekuatan pikirannya. Kadang-kadang dengan kekerasan. Richard datang dari Inggris setelah mengetahui secara sempurna bagaimana sebenarnya akhlak Shalahuddin, makanya dengan mudah ia mampu menyesuaikan diri dengan keadaaan itu.
Di antara taktik yang dipakai Si Hati Singa sejak pertama kali menginjak kakinya di timur adalah menghormati Sultan Shalahuddin dengan sebaik-baiknya, karena ia tahu bahwa Sultan akan membalas kebaikan lebih baik daripada yang diberikan padanya.
Richard berusaha membujuk Shalahuddin melalui perantaraan saudaranya Malik Adil, ia mengenal Malik Adil sedikit lebih lunak dibandingkan Shalahuddin serta lebih bijak dalam menyelesaikan masalah. Dengan cara inilah Richard berusaha untuk mendekati Sultan.
Saling percaya sudah terjalin baik antara Richard dan Malik Adil. Sampai-sampai ia memanggilnya dengan ‘akhi’ atau ‘kawanku’. Pada suatu hari ia mengundang Malik Adil ke penginapannya di perkemahan orang Eropa. Mereka berbicara panjang lebar tentang perang dan perdamaian sampai akhirnya Richard menawarkan satu solusi untuk mengakhiri perang dan terjalinnya perdamaian.
Melalui penerjemahannya, si Hati Singa berkata, “Saudaraku, sudah lama perang berkecamuk, saya khawatir itu akan terus berlangsung sampai kita tidak tahu akhirnya. Di sini sudah berkumpul seluruh raja-raja Eropa, mereka tidak akan kembali ke negaranya sebelum memperoleh hasil, sebaiknya Shalahuddin menyerahkan negeri-negeri pantai yang ditaklukkannya kepadamu, sebagaimana saya akan menyerahkan jabatan saya kepada saudari saya yang ada disini dan sekarang berkuasa sebagai ratu di pulau Sicilia, lalu kamu menikah dengannya. Lalu Al-Quds kalian pimpin berdua, dengan syarat kalian harus bersikap netral. Kalian membebaskan Muslimin demikian juga berikan hak pada seluruh orang Kristen untuk memasuki kota tersebut. Kemudian kita saling menukar tawanan, dan salib salabut yang di rampas tempo hari dikembalikan kepada orang Eropa, dengan demikian perang akan berakhir.
Malik Adil menawarkan pendapat itu pada Shalahuddin. Sultan segera tahu bahwa itu hanyalah siasat licik dari Richard. Keesokan harinya datang berita bahwa kebanyakan orang Eropa tidak setuju dengan pendapat tersebut Karena Richard tidak punya hak untuk menikahkan saudarinya dengan orang Muslim tanpa izin langsung dari pendeta.
Richard tidak membantah ketidaksetujuan pengikutnya, akhirnya ia mengirimkan surat kepada Malik Adil dan mengabarkan bahwa ia sudah mengirim utusan ke Eropa untuk meminta izin dari pendeta agar merestui perkawinan itu. utusan akan kembali enam bulan mendatang. Kalau pendeta setuju, maka perkawinan akan diresmikan, kalau tidak, Richard akan mengawinkan Malik Adil dengan sepupunya yang masih perawan. Izin dari pendeta hanya diperlukan bagi wanita janda sedangkan perawan keluarga berhak mengawinkannya di mana saja dan kapan saja.
Nampaknya Richard benar-benar serius dengan pendapatnya. Ia yakin bahwa itulah jalan pintas untuk mengakhiri peperangan antara dua pihak. Itulah solusi terbaik dalam masalah Al-Quds, karena pendapat itu menjaga hati kedua pihak dan terjalinnya toleransi antar umat beragama. Begitulah pendapat sebagian ahli sejarah. Namun di balik semua itu, salibis memperoleh keuntungan besar yaitu Al-Quds, tanpa pengorbanan yang sesuai.
***
Usaha Richard untuk mengawinkan Malik dengan saudarinya telah gagal, namun ia belum kehilangan cara. la menempuh cara baru. Richard mengirim hadiah yang sangat besar kepada Shalahuddin, lalu Shalahuddin membalasnva dengan yang lebih banyak dari itu. Seterusnya Richard menulis sepucuk Surat kepada Sultan, “Wahai raja agung Engkau sudah tahu bahwa Muslimin dan Orang Eropa sudah porak-poranda. Negeri-negeri juga sudah hancur berantakan. Peristiwa ini sudah mencapai puncaknya. Permasalahan yang masih ada sekarang hanyalah Al-Quds, salib dan negeri-negeri. Al-Quds itu tempat ibadat kami. Kami tidak akan mundur selangkah pun walaupun yang tersisa hanya seorang di antara kami. Sedangkan negeri, kembalikan kepada kami mulai dari Jordan, dan salib itu bagi kalian hanyalah kayu tua tidak berharga, namun bagi kami hal itu sangat berharga. Hendaklah Sultan mengembalikannya kepada kami. Kita akan sama-sama berhenti dari kelelahan ini. Kami akan segera kembali ke negara dan pemimpin kami!
Setelah membaca surat itu, Shalahuddin membalas, “…Adapun Al-Quds, adalah milik kami sebagaimana milik kalian juga, perhatian kami ke sana lebih besar dibandingkan dengan perhatian kalian. Itulah tempat mikrajnya Nabi kami Muhammad, dan tempat berhimpunnya para malaikat. Tidak pernah terbayang kalau kami akan mundur darinya. Sedangkan negeri-negeri, itu memang negeri kami sejak dahulu kala. Penguasaan kalian ke atasnya hanyalah disebabkan kelemahan Muslimin di sana pada saat itu. Adapun salib, menghancurkannya adalah ibadah bagi kami, Kami tidak akan menyisakannya kecuali kalau di sana terdapat kemaslahatan bagi Islam dan itu lebih baik daripada ibadah itu sendiri.”
Pada saat itu ketegangan hebat terjadi antara pemimpin Eropa yang datang dari negara mereka atas nama perang salib, terutama masalah perebutan kembali kota suci Al-Quds. Mereka kembali terpecah kepada dua kelompok besar yang saling bertentangan. Phillipe memutuskan kembali ke negaranya. Tinggallah Richard Si Hati Singa sendirian di medan perang. Menyadari akan nasib yang akan menimpanya ditambah lagi dengan isi surat Shalahuddin, dia mengirimkan surat lain kepada Sultan,
“Wahai Sultan agung!
Ini keponakan saya, saya sudah memberikan jabatan baginya dan sekarang saya menyerahkannya kepadamu agar ia menjadi bawahan sekaligus prajuritmu. Kalau saja engkau perintahkan mereka untuk bunuh diri, sungguh mereka akan melakukannya. Sekelompok rahib sudah memohon darimu beberapa buah geraja. Alangkah bakhilnya hatimu. Lalu saya meminta sebuah gereja saja melalui surat, namun engkau tidak menghiraukannya. Kalau saja engkau memberikan kepadaku sebuah gereja tua, saya pasti akan menerimanya.”
Setelah membaca surat itu, Sultan mengumpulkan seluruh ahlu syura dan menanyakan jawaban apa yang harus diberikan pada Richard. Semuanya mengusulkan dengan cara terbaik dan lemah lembut. Sultan berpaling ke arah Bahauddin bin Syidad lalu berkata, “Demi Allah, sekarang saya tidak menyukai perdamaian, tidak akan melakukannya dan tidak menyenanginya”.
“Kenapa tuanku…?” Tanya Ibnu Syidad.
“Karena saya tahu, kapan saja kita berdamai dengan mereka, kita tidak pernah aman dan selamat dari ancaman dan kedengkian mereka. Kalau saya mati, saya yakin, kita akan sangat sulit menyatukan umat Islam seperti sekarang. Kalau terkumpul juga, itupun terlambat sampai orang Eropa menjadi kuat kembali. Sebaiknya kita terus saja berjihad dan bersabar sampai mereka terusir dari seluruh wilayah pantai atau kita mati karenanya!”
Kembali Sultan bermusyawarah dengan ahlu syura, setelah agak lama bertukar pikiran, dengan terpaksa Sultan mengikuti kehendak mereka, lalu memerintahkan untuk menulis surat balasan kepada Richard.
“Wahai raja, kalau kamu mau berkerjasama dengan kami, balasan kebaikan adalah kebaikan. Keponakanmu tidak berbeda dengan anakku sendiri, dan kamu akan tahu sendiri apa yang akan saya lakukan terhadapnya. Saya memberikan kepadamu gereja yang paling besar, yaitu gereja qiyamah. Adapun sisa-sisa wilayah pantai yang sekarang berada di bawah kekuasaanmu, tetaplah di tanganmu. Yang ada di tangan kami adalah hak kami. Yang terletak di pertengahan, kita bagi menjadi dua bagian. Sedangkan Asqalan, biarkan porak-poranda, bukan untuk kami, tidak juga untuk kalian. Wassalam!”
Richard sangat marah membaca surat itu karena Shalahuddin membiarkan Asqalan berantakan, sedangkan kota itu sangat strategis, itulah gerbang sekaligus kuncinya Al-Quds. Siapa saja menguasai Asqalan berarti dia sudah memiliki Al-Quds. Makanya Richard tidak putus asa untuk berusaha agar menguasai kota penting itu. Dia kembali mengirimkan surat yang isinya antara lain,
“…Kapan saja engkau menduduki kota itu, engkau terpaksa harus menghabiskan musim dingin di tempat yang jauh darinya dan jauh dari medan pertempuran”.
Sultan tersenyum sinis pada isi surat tersebut, lalu membalas, “…Adapun masuk ke kota, itu adalah hal yang mustahil. Mengenai musim dingin, jika engkau mudah menghabiskannya di sini, itupun jauh dari keluarga dan anakmu, kalian dipisahkan oleh lautan sejauh dua bulan perjalanan. Apakah tidak mudah bagi saya untuk menghabiskan musim dingin di negeri saya sendiri? Lagi pula saya didampingi anak dan istri. Segala kebutuhan datang ke tepat kami. Saya sudah tua. Saya sudah membenci kehidupan dunia. Saya sudah puas menikmatinya. Prajurit-prajurit saya di musim panas tidak bertugas di musim dingin. Saya yakin bahwa saya berada dalam ibadah yang paling besar. Saya akan tetap bertahan sampai Allah memberikan pertolongan kepada siapa saja yang dikehendaki Nya.”
Setelah membaca balasan Sultan, Richard memohon untuk bertemu dengan Malik Adil. Sultan tidak mencegahnya. Adil menjumpai Si Hati Singa yang sedang berada di kemahnya. Richard menyambut dan menghormatinya dengan penuh kebesaran walaupun perasaannya sangat kecewa saat itu.
“Saudaraku, berapa kali lagi saya harus berunding dengan Sultan sedangkan dia tidak pernah memenuhi keinginan saya. Sebenarnya saya mau segera kembali ke negera saya, namun sekarang keadaan sudah berubah, musim dingin sudah tiba, saya ingin tetap tinggal di sini, ” Ujar Richard.
Adil menjawab, “Ada apa dengan Sultan kalau kamu berlama-lama di sini. Kamu sudah berunding dengannya sesuai dengan caramu. Kamu sudah berkali-kali mengeluh padanya, dan dia tidak pernah berubah dari apa yang sudah disampaikan padamu. Sebaiknya kamu meminta darinya selain Asqalan, mungkin dia akan mengabulkannya.”
“Kalau begitu saya mau kota Jaffa!” Sambut Richard penuh harap. Malik Adil menyampaikan keinginan Si Hati Singa tersebut kepada Shalahuddin. Sultan tidak keberatan untuk mengabulkan permohonan itu. Namun sekarang Shalahuddin memenuhi keinginannya. Akan tetapi lama-kelamaan, Richard kembali teringat pada Asqalan. Melalui utusan-utusannya ia berkata, “Pergilah kepada Sultan! ucapkan selamat padanya. Kami senang dan puas dengan kota ini, kami juga menghargai kehormatanmu. Kalau kamu mau menambahkan itu adalah hak kamu. Kalau tidak, kami rela dengan keputusanmu.”
Akhirnya perdamaian disetujui. Seluruh kota tepi pantai dari Sur sampai ke Akko adalah hak orang Eropa. Sedangkan Asqalan tetap hancur. Kaum Muslimin bebas tinggal di wilayah kekuasaan Eropa. Dan perang antara kedua pihak dihentikan selama tiga tahun penuh.
Itulah perdamaian Ramla yang sangat terkenal dalam sejarah yang ditandatangani langsung oleh Shalahuddin lalu diikuti oleh raja-raja dan pembesar daerah yang bersangkutan. Seorang utusan membawa teks perjanjian itu kepada Richard yang masih sakit. Dia hanya berkata: “Saya telah berdamai dan ini tangan saya!”
Sultan segera memerintahkan agar diumumkan ke seluruh pelosok negeri bahwa, “Sesungguhnya perdamaian sudah terwujud. Kalau mereka mau masuk negeri kita, dipersilakan. Jalan ke Haji sudah kembali terbuka dari arah Syam. Barangsiapa yang ingin menunaikan haji pergilah di dalam keberkatan dari Allah!”




BAGIAN KEENAM BELAS
DI JALAN MENUJU SURGA


Shalahuddin sudah memenuhi persyaratan perdamaian, lalu bersama beberapa prajurit Al-Quds menuju Damaskus, kota kesayangan dan kota kenangan masa kecilnya. Orang-orang yang mengetahui kehadiran Sultan, berbondong-bondong datang untuk melihatnya. Begitu juga dengan penyair, ulama dan fuqaha dari segala penjuru datang dengan tujuan sama yaitu berjumpa dan duduk bersama Sultan agung Shalahuddin.
Qadhi Fadhil berada jauh dari Damaskus, Sultan segera mengutus orang yang menjemputnya. Ketika sampai di tempat itu Sultan berdiri dan memberi hormat. Itulah perjumpaan hangat yang melinangkan air mata, mereka sudah lama tak bertemu karena sibuk berperang dengan kaum salib.
Sebagian sahabat lama Sultan mendirikan istana di Damaskus, setelah siap, mereka mengundangnya untuk menetap di sana. Sultan hanya tersenyum dan menatap sahabatnya sambil berkata, “Rumah itu tidak cocok untuk saya selama-lamanya. Rumah saya adalah kemah bocor yang bergoyang ketika ditiup angin, itu lebih saya cintai daripada istana dan seluruh perhiasan dunia.”
Seluruh hadirin terjkejut mendengar jawabannya. Mereka segera tahu rahasia kemenangannya di medan juang walaupun sendirian menghadapi raja-raja Eropa yang datang dari seberang laut atas nama perang salib.
Sultan diiringi oleh Qadhi Fadhil dan Ibnu Syidad keluar menuju salah satu taman Damaskus, tidak lupa juga anak-anaknya diikutsertakan untuk bersama-sama bersantai dan berbagi rasa. Di pintu gerbang terdapat beberapa utusan Eropa, mereka seperti biasa langsung mudah dikenal dengan ciri-ciri mereka yang mencukur jenggot, memelihara kumis dengan model rambut khas Eropa dan wajah mereka yang terlihat merah. Anak-anak yang ikut bersama Sultan sangat terkejut melihat wajah manusia yang belum pernah terlihat sebelumnya itu, mereka menjerit ketakukan. Lalu Sultan menyuruh utusan itu menjauh sampai anak-anak tenang kembali.
Sultan kembali memanggil mereka dan minta maaf atas peristiwa yang baru saja berlalu, setelah segalanya beres, mereka segera meniggalkan tempat itu.
Qadhil Fadhil baru saja kembali, Shalahuddin bertanya tentang kabar jemaah haji. “Mereka akan masuk ke Damaskus besok siang,” Jawab Fadhil. Sultan sangat gembira mendengar berita itu, lalu bersiap-siap untuk berjumpa dengan mereka. Jalan-jalan dirapikan dan dihiasi dengan bunga-bunga indah.
***
Beberapa malam setelah itu, Sultan merasakan sesuatu yang kurang beres di tubuhnya. Terpaksa ia terus bergolek di atas kasur, Qadhi Bahauddin bin Syidad bercerita, “Sultan menjadi malas, suhu badannya memanas, nampaknya ia sedang dilanda demam. Saya dan Qadhi Fadhil menjumpainya begitu juga anaknya Malik Afdhal. Kami duduk agak lama di sampingnya. Sultan terus merintih sepanjang malam, bicaranya semakin membaik begitu waktu zuhur hampir tiba. Kami pun keluar sambil terus ingat padanya.
Pada hari kedua, Sultan mengundang kami untuk makan bersama anaknya, setelah makanan terhidang tanpa sengaja Malik Afdhal duduk di tempat ayahnya yang kebetulan kosong, kami kurang senang melihat hal itu, akhirnya semua orang menangis melihat posisi Sultan sudah diganti oleh anaknya.
Mulai saat itu sakitnya makin bertambah, saya dan Qadhi Fadhil berkali-kali menjenguknya, sampai akhirnya tubuh Sultan manjadi sangat lemah, kami tetap melayaninya, punggungnya kami sandarkan di bantal, segelas air ditawarkan untuk diminum setelah meneguk ramuan obat, Sultan mengeluh karena air itu terlalu panas, kemudian air lain disodorkan, sultan mengeluh terlalu dingin, namun Sultan tidak sedikitpun marah atau membentak, beliau hanya berkata, “Bolehkah seseorang membuatkan air yang sesuai?”
Saya dan Fadhil keluar dari tempat itu sambil menangis, Fadhil berkata pada saya, “Lihatlah akhlaknya yang kini sudah hilang dari kaum Muslimin. Kalau saja peristiwa itu terjadi pada orang lain, mereka pasti akan memecahkan mangkok di kepala pelayannya”.
Pada hari yang kesembilan, beliau tidak mampu lagi minum obat dan akhirnya jatuh pingsan. Keadaan negeri seakan mengancam, rakyat sangat gelisah, saya dan Fadhil merawatnya sekitar sepertiga malam, kami melihat manusia berkerumunan di luar benteng, mereka menantikan kami keluar untuk mendapatkan berita tentang kesehatan Sultan dan kami.
Keadaan Sultan sudah betul-betul parah. Para tabib tidak mampu lagi berbuat apa-apa, mereka pun ikut bersedih. Ketika Malik Afdhal melihat keadaan ayahnya yang tidak ada harapan lagi untuk hidup, ia segera mengajak manusia bersumpah di depan para hakim. Saya menyusun teks sumpah itu yang isinya sumpah setia kepada Sultan seumur hidupnya dan kepada anaknya setelah wafat.
Pada tanggal 27 Safar 589 Hijriah, kekuatan Sultan sudah hilang total, Malik Afdhal meminta kami untuk tetap bersamanya, sedangkan Fadhil berpendapat lain. Manusia masih menunggu kami di luar benteng, kalau kami tidak menjumpai mereka dikhawatirkan terdapat suara-suara miring di dalam negeri. Akhirnya kami turun juga dan Abu Ja’far menggantikan kami menemani Sultan di dalam benteng.
Sultan tidak lagi sadarkan diri, di samping Abu Ja’far melantunkan ayat-ayat Qur’an, ketika bacaannya sampai pada ayat, “Huwallazi lailahailla huwa ‘alimul gahibi wasysyahadah…”. Sultan terdengar bersuara, “Benar, benar…”. Ketika sampai ayat, “Lailahailla huwa alaihi tawakkaltu”. Sultan bertahlil lalu ruhnya melayang menjumpai Tuhannya.
Itulah hari naas yang belum pernah menimpa Kaum Muslimin sejak berakhirnya Khulafaurrasyidin. Benteng-benteng, negeri dan dunia ikut bersedih.
Manusia bersiap-siap untuk menguburkan Shalahuddin. Mereka menjumpainya ke dalam benteng Damaskus. Mereka semua menangis menyaksikan pemakaman itu. Qadhil Fadhil turun ke liang lahat sambil memegang sebilah pedang lalu meletakkannya di samping Shalahuddin, “Dengan ini engkau bersandar menuju surga,” Ucap Fadhil yang kemudian menginggalkan tempat itu.
***
Berita kematian Shalahuddin tersebar luas di Eropa, mereka mulai menulis berita kematian itu. salah seorang penulis berpesan kepada bangsa Eropa dalam tulisannya, “Engkaulah pembawa benderaku di medan perang, engkau juga benderaku setelah mati, jadikan ia sehelai kain basah, sangkutkan pada ujung tombak yang panjang, bawalah bendera itu keliling Damaskus, seluruh manusia menyaksikannya, katakan pada mereka, ini dia raja di raja, ketika mati tidak mengambil melainkan sehelai kain, potongan kain yang dipakai sebagai pembungkusnya. Kain itu sudah basah seperti kain di tanganku ini, seluruh raja yang tunduk kepada Shalahuddin, seluruh kekayaan yang ada di tangannya tidak mampu dibawanya walau sedikit kecuali tiga hasta kain kafan.”

BAGIAN KETUJUH BELAS
INILAH KSATRIA


Ada tiga orang yang bisa dipercaya, yang bisa dijadikan rujukan kisah Shalahuddin, karena mereka bergaul akrab dengannya, merekalah orang yang paling tahu seluk-beluk hidupnya, merekalah Qadhi Fadhil, Qadhi Bahauddin bin Syidad dan seorang penulis sekaligus penyair Imaduddin Asfahani. Kalau anda membaca kisah Shalahuddin dari tulisan mereka, anda akan mendapatkan kehebatannya, anda juga akan yakin dan percaya bahwa pimpinan orang timur tidak akan pernah cocok sebelum memiliki jiwa semangat seperti yang dimiliki Shalahuddin, lalu apa rahasia keagungan sultan?
Anda sudah sering membaca kisah perang Shalahuddin, anda sudah cukup kagum pada kehebatan, keberanian dan kesabarannya, sebenarnya itu hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak kebaikan yang ada padanya.
Anda sudah banyak membaca riwayat raja-raja terkenal. Kadang kala anda mengagumi kerendahan dan kemuliaan hatinya, namun anda tidak pernah mendengar kecuali hanya sedikit, seorang raja yang terlalu pemaaf, sampai dirinya sendiri berada di bawah kekuasaan hukum, tidak pernah membedakan antara diri dan musuhnya, walaupun musuh itu seorang anak yang masih sangat kecil.
Anda sering membaca riwayat seorang penakluk yang mampu menaklukkan raja-raja dalam waktu singkat, namun anda jarang mendapatkan raja yang memimpin penaklukan dengan mengangkat pedang di tangan kanan dan pendapat yang diyakini akan membawa kemenangan di kirinya.
Shalahuddin adalah sosok raja yang menghimpun seluruh sifat itu. Kalau anda mau membandingkan Shalahuddin dengan orang lain, jangan samakan ia hanya dengan seorang pembesar sejarah, tetapi cukuplah bandingkan dengan tiga atau empat orang sekaligus yang masing-masing memiliki keistimewaan tersendiri.
Shalahuddin sangat lincah di medan perang, namun pada detik yang sama ia adalah muslim yang paling taat beragama, dialah raja adil yang tidak membedakan dirinya dengan orang lain, menyamakan hukum antaranya dan rakyat jelata yang paling lemah.
Malah dia memerangi musuh dengan senjata yang paling aneh yaitu akhlak dan perasaan. alangkah indahnya kalau sifat-sifat itu dicontohi oleh orang alim dan diikuti oleh pemimpin dunia saat ini.
Qadhi Bahauddin bercerita, “Pada suatu hari saya berada di dalam ruangan pengadilan di Al-Quds, tiba-tiba seorang syeikh dengan memakai pakaian yang sangat bagus menjumpai saya, namanya Umar, seorang pedagang terkenal, di tangannya terdapat lembaran tulisan yang berisi tentang masalah hukum yang akan ditanyakannya pada saya, saya bertanya, siapa yang bermasalah denganmu”.
“Sultan menawan saya, ini tempat keadilan, kami dengar bahwa kamu tidak akan memihak pada siapa saja,” Jawab lelaki itu.
“Tentang urusan apa kalian berselisih?” Tanya saya.
“Sanqar Khulathi adalah budak saya, saya tetap sabagai tuannya sampai ia meniggal dunia, ia mewarisi harta yang sangat banyak. Akan tetapi Sultan mengambil harta itu. Saya menuntut hak saya,” Jelasnya.
“Berapa lama anda mampu menangguhkan urusan ini?” Saya kembali bertanya.
“Wahai penegak keadilan, jangan tunda lagi urusan ini, ini buktinya bahwa ia masih hamba saya sampai meninggal dunia,” Bantah lelaki itu.
Saya mengambil tulisan itu lalu membaca halaman demi halaman, saya membaca di dalamnya terdapat perhiasan Sanqar Khulathi yang dibeli dari pedagang polan pada hari sekian tanggal sekian san tahun sekian, dan harta tersebut tetap menjadi miliknya sampai dirampas pada tanggal sekian, sedangkan para saksi surat itu belum memperoleh bukti bahwa harta tersebut telah keluar dari hak miliknya .
Saya jadi heran dengan perkara itu, akhirnya saya katakan pada lelaki tersebut, “Urusan ini tidak bisa diselesaikan tanpa kehadiran semua pihak yang berselisih.”
Lelaki itu setuju lalu permisi. Saya menjelaskan perkara itu pada Sultan, lalu Sultan bertanya, “Apakah kamu sudah membaca tulisan itu?”
“Ya, saya lihat silsilah juga bersambung sampai kepada orang-orang Damaskus. Malah yang menulisnya adalah salah seorang penulis saya yang ada di sana, sedangkan para saksi di depan qadhi adalah orang-orang yang sudah makruf”.
Sultan menjawab, “Selamat, tidak ada pilihan lain bagi kami kecuali memanggil lelaki itu, lalu melaksanakan dakwaan sesuai dengan syariat, carilah seorang wakil saya yang mendengar dakwaannya lalu kamu menjadi saksi agar mereka juga mau memenuhi kesaksian mereka. Jangan kamu buka tulisan itu sampai lelaki tersebut tiba di tempat ini!”.
Saya melaksanakan semua itu, saya permisi pada Sultan agar mengizinkan orang itu duduk di depannya, sedangkan saya berada di sampingnya. Sultan turun dari kursi untuk menyamai lelaki itu kemudian berkata, “Kalau kamu punya gugatan, sampaikanlah!”
Lalu lelaki itu mengemukakan gugatannya. Sultan menjawab, “Sanqar Khulathi adalah hamba saya, dia tetap dalam hak milik saya selagi saya belum membebaskannya, dia sudah meninggal dunia, tentu saja harta warisannya menjadi milik saya!”
“Saya punya bukti terhadap gugatan saya, ” Bantah orang itu sambil meminta saya membuka surat, lalu kami membacanya, dan isinya persis seperti dakwaannya.
“Saya juga punya saksi bahwa pada tanggal yang anda sebutkan, Sanqar masih menjadi milik saya di Mesir, saya membelinya bersama delapan orang hamba lainnya setahun sebelum tanggal yang anda sebutkan, dia masih tetap dalam kekuasaan Saya sampai saya membebaskannya”. Bantah Sultan, lalu menghadirkan sekelompok pejabat dan pejuang, mereka bersaksi atas kebenaran dakwan Sultan. Mereka bercerita sebagaimana ceritanya Sultan. Lelaki itu jadi putus asa.
Saya berkata pada Sultan , “Tuanku, sebenarnya orang ini hanya ingin mendapat kasih sayang tuan, dia sudah berhadapan dengan tuan, dia tidak mau pulang dengan tangan hampa,”
“Itu masalah lain!” Jawab Sultan.
Lalu menghadiahkan perhiasan dan harta yang jumlahnya tidak saya ketahui secara tepat.
Lihatlah akhlaknya dalam masalah ini. Sungguh luar biasa, keteguhannya dalam kebenaran serta menahan nafsu dari hak orang lain walaupun saat itu dia sedang berkuasa.
Dalam hikayat lain disebutkan bahwa pada suatu hari bawahannya melempar seseorang dengan sepatu, namun sepatu itu kesasar lalu menghantam tubuh Sultan. Dia hanya memalingkan wajahnya pura-pura tidak tahu agar tidak menyebabkan pelempar segan atau takut. Akhirnya mereka malu sendiri dan menjauh darinya.
Itu yang terjadi di saat negara dalam keadaan damai. Di medan perang, Sultan mengangkut batu dengan tangannya sendiri, memikul tanah di pundaknya. Tidak ada perbedaan antara raja dengan rakyat jelata. Cukuplah peran Hittin menjadi contoh kemuliaan akhlaknya yang tidak dimiliki oleh siapapun pada saat itu.
Musuh telah melupakan segalanya, tapi mereka tidak mampu melupakan kebaikannya, wibawanya dan kepeduliannya terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Suatu hari Shalahuddin mendengar bahwa Richard si Hati singa sedang sakit, tidak ada pilihan lain baginya melainkan mengirim para tabib, obat-obatan dan hadiah-hadiah menarik.
Itulah akhlak yang dimiliki oleh sebagian kecil para bangsawan, akhlak yang memuliakan musuh seperti kawan sendiri. Dengan penilaian mereka dan seluruh manusia, cukuplah kemanusiaan sebagai penghubung antar manusia.***
Tamat

2 komentar:

  1. Kita menghendaki kebangkitan yang benar dan berdiri di atas pencampakan semua akidah, pemikiran atau sistem yang tidak terpancar dari Islam. Kita pun menghendaki kebangkitan yang tegak di atas pelepasan segala hal yang menyalahi Islam sejak dari akarnya. Semua itu tidak akan pernah tercapai, kecuali dengan melanjutkan kehidupan Islam dan mengubah negeri dari dar al-kufr menjadi Dar al-Islam.

    BalasHapus
  2. subhanallah, bahwa sesungguh nya kehidupan yang penuh dengan nuansa keislaman akan membawa kita pada kesempurnaan hidup dan kebahagiaan hidup yang hakiki. aamiin

    BalasHapus

  • RSS
  • Delicious
  • Digg
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube